(Panjimas.com) – Dalam ilmu kesehatan dikenal istilah “segitiga sehat”. Adalah makan, olahraga, tidur. Ketiga hal itu bila dilakukan secara proporsional, akan membuahkan kesehatan jasmani dan rohani yang prima. Tulisan ini akan mendalami salah satu dari ketiga faktor di atas, tidur.

Hasil penelitian selama enam tahun Daniel F. Kripke, pakar psikiatri California University, menunjukkan bahwa orang yang tidur enam sampai tujuh jam sehari berumur lebih panjang ketimbang yang tidur delapan jam sehari. Namun, kurang tidur terus menerus, semisal empat jam sehari setiap hari, juga tak baik bagi kesehatan. Hal ini dikatakan oleh peneliti tidur, Donald L. Bliwese, Ph.D, dari Atlanta’s Emory University. Jadi artinya, tidur tak boleh berlebihan dan juga tak boleh kekurangan. Cukup, sebagaimana karakter Islam: pertengahan.

Islam mengajarkan umatnya berangkat tidur segera setelah shalat Isya’, dan bangun segera sebelum Subuh, akhir malam. Sebuah riwayat mengisahkan tindakan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu kepada shahabat yang ngobrol usai shalat Isya’. Ia menyapa dengan cambuk sembari bertanya, “Apa kalian lebih suka ngobrol di awal malam lalu tidur di akhirnya?”

Menurut ilmu kesehatan lagi, antara sekira jam sembilan sampai tengah malam adalah masa di mana tubuh mengalami rehabilitasi. Dan rehabilitasi akan berjalan optimal kala tubuh dalam keadaan rileks, istirahat. Dan bentuk istirahat paling sempurna adalah tidur lelap.

Namun begitu, bukan berarti kita mutlak tak diperkenankan beraktivitas di malam hari. Pada kenyataan, banyak kemashlahatan yang menuntut sebagian orang begadang. Misal saja ronda malam dan thalabul ‘ilmi seperti yang mentradisi di masyarakat kita. Banyaknya pengajian rutin diagendakan setelah shalat Isya’ karena itulah waktu luang bagi kebanyakan orang. Pagi sampai sore jadi saat bekerja atau menuntut ilmu di lembaga formal. Rapat RT dan organisasi juga lazim diadakan malam hari, saat kebanyakan orang sedang luang. Prinsipnya, bila tak ada agenda penting di malam hari, sebaiknya kita segera tidur agar bisa bangun di akhir malam, dan agar rehabilitasi tubuh berhasil optimal.

Tak hanya waktu, posisi tidur juga ditata dalam Islam. Disunahkan miring ke kanan agar organ dalam perut pada posisi tak terbebani. Tak diperkenankan tidur tengkurap karena mambuat nafas menjadi sesak. Diriwayatkan bahwa seorang shahabat tidur tengkurap di dalam masjid. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam membangunkannya dan bersabda, “Ini posisi tidur yang dimurkai Allah.”

Sehat sejatinya sederhana, hanya bagaimana menjalani pola hidup saja. Bagaimana tidur, bergerak, dan makan-minum. Namun, pada praktiknya tak mudah. Banyak faktor menjadi penghambatnya. Budaya gaya hidup sehat dengan “segitiga sehat” perlu dibangun bersama, secara berjamaah, agar pengamalannya jadi lebih mudah, agar umat kiat kuat. Wallahu a’lam. [IB]