(Panjimas.com) – Orang mana yang tak ingin kebahagian membersamai hidupnya? Tentu siapa pun ingin menuntaskan usia dalam bahagia. Bahkan sufi pun, yang merelakan diri tanpa gelimang dunia, yang orang melihatnya tampak sengsara, mereka tempuh jalan itu pun guna menggapai bahagia. Bahagianya sufi memang beda dengan kita. Bahagia mereka berada dalam potret sengsara.

Hematnya, setiap manusia yang “wajar”, ingin hidup bahagia. Dan manusia beriman ingin mendapatkan kebahagiaan itu di dunia dan di alam setelahnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengajari kita lafaz doa sebagaimana Allah ta’ala ajarkan dalam firmanNya:

“Di antara mereka ada orang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.'” (al-Baqarah: 201).

Salah satu dari sekian faktor yang mengantarkan manusia kepada bahagia adalah kesehatan: kesehatan jiwa dan raga. Buya Hamka dalam buku Tasawuf Modern (cet. V, Penerbit Republika, 2016, hlm. 161) mengatakan bahwa jiwa yang sehat akan memancarkan Nur, dan kesehatan raga akan membuka pikiran dan mencerdaskan akal, pun menyebabkan bersihnya jiwa.

Kebersihan pangkal kesehatan: itulah kata mutiara yang di Sekolah Dasar sudah diajarkan. Nah, guna mendapatkan kesehatan jiwa, caranya adalah menjaga kebersihannya. Dan cara membersihkan jiwa, Islam sudah menjelaskan tatacaranya, dan mewajibkan setiap Muslim memraktikkannya. Adalah shalat lima waktu.

“‘Tahukah kalian seandainya ada sungai di dekat pintu rumah salah seorang dari kalian lalu ia mandi dengan air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit jua?’ Para shahabat menjawab, ‘Tak akan tersisa sedikit pun kotorannya.’ Beliau bersabda, ‘Begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.'” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Dalam sebuah ayat dikatakan bahwa shalat bermanfaat menjauhkan pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Orang yang sehat jiwanya tentu akan jauh dari kelakuan tersebut.

Guna menjaga kesehatan raga, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberi teladan berupa gaya hidup, yang di antaranya adalah pola makan. Beliau hanya mau mengonsumsi pangan yang halal dan tayib, serta secukupnya saja.

“Wahai manusia, makanlah dari (makanan) yang halal dan tayib yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 168),

“…. Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” (al-A’raf: 31).

Kedisiplinan menahan diri dari mengumbar selera kelezatan adalah kiat hidup sehat yang khas dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam.

“…. Sesungguhnya cukup bagi anak Adam untuk makan sekadar beberapa suap makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya. Dan apabila diperlukan maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk udara.” (Hr. Ibnu Majah, an-Nasa’i, dan Tirmidzi).

Tentunya untuk memeroleh jiwa dan raga yang prima, tak sebatas itu saja jalannya. Islam punya ilmu yang sangat luas mengenai hal itu. Tapi, andai kita bisa dengan sangat baik dan istiqamah mengamalkan dua hal itu saja, insya Allah hasilnya nyata akan bisa kita rasa, bukan sebatas cerita. Dan, bahagia akan selalu lekat di sepanjang usia. Semoga!

Wallahu a’lam. [IB]