(Panjimas.com) – Sebentar lagi tahun berganti. Di dunia, termasuk di negeri kita, gelaran rutin pergantian tahun biasa terjadi. Begadang di public area, tempat makan, dan yang lainnya. Muda, tua, anak-anak, cowok maupun cewek, tumpah ruah dalam riuh “perayaan tahun baru”. Lintas agama, umat beragama apa pun ada di sana.

Sesuatu yang udah mentradisi, biasanya diikuti gitu aja oleh masyarakat kita yang mayoritasnya Muslim ini. Apalagi sesuatu itu mengasyikkan, penuh hiburan, jadi momen strategis buat bersenang-senang. Kebanyakan orang nggak kepikiran buat menelisik apa yang ada di baliknya, apa maknanya, gimana latar belakang sejarahnya. Yang penting asyik, gitu aja. Padahal bagi Muslim, al-Qur’an udah tegas ngasih batas,

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra’: 36)

Nah, Lo! Berarti kalo gitu kita coba nyari tau dulu, yuk, ada hal apa di balik perayaan tahun baru (Masehi) ini. Yuk, kita tilik sejarahnya…

Sejak Abad ke-7 SM bangsa Romawi udah punya kalender tradisional. Kalender ini masih kacau dan sempat diubah beberapa kali. Sistemnya berdasar kemunculan bulan dan matahari. Bulan Martius (Maret) dijadiin bulan pertamanya.

Pada 45 SM, Julius Caesar mengganti kalender itu dengan Kalender Julian. Urutan bulannya jadi, Januarius – Februarius – Martius – Aprilis – Maius – Iunius – Quintilis – Sextilis – September – October – November – December. Setahun kemudian, ia ganti nama bulan “Quintilis” dengan namanya, “Julius”. Sejak itu, tahun baru di Romawi nggak lagi dirayain pada 1 Maret, melainkan 1 Januari. Tahun baru 1 Januari pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM.

Waktu terus bergulir. Kaisar Augustus, penerus Julius Caesar, bikin nama baru buat bulan “Sextilis” dengan namanya “Agustus”. Lalu kalender Julian pun jadi resmi dipakai di seluruh Eropa sampai 1582 M. Baru sejak itu muncul kalender baru, Kalender Gregorian.

Kalender Gregorian tetap pakai Januarius (Januari) sebagai bulan pertama, oleh karena ada dua alasan. Pertama, diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua, satu di depan dan satunya di belakang. Dewa Janus dipercaya sebagai dewa penjaga gerbang Olympus, yang dimaknai sebagai gerbang tahun baru. Kedua, karena 1 Januari jatuh pada puncak musim dingin. Saat itu biasanya pemilihan konsul diadain, karena semua aktivitas rutin diliburin. Di bulan Februari, konsul yang terpilih ngedapetin pemberkatan dalam upacara sambut musim semi yang dimaknai sebagai penyambutan sesuatu yang baru.

Bangsa Romawi ngerayain tahun baru dengan saling ngasih hadiah potongan dahan pohon suci. Di masa selanjutnya, mereka saling ngasih kacang atau koin berlapis emas dengan gambar Dewa Janus. Mereka juga persembahin hadiah buat Kaisar.

Sampai saat ini tahun baru 1 Januari telah dijadiin sebagai hari suci umat Kristen, dan sejak lama, perayaannya jadi tradisi umum internasional. Bagi umat Kristen, tahun baru masehi dikaitin dengan kelahiran Yesus Kristus, sehingga orang Indonesia juga biasa namain agama Kristen dengan agama Masehi. Masehi sendiri diambil dari nama al-Masih (Yesus). Masa sebelum Yesus lahir disebut tahun Sebelum Masehi (SM)dan sesudah Yesus lahir disebut tahun Masehi (M).

Nah, dari penjelasan di atas, secara prinsip kita dapat ketahui satu hal, bahwa tahun baru 1 Januari bukan nggak ada kaitannya dengan ajaran agama tertentu. Kita dapati bahwa, paling enggak ada dua agama yang lekat dengan momen tersebut. Pertama, agama Pagan Romawi, kedua, Kristen. Kristen sendiri (kayak pembahasan edisi lalu) merupakan agama yang terpengaruh ajaran Pagan Romawi. So, gimana dengan kita yang Muslim, bolehkah turut serta ngerayainnya? Yuk, simak aja penjelasan berikut.

Ketika Nabi Muhammad saw tiba di Kota Madinah, penduduk kota itu ngerayain dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan (hari raya penganut agama Majusi). Beliau lalu bersabda,

“Aku mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Perayaan Nairuz dan Mihrajan di Madinah cuma berisi hiburan dan makan-makan, sama sekali tanpa ada ritual ala Majusi. Namun begitu, tetap aja Nabi saw dengan bijak melarangnya. Beliau menyampaikan larangan dengan santun tapi tegas, dibarengi ngasih alternatif lain sebagai penggantinya.

Suatu ketika, saat Idul Adha Nabi saw bersabda,

“Sesungguhnya bagi setiap kaum (agama) ada perayaannya, dan hari ini (Idul adha) adalah perayaan kita.” (Hr. Bukhari-Muslim)

Sebuah ayat ngasih kita pembelajaran adab ketika terjadi perayaan keagamaan selain Islam.

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (al-Furqan:72)

Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud al-Zur (perbuatan tak berfaedah) dalam ayat di atas adalah perayaan-perayaan orang kafir. (Ibnu Katsir, 6/130).

Lebih khusus lagi, dalam perayaan tahun baru, terdapat tradisi yang udah mendunia, meniup terompet dan pakai topi berbentuk kerucut tinggi. Di Indonesia, setiap pertengahan Desember, lapak-lapak terompet dan topi lancip menjamur di tepi-tepi jalan. Minimarket pun nggak mau ketinggalan ikut jualan. Mulai anak kecil hingga orang dewasa dengan merasa biasa aja ngebelinya. Padahal tahukah, ada apa di balik dua benda itu?

Meniup terompet merupakan tradisi Yahudi. Namun masyarakat kita banyak yang belum ngerti. Kayak seorang shahabat Nabi saw yang suatu hari usul agar bunyi terompet dijadiin penanda masuknya waktu shalat. Rasulullah saw pun ngasih tanggapan yang bermakna nggak setuju.

“Membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi” (Hr. Abu Dawud).

Atribut khas tahun baru yang kedua adalah topi kerucut. Dulu, ada topi khas dengan bentuk sangat mirip dengan itu di Spanyol. Namanya sanbenito, atau dalam Bahasa Catalan dinamain gramalleta atau sambenet. Apa gunanya? Di masa Inkuisisi Gereja (udah kita bahas di edisi lalu) di Spanyol, topi ini dipakaiin ke siapa aja yang termasuk kaum Heretic (kaum yang menentang ajaran sah Gereja), yang mana salah satunya adalah kaum Muslim, yang akan dibantai dalam ritual “auto da fé”.

Nah, Lo. Gimana coba kalo saat ini kita, Muslim, turut serta ngelakuin perayaan tahun baru, dengan atribut “sanbeneto” sambil niupin terompet? Biasa ajakah, atau itu sebuah masalah besar? Dalil-dalil dan penjelasan di atas kiranya udah cukup dijadiin dasar jawabannya. Belum lagi, ditilik dari aspek adab penggunaan harta dan waktu, tentu kelakuan kayak gitu jadi masalah serius yang mesti kita jauhi.

“Sesungguhnya orang-orang pemboros adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (al-Isra’: 27)

“Sesungguhnya Allah membenci tiga hal pada kalian; kabar burung, membuang-buang harta, dan banyak bertanya.” (Hr. Bukhari).

Terompet dan topi kerucut biasanya
Cuma dipakai saat itu aja, lalu dibuang percuma, jadi sampah, merusak lingkungan. Sungguh, kayak gitu adalah kerjaan yang nggak bermoral, nggak beradab secara sosial-ekologis. Benarlah kalo Imam Syafi’i bilang, “Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”

Oleh karena itu, sebagai generasi muda Islam, ayolah kita isi momen pergantian tahun dengan kegiatan yang positif. Kayak Rasulullah yang ngasih alternatif lain kepada penduduk Madinah, akan keren kalo kita bikin kegiatan dakwah saat pergantuan tahun. Pengajian misalnya, atau apalah, yang itu punya daya tarik bagi saudara-saudara kita. Sehingga mereka nggak lagi ikut-ikutan ngerayain tahun baru dengan terompet, topi kerucut, dan hura-hura nggak berguna, dan pilih ikut nimbrung di kegiatan kita. Wallahu a’lam. [IB]