(Panjimas.com) – Idul Adha adalah momen pemersatu umat. Di Tanah Haram, berjuta Muslim dari seluruh penjuru dunia berkumpul pake kostum yang sama dengan tujuan yang sama pula. Di negerinya masing-masing, kaum Muslim lainnya berkumpul di lapangan terdekat buat Shalat Idul Adha. Sepulang dari sana, mereka pergi lagi pake kostum beda, kaos usang yang siap diajak berdekil ria. Tempat yang dituju adalah lokasi penyembelihan hewan qurban yang biasanya di halaman masjid setempat.

Di halaman masjid-masjid negeri kita, kaum Muslim bergotong royong memroses sapi dan kambing hidup sampe jadi potongan-potongan daging yang siap dibagikan. Itulah pemandangan kasat mata di hari raya Idul Adha. Betul kayak gitu yang kamu lihat? Optimis deh, kebanyakan kawula muda Muslim negeri ini bakal menjawab iya. Pertanyaan selanjutnya, apa cuma itu aja yang kamu lihat? Adakah sesuatu yang nggak kasat mata yang juga kamu lihat di hari itu? Hiii… ngeri…

Oh, jangan berimajinasi horor ya. Nggak selayaknya anak muda Muslim berpikir begitu. Kalo disebut istilah nggak kasat mata, sebaiknya pikiran kita mengarah ke hikmah di balik sesuatu yang kasat mata. Yup, karna Allah ta’ala menggelar alam raya ini sebagai ayat-ayat yang mesti kita pelajari. Termasuk dalam kegiatan pemrosesan hewan qurban, di sana ada banyak hikmah yang bisa kita dapatkan. Apa aja hikmah di balik tuh kegiatan? Kita cari, yuk!

Gotong royong adalah pengalaman sekaligus pelajaran berharga yang pertama. Allah ta’ala menyuruh kita berjama’ah dan saling membantu dalam kebaikan.

“…. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan ….” (al-Ma’idah :2).

Nggak mungkin beberapa ekor sapi dan kambing bisa rampung diurus dalam sehari kalo cuman ngandalin beberapa orang. Kecuali pakar, sih, dan pake peralatan yang cukup canggih. Tapi di masyarakat kita, memroses hewan qurban biasanya dikerjakan sama warga kampung setempat yang nggak ahli dalam urusan daging. Kalo pun ada yang ahli, paling cuman satu dua orang aja. So, memroses hewan qurban emang perlu mengerahkan banyak orang.

Di halaman masjid, warga kampung bahu-membahu mengerjakan proses mulai menyembelih sampe mengemas dan membagikan daging ke warga. Hari itu halaman masjid jadi tempat pendidikan gotong royong buat kita. Nah, setelah dapet pendidikan (ilmu), langkah apa yang mesti ditempuh selanjutnya? Adalah pengamalan! Ilmu tuh buat diamalkan. Betul? So, ilmu gotong royong yang udah didapetin hendaknya diamalkan sebagai praktik berkelanjutan dalam hidup berkeluarga, bermasyarakat, dan juga bernegara. Ini, nih, hikmah pertamanya.

Pelajaran kedua adalah ilmu memroses hewan qurban. Menyembelih, menguliti, membuang kotoran, mencincang daging, dan membagi rata nan adil ke warga,  bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan dengan perfect oleh setiap orang. Semua ada ilmunya! Gimana merebahkan tubuh sapi, ada tekniknya. Leher bagian mana yang dipotong harus tepat, nggak asal kena, kalo nggak mau bikin hewan tersiksa. Mengeluarkan kotoran dari lambung dan usus dengan efektif dan efisien, ada tekniknya. Mengelupas kulit dengan cepat tapi nggak bolong juga ada jurusnya. Bahkan gimana bersikap pada hewan menjelang disembelih biar nggak stres pun ada ilmunya.

Kalo kita mau mikir, teknik-teknik itu bakal bikin kita sadar kalo semua pekerjaan emang ada ilmunya, meski tuh kerjaan nggak nuntut pelakunya harus bisa baca tulis dan main komputer.

Pekerjaan yang kayaknya bisa dilakukan orang yang nggak pernah sekolah pun, ternyata belum tentu bisa dikerjakan dengan baik sama orang yang berpendidikan tinggi dan bergelar profesor sekalipun. Pak Profesor bisa lebih bodoh dari orang yang nggak lulus SD kalo disuruh nyembelih sapi. So, dari sini kita dapet hikmah bahwa siapa pun kita, nggak pantas berlaku sombong dan sok lebih pinter dari orang lain. Karna kehebatan orang pasti ada batasnya. Orang bisa hebat di satu sisi, tapi bodoh di sisi lain.

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati ….” (al-Furqan: 63).

Pelajaran ketiga adalah bahwa setiap sesuatu ada tempatnya. Dalam pemrosesan hewan qurban, darah yang mengalir saat penyembelihan disediakan tempat tersendiri. Galian tanah yang ntar kalo udah selesai bakal ditimbun lagi. Kotoran hewan ada tempatnya sendiri. Dibuang ke sungai biar jadi makanan bergizi buat spesies air. Daging harus ditaruh di tempat yang bersih, nggak boleh ditaruh di atas tanah gitu aja karna partikel tanah bakal nempel dan menyulitkan dalam proses memasaknya. Ia juga nggak boleh dicelup air karna bakal bikin bau amis tetap nempel sampe matangnya.

Hikmah “semua ada tempatnya” ini seyogianya kita terapkan dalam kehidupan. Sebagai makhluk berakal, berilmu, dan beriman, kita nggak pantas berlaku asal naruh aja dalam segala hal. Menempatkan sesuatu nggak pada tempatnya adalah kezaliman.

Nggak cuma itu aja. Masih banyak hikmah-hikmah lain yang bisa ditemukan dalam kegiatan memroses hewan qurban. Semua bakal bikin orang yang menghargainya jadi lebih arif dan bijaksana, sadar siapa dirinya, dan mengagungkan Allah ta’ala.

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkanNya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.” (al-Baqarah: 164).

Terakhir, coba kita tanya ke diri sendiri, apa kita udah mensyukuri nikmat akal ini dengan mau menggali hikmah dari apa-apa yang ada di sekitar? Wallahu a’lam. [IB]