PANJIMAS.COM – Anak Indonesia kenal ama tanggal 14 Februari sebagai Hari Kasih Sayang, atau Valentine’s Day. Tanpa nyari tau seluk-beluk dan latar belakang sejarahnya dulu, anak remaja sampe yang tua ikut aja ngerayainnya. Orang bilang hari itu adalah saat ngungkapin cinta kepada pasangan, baik pasangan beneran maupun sekadar pacar.

Sebagai Muslim, Islam adalah pegangan hidup kita. Nah, sebagai agama sempurna dan dianut mayoritas bangsa Indonesia, Islam tegas ngelarang umatnya ngelakuin sesuatu yang nggak jelas maksudnya.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban” (al-Isra’: 36).

Dari mana sih asal-usul Valentine’s Day? Ternyata ada beberapa versi cerita tentang asal muasal perayaan itu. Dan pastinya, ia adalah tradisi Kristen yang diperingati oleh berbagai macam aliran gereja di dunia. Di antaranya, Gereja Anglikan, Gereja Ortodoks Timur, Gereja Lutheran, dan lain sebagainya. Cuma, terjadi perbedaan dalam waktu pelaksanaannya. Gereja Katolik dan mayoritas gereja lain ngerayain Valentine’s Day pada 14 Februari, sedang Gereja Ortodoks pada 7 Juli.

Bentuk perayaan Valentine’s Day adalah ngirimin kartu ucapan, ngasih hadiah, kencan, dan layanan gereja. Tradisi nyatain cinta pakai kartu ucapan mulai marak pada abad ke-19. Waktu itu kartu ucapan mulai diproduksi massal. Lalu sejak 1980-an, industri berlian mulai ngelirik Valentine’s Day sebagai peluang bisnis. Mereka berkampanye ngasih hadiah berupa perhiasan.

Kalo nengok jauh ke belakang, zaman dahulu kala, pertengahan bulan Februari dikaitin ama cinta dan kesuburan. Menurut sejarah kalender Athena Kuno, periode antara pertengahan Januari sampai pertengahan Februari disebut bulan Gamelion dan dipersembahin buat pernikahan Dewa Zeus dan Hera. Di Romawi, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus (dewa kesuburan) yang dilambangkan tubuh setengah telanjang dengan pakaian kulit kambing. Bentuk peringatannya adalah, cowok-cowok Romawi jalan-jalan di keramaian bawa kulit kambing. Sementara cewek-cewek sengaja dateng ngedeketin biar kesentuh. Mereka percaya kalo sentuhan kulit kambing itu bikin cewek jadi subur.

Versi lain kaitan 14 Februari ama kasih sayang terjadi di abad ke-14 di Inggris dan Perancis. Dipercaya, pada hari itu burung-burung lagi nyari pasangan kawin. Perihal ini ditulis ama sastrawan Inggris Geoffrey Chaucer dalam karyanya Parlement of Foules (Percakapan Burung-Burung). Di masa itu, orang yang lagi jatuh cinta manggilin pasangannya “Valentine”. Konon British Library sempat nyimpen sebuah kartu Valentine’s Day abad ke-14. Hal ini jadi tanda bahwa legenda-legenda tentang Santo Valentinus (tokoh yang jadi rujukan Valentine’s Day) kemungkinan diciptain di zaman itu.

Salah satu cerita tentang Santo Valentinus adalah, ketika serdadu Romawi dilarang nikah oleh Kaisar Claudius II, Santo Valentinus, seorang calon uskup di Roma pada tahun 143,  dengan sembunyi-sembunyi ngebantu mereka yang nekad nikah. Karena tindakan itu, ia akhirnya dihukum mati. Sore hari sebelum ekskusi, ia sempet nulis surat pernyataan cinta dan dikasih ke sipir penjara. Di sana tertulis, “Dari Valentinusmu”. Tanggal 14 Februari dipercaya sebagai hari ekskusinya.

Di samping cerita di atas, menurut Ensiklopedi Katolik (Catholic Encyclopaedia 1908), nama Valentinus paling enggak merujuk pada tiga tokoh yang berbeda. Seorang pastur di Roma, seorang uskup Interamna, atau seorang martir di provinsi Romawi Africa.

Pada 496, Paus Gelasius I bilang kalo sebenernya nggak ada yang tau pasti soal ketiga tokoh tersebut, juga kaitannya dengan cinta dan kasih sayang. Namun begitu, tetep aja 14 Februari ditetapin sebagai Hari Kasih Sayang. Sebagian sejarawan bilang kalo Sang Paus sengaja mau nyaingin hari raya Lupercalia yang jatuh pada 15 Februari.

Karena nggak jelas sejarahnya, pada 1969 Valentene’s Day dihapus dari kalender gereja. Penghapusan ini sebagai bagian dari gerakan penghapusan santo-santa yang asal-usulnya cuma berbasis legenda.

Nah, udah ngerti apa tuh Valentine’s Day? Kalo gitu saatnya kita pelajarin gimana pandangan Islam tentangnya.

Pertama, karena asal-usulnya aja nggak jelas, maka ayat di atas (al-Isra’: 36) udah cukup dijadiin dasar bahwa Muslim nggak perlu dan nggak seyogianya ikut ngerayain Valentine’s Day.

Kedua, nggak bisa dipungkirin lagi kalo Valentene’s Day adalah harinya orang Kristen dan kena pengaruh kepercayaan kaum Paganis Romawi. Maka itu Muslim juga nggak pantas ikut-ikutan ngerayainnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. At-Tirmidzi).

Lalu bagaimana kalo cuman ngucapin selamat aja? Ibnul Qayyim al-Jauziyah berkata, “Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, ‘Selamat hari raya!’ dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Karena berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah swt dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamr atau membunuh.”

Syeikh Utsaimin pun berfatwa haram ngerayain Valentine’s Day. Alasannya, pertama, ia adalah hari raya bid’ah yang nggak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam. Kedua, ia bisa bikin hati sibuk ama perkara-perkara rendahan yang sangat bertentangan dengan petunjuk salafushshalih.

Di Malaysia, Perdana Menteri Datuk Seri Muhyiddin Yassin pernah bilang kalo Valentine’s Day nggak sesuai untuk Muslim. Pada 2011, aparat agama Negeri Jiran itu nangkep lebih dari 100 pasangan Muslim yang ikut ngerayain Valentine’s Day.

Larangan ngikutin perayaan Valentine’s Day buat Muslim bukan berarti nutupin pintu kegembiraan buat kita-kita. Masih banyak acara seru lain yang jauh lebih asyik yang bisa kita dapetin dalam tradisi Muslim. Dan buat kamu-kamu yang seper kreatif, berkreasilah, kemaslah dakwah secara menarik, agar saudara-saudara kita nggak perlu ‘nyeberang’ ke ranah berbahaya demi ngedapetin kegembiraan! Wallahu a’lam. [IB]