(Panjimas.com) – Kemarau ini cukup berasa. Entah udah berapa pekan hujan nggak menyapa. Jangankan hujan, gerimis pun nggak ada. Sejumlah wilayah di negeri ini mengalami kekeringan sejak beberapa bulan, penduduknya susah dapetin air buat keseharian. Jelang siang sampe petang, kita merasa gerah plus kehausan. Depot-depot air minum isi ulang sering kali kehabisan stok, harus bersabar menanti truk tangki datang.

“Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.” (al-Ma’aarij: 19).

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya. Yang sehari-hari kita denger dan lihat adalah keluh kesah orang-orang menahan gerah. Nggak tua nggak muda, semua nyanyi lagu yang sama: “aduuh, panasnyaaa…”

Piranti penyejuk diperas tenaganya untuk makhluk-makhluk pengeluh kesah. Di rumah; kantor; tempat niaga; area-area publik termasuk masjid, energi listrik ditimba lebih banyak buat nyalain AC dan kipas angin.

Apa respon batin kalian atas suhu tinggi yang kabarnya sempat menembus angka 37 derajad celcius ini, Teman-teman? Mengeluh jugakah?

Rupanya negeri tropis ini sedang dihuni makhluk-makhluk pengeluh kesah yang menyesalkan musim kemarau yang panas. Ujaran kekesalan dilontarkan entah ke siapa. Seolah Allah ta’ala sedang berlaku zalim dan manusia berhak mendemoNya.

Naifnya, para pengeluh kesah itu bukan manusia-manusia nggak beragama, mereka shalat di masjid juga.

Mungkin boleh dimaklumi kalo Muslim pengeluh itu adalah kaum yang kurang mengenyam pendidikan, orang-orang tua yang rendah jenjang pendidikannya; selain belum melek iptek, rendah pemahaman diniyahnya. Tapi bisa dimengertikah kalo para pengeluh itu adalah anak-anak muda Muslim yang katanya rajin ke masjid dan majlis taklim, sekolah di IT (Islam Terpadu) dan kuliah di PT terkemuka?

Ayat di atas bukanlah penutup pembicaraan. Ayat-ayat berikutnya (22-34) ngasih tabayyun kalo berkeluh kesah bukanlah sikap kaum Mukmin. Keluh kesah bukan ekspresi keimanan. Ayat-ayat itu nyebutin ciri-ciri orang beriman kayak di awal surat al-Mukminun. Orang yang di hatinya ada iman, nggak selayaknya mengeluh karena gerah, apalagi memaki kenyataan seolah menuduh Allah ta’ala berbuat salah.

Pepatah bilang, lebih baik nyalain lilin ketimbang mengutuk kegelapan. Generasi muda Muslim itu pewaris peradaban. Dunia berharap hadirnya buat mengurai benang kusut kehidupan, nyari jalan keluar atas problem-problem kehidupan.

Badan boleh kegerahan tapi akal dan hati kaum muda Muslim jangan sampe kepanasan! Peta jalan keluar nggak bisa difahami pake akal dan hati yang panas. Ia cuma bisa dimengerti oleh akal dan hati yang sejuk. Ciri akal dan hati yang sejuk adalah cenderung mawas diri ketimbang menunjuk.

Orang yang akal dan hatinya panas bakal berkeluh kesah bahkan memaki hawa panas. Orang yang akal dan hatinya sejuk bakal merespon kemarau yang menyengat dengan mawas diri, introspeksi. Sadar kalo kelakuannya saban hari berperan bikin suhu udara meninggi. Nyala mesin kendaraan, nyala lampu dan kompor, pemakaian energi listrik meski buat nyalain AC; kipas angin; dan kulkas sekalipun, semua bikin suhu udara naik. Semakin sempitnya ruang terbuka hijau, berkurangnya tanaman dan pepohohan, semua bikin suhu udara naik. Kalo kita sering jajan, itu juga bikin suhu udara naik karena proses pengolahan makanan. Kalo kita suka produk impor, itu juga bikin suhu udara naik karena emisi pengangkutan.

Yah, semua itu ayat-ayat Allah ta’ala yang terbentang di alam raya. Cuma akal dan hati yang sejuk oleh naungan imanlah yang mampu membaca dan memahaminya. Jadi kalo banyak Muslim berkeluh kesah karena kegerahan, berarti imannya perlu diperiksakan. Wallahu a’lam. [IB]