(Panjimas.com) – “…. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah mencintai orang-orang yang bersih.” (at-Taubah: 108).

Secara naluriah (fitrah), manusia normal menyukai kebersihan. Kebersihan adalah kebaikan yang harus dijaga dan kekotoran adalah keburukan yang harus dihilangkan, begitu naluri umat manusia bersepakat. Islam sebagai agama fitrah sangat menghargai kebersihan. Salah satu contoh isyaratnya adalah ayat di atas yang memuat penghargaan bagi jama’ah Masjid Quba yang begitu sadar diri untuk bersuci dan menjaga kebersihan.

Kebersihan dalam Islam mencakup fisik dan non fisik. Kebersihan hati, pikiran, dan jiwa, harus dijaga. Kebersihan fisik begitu juga. Seperti sudah dibahas di beberapa edisi silam; badan, makanan, pakaian, dan lingkungan; semua penting untuk diperhatikan. Dan semua itu berpengaruh bagi kesehatan.

Salah satu lingkungan yang lekat dengan keseharian manusia adalah hunian. Nah, maka itu Islam sangat memerhatikan kebersihannya. Sebagai pemimpin peradaban, Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam membimbing umatnya untuk menjaga kebersihan hunian. Beliau mengingatkan bahwa ketidakpedulian pada kebersihan hunian adalah rapor merah kaum Yahudi yang harus dihindari.

“Bersihkanlah halaman rumah kalian, karena sesungguhnya orang-orang Yahudi tidak membersihkan halaman rumah mereka!” (Hr. Thabrani).

Sentuhan spiritual beliau gunakan untuk menyadarkan umat akan pentingnya kebersihan. Karena segala aspek kehidupan, tak ada yang dapat dipisahkan dengan keimanan. Dan tindakan apa pun dalam kehidupan, tak akan berarti bila tak didasari iman.

“Sesungguhnya Allah Mahaindah dan mencintai keindahan. Allah Maha baik dan mencintai kebaikan. Allah Mahabersih dan mencintai kebersihan. Karena itu bersihkanlah halaman rumah kalian dan jangan seperti orang-orang Yahudi!” (Hr. Tirmizi).

Mengapa kebersihan hunian sangat penting untuk dijaga? Salah satu alasannya adalah karena ia memiliki pengaruh signifikan terhadap kesehatan penghuni dan tetangga. Macam-macam hewan yang dapat membawa penyakit menyukai tempat-tempat yang kotor. Tikus, nyamuk, dan lalat, misalnya. Penjagaan kesehatan melalui kebersihan hunian akan memberi manfaat kolektif. Tak hanya keluarga, tetangga dekat pun memeroleh manfaatnya. Islam memang sangat memedulikan nasib tetangga.

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (Hr. Bukhari),

“Sebaik-baik sahabat adalah yang paling baik kepada sahabatnya, dan sebaik-baik tetangga adalah yang paling baik kepada tetangganya.” (Hr. Tirmizi).

Kunci kebersihan hunian menurut seorang pemerhati lingkungan adalah tiadanya barang tak berguna di sana. Rumah seluas dan semegah apa pun akan kotor, kumuh, dan semrawut apabila di dalam atau luar ruangannya terdapat banyak barang tak berguna.

Banyak orang terbiasa membiarkan botol, kaleng, dan kardus bekas; juga sepatu, sandal, tas, dan lainnya yang sudah rusak; di rumah. Kalau saja itu semua disingkirkan, dalam arti dibuang di tempatnya atau dijual ke tukang rongsokan, akan lebih bermaslahat, karena berkesampatan didaur ulang menjadi barang baru yang bisa diambil manfaatnya. Untuk barang tak berguna yang dimungkinkan kelak akan diperlukan, sebaiknya disimpan yang rapi yang tidak memungkinkan menjadi sarang hewan-hewan pembawa penyakit seperti disebut di atas; juga hewan berbisa seperti ular, kelabang, dan kalajengking.

Lebih luas lagi, masalah sampah harus diberi perhatian serius. Penempatannya tak boleh asal saja, kita harus memikirkan dampak jangka panjangnya. Sampah anorganik yang dibakar di dekat hunian akan mengganggu kesehatan dan mencemari udara. Setiap keluarga hendaknya melakukan pemilahan sampah rumah tangga masing-masing. Memisahkan antara organik dan anorganik dan menempatkannya pada tempat yang semestinya. Sampah organik dalam jumlah wajar tidak menjadi persoalan serius, ia bisa diolah menjadi kompos dengan alat sederhana yang bisa dibuat sendiri dari botol bekas. Hasilnya adalah pupuk padat dan cair yang bisa diterapkan untuk tanaman di sekitar hunian. Cara orang desa zaman dulu juga perlu dicontoh oleh kita yang punya pekarangan cukup luas. Sebuah lubang galian dibuat untuk menampung sampah organik yang nantinya akan terurai secara alami menjadi kompos padat.

Sampah rumah tangga yang menjadi persoalan serius adalah jenis anorganik. Idealnya, sampah jenis ini harus diangkut sampai tempat pembuangan akhir (TPA). Untuk sampah yang punya nilai ekonomi, bisa dikumpulkan tersendiri untuk dijual, diberikan ke pemulung, atau disetorkan ke bank sampah. Kesadaran masyarakat untuk membuat dan mengelola bank sampah juga sangat bermanfaat guna menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Dan pemecahan masalah sampah yang paling jitu adalah reduce: menekan produksi sampah. Caranya adalah dengan hijrah budaya. kaum Muslim hendaknya jadi yang terdepan dalam menumbuhkan budaya meminimalisasi timbulnya sampah. Salah satunya dengan mengurangi pemakaian kantong plastik saat belanja.

Akan panjang bila kita membahas kebersihan hunian. Hal mendasar yang mesti kita sadari adalah bahwa kebersihan hunian adalah PR sangat penting dalam kehidupan. Ia harus serius diperhatikan oleh kaum beriman. Rutinitas bersih-bersih rumah jangan dijadikan agenda tambahan, ia harus menjadi salah satu agenda pokok yang untuk menunaikannya dengan baik diperlukan ilmu. Kaum Muslim harus mau belajar ilmu lingkungan. Harus disadari juga bahwa membersihkan hunian adalah pekerjaan mulia, ibadah kepada Allah sunhanahu wa ta’ala. Jadi, semua anggota keluarga jangan pernah merasa tak bertanggung jawab atasnya dan tak mau turun tangan melaksanakannya! Wallahu a’lam. [IB]