(Panjimas.com) – Entah sejak kapan mulainya, banyak orang saat ini berselera ekstrim dalam memilih suhu minuman. Kalau tidak pilih minum es, ya minum yang panas-panas sekalian. Air dengan suhu normal seakan sudah tak menarik lagi. Bila tidak es katanya tidak puas, bila tidak panas katanya tidak mantab. Begitulah selera kuliner masyarakat kita saat ini.

Kenyataan demikian membutuhkan perhatian tersendiri. Tantu ada hal-hal yang harus lebih diperhatikan dalam mengonsumsi minuman es dan minuman panas, ketimbang minum air bersuhu normal. Membahas itu semua dari berbagai aspek, membutuhkan kajian yang sangat panjang dan dalam. Tulisan ini akan mencoba turut ambil bagian sedikit saja. Kita akan berfokus pada adab meminum minuman panas, seperti, kopi, teh, wedang jahe, wedang jeruk, susu, dan lain sebagainya.

Kita biasa melihat  atau mungkin termasuk orang yang menikmati minuman panas tidak langsung menyeruput begitu saja. Memang begitu sewajarnya. Sebelum diseruput, terlebih dahulu minuman panas diturunkan suhunya hingga dirasa aman bila masuk ke rongga mulut sampai mengalir ke lambung nantinya.

Menurunkan suhu minuman panas bisa dilakukan dengan beberapa cara. Dan dari cara-cara tersebut, yang banyak kita dapati adalah dengan meniupnya. Ini adalah cara paling efektif dan efisien! Tapi baikkah cara itu dalam tinjauan agama?

Bagi kebanyakan orang, meniup minuman panas adalah hal yang biasa dan baik-baik saja dilakukan. Tapi, sebagai Muslim, apakah kita sudah menemukan norma tentang hal ini dalam agama kita? Apakah cara ini sesuai dengan adab Islam?

Mari kita simak sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam berikut ini:

“Jika kalian minum, jangan bernafas pada wadah air minumnya.” (Hr. Bukhari).

Para ulama menjelaskan maksud hadits ini, yang pada intinya adalah meniup minuman adalah perbuatan yang tidak baik, tidak sesuai dengan adab Islam. Sebagian ulama menjelaskan bahwa meniup minuman bisa menyebabkan timbulnya aroma kurang sedap pada air minum tersebut. Hematnya, secara etika, meniup minuman menimbulkan kesan jorok, tak sopan dilihat orang. Tak hanya itu, larangan ini pun ternyata mengandung hikmah dalam aspek kesehatan.

Sains menjelaskannya demikian. Air, termasuk minuman kita, dalam ilmu kimia disimbolkan H2O. Sementara aktivitas bernafasnya makhluk hidup, termasuk manusia, adalah menghirup Oksigen (O2) dan menghembuskan Karbon dioksida (CO2). Artinya, udara yang ditiupkan oleh mulut ke arah minuman adalah Karbon dioksida alias CO2.

Rumus kimia mengatakan bahwa apabila H2O bertemu CO2, terjadilah reaksi yang melahirkan H2CO3 atau Asam karbonat. Bila hembusan nafas itu mengenai minuman, senyawa tersebut (H2CO3) akan melekat padanya. Ia akan masuk ke tubuh bersama minuman yang kita teguk.

Asam karbonat sendiri secara alami sudah terkandung dalam darah manusia. Ia berfungsi mengatur/mengendalikan tingkat keasaman atau Ph darah. Bila air yang kita minum mengandung senyawa yang sama, akan berpotensi menimbulkan asidosis, yakni keasaman darah yang tinggi; Ph darah yang rendah.

Darah yang Ph-nya rendah tidak baik bagi kesehatan tubuh. Kondisi ini memicu kerja nafas menjadi lebih dalam dan cepat. Hal itu terjadi sebagai upaya alamiah menurunkan keasaman tersebut. Selanjutnya, ginjal pun turut terpengaruh. Ia akan mengkompensasi kondisi ini dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam melalui air kencing. Namun bila tubuh terus menghasilkan asam, kedua mekanisme tersebut: sistem nafas dan kerja ginjal, tidak akan sanggup mengatasi masalah. Akibatnya, timbullah rasa lelah yang teramat sangat pada diri si bersangkutan. Bahkan bila parah bisa menyebabkan koma.

Di samping memungkinkan terjadinya asidosis, meniup minuman juga mengandung risiko lain. Mulut yang masih menyimpan sisa-sisa makanan yang membusuk di sela-sela gigi, dimungkinkan mengandung partikel beracun dan mikroorganisme merugikan. Keduanya akan masuk ke minuman yang terpapar hembusan nafas, dan terbawa ke dalam tubuh saat air itu diminum. Dan setelah berada di dalam tubuh, dampak negatiflah yang akan ditimbulkan.

Maka dari itu, hendaknya kita mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam untuk tidak menurunkan suhu minuman dengan cara meniupnya. Ada cara lain yang bisa kita tempuh. Bisa dengan menggoyang-goyangkan gelas secara memutar pelan, atau mengipasinya, atau menantinya sejenak sampai cukup aman untuk diminum. Bahkan menanti sejenak turunnya suhu minuman mengandung faedah tersendiri bagi jiwa, yakni melatih kerabaran. Apalagi nenantinya sembari berzikir atau membaca, tentu lebih besar lagi faedahnya. Dan akhirnya, pelajaran yang bisa kita ambil dari pembahasan ringan ini adalah: hidup beradab itu menyehatkan. Wallahu a’lam. [IB]