(Panjimas.com) – Makan dan minum adalah satu di antara sekian kebutuhan pokok manusia. Tanpanya, makhluk keturunan Adam dan Hawa tidak bisa bertahan hidup dan melahirkan generasi pelanjutnya. Tanpa makan dan minum, kita tak bisa menunaikan tugas sebagai hamba Allah subhanahu wa ta’ala, beribadah kepadaNya.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberiKu makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan, lagi sangat kokoh.” (adz-Dzaariyaat: 56–58).

Makanan dan minuman sendiri merupakan salah satu bentuk rezeki yang Allah ta’ala berikan kepada manusia. Di dalam makanan dan minuman terkandung zat-zat yang berfaedah bagi badan, yakni nutrisi atau gizi.

Gizi adalah substansi yang terdapat pada makanan dan minuman yang berfungsi untuk mengadakan proses pertumbuhan, pemeliharaan, serta perbaikan jaringan tubuh. Ada enam macam zat gizi pada makanan dan minuman, yakni karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air.

Keenam macam zat gizi tersebut dibagi menjadi dua jenis, organik dan anorganik. Organik adalah unsur alam yang dapat diperbaharui, sedangkan anorganik adalah unsur alam yang tidak dapat diperbaharui. Termasuk zat gizi organik adalah karbohidrat, lemak, protein, dan vitamin. Sedangkan zat gizi anorganik adalah air dan mineral. Di antara yang termasuk mineral adalah zat besi, kalsium, fosfor, kalium, seng, dan sebagainya.

Manusia membutuhkan makanan dan minuman lantaran tubuhnya diciptakan oleh Allah ta’ala dengan susunan zat yang sama dengan yang terdapat pada makanan dan minuman. Tubuh manusia dengan berat badan 70 kg terdiri dari 42 kg air, 14 kg lemak, dan 14 kg protein, karbohidrat, komponen organik, mineral mayor pada tulang (kalsium dan fosfor), serta mineral lain dan vitamin.

Oleh karena itu, makan dan minum seyogianya diatur sedemikian rupa agar semua kebutuhan tubuh terpenuhi secara adil. Ketidakadilan pemenuhan kebutuhan gizi untuk tubuh akan mengakibatkan gangguan kesehatan dan rendahnya kualitas fisik si bersangkutan. Padahal, umat Islam seharusnya menjadi umat yang berkualitas, baik dari segi fisik maupun ruhiyahnya. Maka itu, mari kita bangun sistem pangan yang baik di dunia Islam. Sistem pangan yang islami, yakni yang mengedepankan aspek manfaat, karena Islam melarang kesia-siaan.

Wallahu a’lam. [IB]