(Panjimas.com) – Tahun 1945 adalah tahun “keramat”nya bangsa Indonesia. Waktu itu, tepatnya 17 Agustus 1945, sebuah bangsa yang selama tiga setengah abad dijajah Imperialis Kristen Eropa, memroklamirkan kemerdekaannya. Jawa dan Nusantara jadi sebuah negara berdaulat, Indonesia.

Tapi, negara yang baru aja bangkit itu belum bisa langsung berdiri tegak kuat berpijak. Angin berembus bikin dirinya goyah. Belum genap sebulan pascaproklamasi, tentara Sekutu membonceng armada tentara Belanda, mendarat di Jakarta dan beberapa kota lainnya. Untuk apa?

Bung Karno dan Bung Hatta mencoba menempuh jalan diplomasi, berharap kedatangan Sekutu cuma buat ngurus tahanan aja. Tapi ternyata enggak. Rupanya kedatangannya bawa maksud mengotak-atik status kemerdekaan Indonesia.

Bung Karno gelisah, ia menimbang-nimbang kekuatan. Secara logika, tentara Indonesia bakal kalah kalo melakukan perlawanan. Ini cobaan besar buat Sang Proklamator dan bangsa Indonesia. Tapi alhamdulillah, Allah ta’ala akan menolong hamba-hambanya yang beriman dan terus berjuang. Tampillah seorang Jenderal muda yang shalih, Panglima Besar Jenderal Sudirman. Ia datang bawa ide cemerlang.

Jenderal yang gemar pakai blangkon ini ngasih masukan agar Pak Presiden menggandeng ulama dalam melawan Sekutu. Ide ini sebenernya sangat masuk akal, mengingat selama berabad lalu para ulama dan santrilah  yang mendominasi perjuangan. Mereka berperang melawan penjajah kafir sebagai implementasi iman. Mereka melakukannya sebagai bentuk jihad fi sabilillah.

Bung Karno merespon positif gagasan Sudirman. Ia ngirim utusan khusus untuk menghadap K.H. Hasyim Asy’ari di Pesantren Tebu Ireng, Jombang. Sesuai ide Panglima, Presiden meminta Kiai mengeluarkan fatwa. Fatwa hukum berjihad melawan penjajah negeri Muslim Indonesia.

Alhamdulillah, gayung bersambut. Mbah Hasyim panggil K.H. Hasan Abdullah Pesantren Tambak Beras, dan minta sahabatnya, K.H. Wahab, menghimpun ketua ormas Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa dan Madura buat bermusyawarah dan shalat Istikharah.

Alhasil, pada 22 Oktober 1945 terlahir tiga rumusan fundamental yang kemudian dinamakan RESOLUSI JIHAD NU.

Pertama : SETIAP MUSLIM , TUA, MUDA, DAN MISKIN SEKALIPUN, WAJIB MEMERANGI ORANG KAFIR YANG MERINTANGI KEMERDEKAAN INDONESIA.
Kedua : PEJUANG YANG MATI DALAM PERANG KEMERDEKAAN LAYAK DIANGGAP SYUHADA.
Ketiga : WARGA YANG MEMIHAK KEPADA BELANDA DIANGAP MEMECAH BELAH KESATUAN DAN PERSATUAN DAN OLEH KARENA ITU HARUS DIHUKUM MATI.

Naskah rumusan itu ditulis pake huruf Pegon dan ditandatangani K.H. Hasyim Asy’ari, lalu disebarluaskan ke semua jaringan pesantren se-Jawa dan Madura. Di samping itu, naskah Resolusi Jihad juga dibacakan di radio oleh Bung Tomo. Pidatonya yang lantang bangkitkan ghirah jihad Arek-Arek Suroboyo (anak-anak muda Surabaya).

Sebagai tindak lanjut seruan jihad dari ulama, terjadilah Pertempuran 10 November 1945 melawan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) pimpinan Brigjen Mallaby. Pertempuran di Kota Surabaya itu dipimpin Bung Tomo dan terkenal dengan pekikan takbirnya yang lantang menggema. Tentara, santri, dan para pemuda lain bahu membahu dalam jihad fi sabilillah hingga meraih kemenangan. Sekarang, tanggal itu diperingati sebagai Hari Pahlawan. Sedangkan hari lahir Resolusi Jihad 22 Oktober, sejak dua tahun lalu (2015) ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo sebagai Hari Santri Nasional.

Selamat Hari Santri! Semoga kita kawula muda Muslim Indonesia, baik yang pernah nyantri di pesantren maupun enggak, semua jadi “santri” yang istiqamah menegakkan Islam di Bumi Pertiwi dengan jihad fi sabilillah. Berjuang di masing-masing bidang yang digeluti, dengan cara yang sesuai situasi dan kondisi. Karna Islam mewadahi seluruh aspek kehidupan, dan seluruh aspek kehidupan harus di-Islam-kan!

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 208). Wallahu a’lam. [IB]