(Panjimas.com) – Sepuluh November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Bung Tomo-lah ikon sentral yang melatarbelakangi penetapan Hari Pahlawan. Ia pemimpin pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pertempuran yang merupakan tindak lanjut Resolusi Jihad K.H. Hasyim ‘Asy’ari.

Kalo kita pandang lebih luas lagi, istilah pahlawan setali dua uang dengan sejarah perjuangan bangsa ini. Indonesia didirikan melalui jalan panjang perjuangan para pahlawan. Tuanku Imam Bonjol, Pangeran Diponegoro, Cut Nyak Dien, Hasanuddin, dan lain-lain, adalah nama-nama pahlawan yang udah kita kenal sejak SD. Tapi ada satu pertanyaan, apakah kita udah ngerti gimana karakteristik pahlawan itu?

Pahlawan adalah sosok yang berjuang dengan segenap pengorbanan. Tenaga, pikiran, gagasan, harta, kedudukan, perasaan, hingga nyawa. Semuanya dipertaruhkan demi menggapai suatu keadaan yang dicita-citakan. Kalo sosok-sosok di atas berjuang demi memebaskan umat dari penjajahan Belanda, pahlawan lain boleh aja berjuang buat menggapai cita-cita lain. Yang pasti, perjuangan para pahlawan meniscayakan adanya kesungguhan dan pengorbanan.

“Berangkatlah kamu baik dalam rasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (at-Taubah: 41).

Yang namanya kebaikan tentu layak ditiru, bukan? Kepahlawanan adalah kebaikan, dan tentu ia layak –bahkan harus–  diwujudkan. Generasi muda Islam dituntut untuk jadi pahlawan.

Dalam konteks kekinian, kepahlawanan bisa diwujudkan dalam berbagai bentuk perjuangan di berbagai ranah kehidupan. Peluang jadi pahlawan selalu terhampar luas di tiap zaman. Saat ini, di negeri kita sendiri, ladang kepahlawanan sangat luas dan perlu ditanami. Siapa lagi kalo bukan kita, anak-anak muda Muslim, yang menanami? Sejarah menyebut, para pemimpin pahlawan pengusir penjajah dulu nyaris semuanya dari kalangan santri, kiai, ulama. Mereka udah mewariskan Indonesia merdeka buat kita. Kita mesti menjaganya.

Kemerdekaan yuridis udah kita punya. Tapi tentu itu sangat belum sempurna. Indonesia masih perlu dimerdekaan karena masih jadi negara jajahan dalam bentuk lain. Ia butuh pahlawan kekinian.

Saat ini Indonesia sedang mengalami penjajahan. Penjajahan kini nggak lagi kayak yang nenek moyang kita rasakan. Di antaranya, dulu, leluhur kita pernah mengalami bentuk penjajahan bernama Tanam Paksa. Dua per tiga lahan pertanian mereka mesti ditanami apa yang dikehendaki Belanda dan hasilnya mesti diserahkan ke dia. Padahal sawah ladang adalah sumber rezeki utama –nenek moyang kita petani subsisten. Tinggallah sepertiga lahan buat makan sehari-hari. Mereka dizalimi!

Sekarang, Belanda udah lama pulang kampung. Tapi, ada wajah baru melakukan penjajahan cara baru. Nggak lagi Tanam Paksa kayak dulu. Anak-anak muda Muslim penghuni alam tropis nan subur ini nggak boleh kotor tangannya, nggak boleh berlumpur kakinya. Kalo Belanda dulu menyiksa, si penjajah kekinian memanja. Anak-anak muda Muslim dimanja dengan gaya hidup orang kota. Nggak di desa nggak di kota, pokoknya mesti pakai gaya hidup kota.

Anak-anak muda Muslim pewaris sawah ladang Diponegoro, Hasanuddin, Cut Nyak Dien, oleh penjajah kekinian nggak lagi boleh bertani kayak kakek-neneknya. Mereka nggak boleh tampil dekil walau sekejap aja, mesti selalu tampil gaya. Pakaian mereka harus mengikuti tren terbaru yang si penjajah gelontorkan. Demikian pun makanan dan minumannya, harus bermerek keren dan dikemas dengan wadah keren dan dibeli ditempat keren. Di tempat si penjajah.

Anak-anak muda Muslim Indonesia merdeka nggak lagi boleh jalan kaki ke mana aja. Harus berkendara sendiri-sendiri, masing-masing harus punya kendaraan sendiri. Jalan macet harus dinikmati karena begitulah gaya hidup orang kota. Mereka juga nggak perlu khawatir nggak bisa beli. Kendaraan baru boleh dikredit. Baik hati banget memang si penjajah kekinian ini. Mereka selalu memanja anak-anak muda Muslim Indonesia.

Setelah sekian lama, lahirlah generasi yang taunya cuma gaya hidup manja. Mereka nggak kenal yang namanya proses: benih mesti disemai, ditaman, dipupuk, disiangi, dijaga dari hama, dipanen, dijemur, digiling, dimasak. Mereka nggak kenal proses itu semua. Taunya cuma nasi di piring. Entah itu campur plastik apa enggak, cuek aja. Yang ada di benak cuma kelezatan dan gaya. Satu yang nggak boleh ketinggalan adalah kamera. Jepret, unggah di social media. Bangga memajang foto makan dengan latar belakang merek ternama. Restoran milik si penjajah kekinian.

Generasi itu taunya cuma bim salabim abra kadabra. Mereka udah nggak mau capek-capek mengolah kekayaan alam tanah airnya kayak moyangnya dulu. Biar aja penjajah baik hati itu yang mengolahnya, pikirnya. Aku cuma butuh matangnya aja, pikirnya. Lama-lama, si penjajah kekinian bilang, “Tanah airmu kubeli sekalian ya, ntar duitnya bisa buat hepi-hepi, selfie-selfie di tempat keren yang udah kubikin kemarin. Dijamin deh, kamu bakal mendadak jadi artis medsos!”

Akhirnya, terjadilah transaksi jual beli negara ini. Setelah dibeli, Indonesia dijadikan anak cabang perusahaan milik si penjajah kekinian –nggak lagi jadi negara. Dan sekarang ini, kata Emha Ainun Najib, itu udah terjadi. Hari ini Indonesia udah nggak layak disebut negara. Ia cuma sebuah anak cabang perusahaan multinasional milik si penjajah kekinian.

Adakah pahlawan di sini? Pahlawan adalah mereka yang istiqamah berjuang melawan penjajah. Pahlawan bukan mereka yang begitu mudahnya ditipu si penjajah kekinian. Wahai anak-anak muda Muslim Indonesia, ayo kita rebut tanah air kita dari mereka. Ayo syukuri tanah air subur ini dengan bertani, jangan terus-terusan berbangga diri jadi konsumen industri! Wallahu a’lam. [IB]