(Panjimas.com) – Iskandar Waworuntu, seorang Muslim pengkaji dan penerap gaya hidup selaras dengan alam, suatu hari mengingatkan penulis bahwa kesalahan pertama kali yang dilakukan manusia adalah peristiwa mulut. Dahulu kala di dalam surga, Adam dan Hawa ‘alaihimussalam melanggar larangan Allah subhanahu wa ta’ala: makan buah larangan yang oleh sebagian ulama disebut buah khuldi.

“Dan (Allah berfirman), ‘Hai Adam, tinggallah engkau bersama istrimu di surga, serta makanlah olehmu berdua apa saja yang kalian suka. Tetapi janganlah kalian berdua mendekati pohon yang satu ini. (Apabila mendekati), kalian berdua termasuk orang-orang yang zalim.’ Lalu setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan aurat mereka (yang selama ini tertutup). Dan (setan) berkata, ‘Tuhan melarangmu mendekati pohon ini hanya agar kalian berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (di dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya aku  benar-benar termasuk penasihat kalian.’ Dia (setan) membujuk mereka berdua dengan tipu daya. Ketika keduanya telah mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah aurat mereka, dan mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kalian dari pohon itu, dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian?’ Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.'” (al-A’raf: 19-23).

Sejarah Adam dan Hawa ini, bila direnungkan dalam-dalam akan menjadi pengingat tajam bahwa kita harus sangat berhati-hati dalam mengonsumsi pangan. Tak segala apa saja makanan dan minuman yang bisa disantap boleh dinikmati sesuka hati. Kaum beriman harus memerhatikan dua prinsip pangan yang dimiliki Islam, karena keduanya akan membawa dampak bagi masa depan.

“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 168).

Setan memanglah biang keladi kerusakan. Setelah berhasil menggelincirkan moyang kita, Allah subhanahu wa ta’ala kembali mengingatkan kaum beriman bahwa setan adalah musuh yang nyata. Ia akan senantiasa memerdaya kita agar tak mengindahkan prinsip halal dan tayib. Bila kita termakan bujuk rayunya, terjadilah pemborosan yang sangat mendasar: aktivitas mengasup pangan tidak berbuah manfaat, malah sebaliknya, berakibat buruk terhadap si bersangkutan dan bahkan pula pihak lain yang tak tahu apa-apa. Dan kelakuan itu pun mengantarkan pelakunya menuju predikat yang sangat hina: saudara setan.

“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan. Dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (al-Isra’: 27).

Pangan haram membuat si pengonsumsinya akan tertimpa bencana tidak dikabulkannya doa. Walau ia berdoa dengan penuh harap kepada Allah ta’ala, hasilnya sia-sia belaka, selain di akhirat akan mendapat siksa. Dan pangan yang tidak tayib, keberkahannya hilang sebagian atau seluruhnya. Seperti juga dikatakan Iskandar, kandungan gizi pangan sebenarnya hanya berdaya 15 % dalam memengaruhi tubuh. Yang 85 % adalah keberkahannya. Tapi, masih menurut pendiri Bumi Langit Institute, di era modern ini, sering kali proses budidaya dan pengolahan pangan mengakibatkan keberkahan itu hilang. Yaitu dengan digunakannya zat-zat sintetis di dalamnya.

Sekali lagi, kesalahan fatal yang pertama kali terjadi dalam sejarah manusia adalah peristiwa mulut dalam konteks mengasup pangan. Jadi, pertanyaan besar yang sangat perlu kita ajukan kepada diri dan umat Islam adalah: bagaimana gaya berpangan kita saat ini? Sudahkah prinsip halal dan tayib sudah benar-benar kita perhatikan? Bila ternyata jawabannya sungguh memrihatinkan, mari bersama segera lakukan perbaikan!

Wallahu a’lam. [IB]