(Panjimas.com) – Permulaan tahun adalah momen strategis buat merancang langkah menuju masa depan. Menuliskan titik tujuan dan batu-batu pijakan di sepanjang perjalanan menujunya. Semangat banget anak muda melakukannya, mereka berlomba jangan sampai kalah keren dari teman sejawatnya.

Awal tahun adalah saat terkumpulnya semangat baru yang sempat tercecer sejak sekian waktu. Tegap berdiri, mantab langkah kaki: menuju mimpi yang membayangi. Indah banget mimpi itu, rasa lelah sampai nggak terhirau. Semangat berapi-api jilatannya menjulang tinggi.

Anak muda memang luar biasa. Yang dibilang orang tua nggak bisa, ia lantang bilang bisa. Begitulah kalo semangat sedang membara. Tentu bagus banget kalo itu berjalan seterusnya.

Tapi, biasanya semangat membara itu nggak sanggup bertahan lama. Anak muda, jiwanya penuh dinamika. Mungkin banget hari ini membumbung tinggi, esok nggak nampak lagi. Mental kayak ginilah yang mesti diperbaiki.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memeroleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Fushshilat: 30).

Allah subhanahu wa ta’ala menginginkan hambanya nggak cuma punya semangat di depan lalu merapuh di perjalanan. Semangat menggapai cita-cita mulia harus senantiasa dijaga, jangan biarkan setan merampasnya di tengah perjalanan menuju tujuan!

“‘Ya Rasul, ajarkan Islam kepadaku yang mencakup seluruhnya sehingga aku tak bertanya lagi kepadamu sesudah ini!’ Beliau menjawab, ‘Yakinlah kepada Allah dan istiqamahlah!'” (Hr. Muslim).

Menjaga keteguhan adalah kunci kesuksesan. Orang yang saat start penuh semangat tapi di tengah jalan kehilangan semangatnya, sangat mungkin nggak bakal jadi pemenang. Sifat pemenang adalah menjaga semangat dan kerja keras di sepanjang lintasan hingga garis finish. Sederhana aja tapi bener-bener dijaga, jauh lebih baik ketimbang berkobar di awal tapi segera padam gitu aja. Anak muda Muslim mesti jadi kayu hutan yang tua, bukan jerami kering yang segera habis usai menyala!

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, ‘Amalan yang paling dicintai Allah ta’ala adalah yang berkelanjutan walaupun sedikit.'” (Hr. Muslim).

Ulama menjelaskan hadits ini dengan, “Agar kita bisa pertengahan (proporsional) dalam melakukan amalan dan berusaha melakukannya sesuai kemampuan. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang rutin dilakukan walaupun sedikit.”

So, yuk rancang langkah ke depan dengan penuh semangat dan ketelitian. Nggak usah muluk-muluk, realistis aja sesuai kemampuan kita. Dan yang penting, kita ikuti rancangan indah itu dengan tindakan nyata yang terus menyala hingga tercapai cita-cita!

Wallahu a’lam. [IB]