(Panjimas.com) – Kabarnya, ada negara di Eropa yang menerapkan larangan kencing berdiri. Tak hanya wanita, kaum pria di negara itu wajib kencing dengan posisi duduk. Alasannya, kencing duduk atau jongkok lebih higienis dan menyehatkan. Hal ini dianggap dapat mengurangi risiko kanker prostat dan meningkatkan kualitas seks pria. Walau negara tersebut bukan negara Islam dan berpenduduk Muslim terbanyak, tapi kebijakan larangan kencing berdiri ini rupanya selaras dengan sunah Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam.

Seorang shahabat berkisah, “Nabi pernah keluar bersama kami dan di tangannya terdapat sesuatu yang berbentuk perisai, lalu beliau meletakkannya kemudian beliau duduk lalu kencing menghadapnya.” (Hr. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Beliau membolehkan umatnya kencing berdiri dan pernah pula kencing berdiri. Tapi kencing jongkok lebih baik, karena memperkecil kemungkinan percikan air seni memercik jauh dan mengenai kaki dan pakaian. Kencing jongkok juga membuat urin keluar lebih tandas, tidak tersisa di ujung kemaluan dan akan merembes keluar beberapa saat kemudian.

Di samping faktor kesucian dan kebersihan, kencing jongkok juga berfaedah besar bagi kesehatan. Saat jongkok sempurna, kandung kemih tertekan dan memicu keluarnya seluruh urin dari tubuh tanpa sisa. Kandung kemih yang kosong dapat membantu mengurangi risiko kanker prostat. Berdehem juga membantu menandaskan urin. Posisi jongkok juga memperbesar kemungkinan keluarnya gas dari dubur saat kencing. Dengan begitu, tak hanya sisa metabolisme tubuh yang cair yang dibuang, tetapi juga yang berbentuk gas. Itulah kelebihan kencing dengan posisi jongkok.

Guna meningkatkan kualitas kesehatan umat, kiranya kita perlu menyediakan tempat kencing yang didesain khusus untuk kencing jongkok. Atau paling tidak, memasang rambu imbauan kencing jongkok di kamar kecil masjid, madrasah, pesantren, dan area publik lainnya. Dan yang terpenting, mari kita tradisikan kencing jongkok mulai dari diri masing-masing!

Wallahu a’lam. [IB]