(Panjimas.com)
– Beberapa waktu lalu terjadi tindak kekerasan seorang murid pada gurunya sampe hilang nyawa. Menurut sebuah sumber, tuh peristiwa bermula saat pelajaran melukis. Si pelaku dikasih tugas tapi malah cuek. Setelah ditegur, tuh anak masih aja tetep cuek. Lalu Pak Guru negur pake cara beda, mengoleskan cat lukis ke pipinya. Apa yang terjadi? Eh, tuh siswa malah berucap nggak sopan. Dipukullah dia pake kertas absen yang tentu aja nggak bakal bikin cedera. Tapi dianya menangkis sembari meluncurkan pukulan balik ke pelipis kanan gurunya sampe tersungkur. Astaghfirullah… Lihat fragmen kayak gitu, teman-temannya melerai lalu ianya mau minta maaf ke Pak Guru yang udah disakitinya itu.

Sampai di rumah, Pak Guru merasakan kepalanya sakit lalu dibawa ke Puskesmas. Ternyata Puskesmas nggak sanggup menangani dan merujuknya ke rumah sakit kabupaten, yang ternyata juga angkat tangan. Akhirnya, dibawalah tuh Pak Guru malang ke rumah sakit provinsi. Tapi, guru muda yang baru berumur 26 tahun itu tetep nggak tertolong, meninggal dunia.

Tindak kriminal dan amoral oleh warga sekolah baik guru maupun siswa nggak cuma terjadi sekali dua kali. Banyak kelakuan biadab terjadi di banyak tempat dari masa ke masa. Tawuran antar pelajar, siswi hamil di luar nikah, aborsi, pelecehan seksual guru ke muridnya, aksi mesum antar guru, peredaran narkoba di sekolah, bahkan pesta seks usai ujian nasional. Itulah noda-noda instansi pendidikan yang sangat memilukan.

Peristiwa pemukulan Pak Budi dan sederet kejahatan tersebut oleh seorang ilmuwan disebut sebagai gambaran kematian pendidikan. Orang mati atau mayat adalah badan yang nggak punya nyawa atau ruh. Pendidikan yang mati adalah pendidikan yang nggak punya nyawa atau ruh. Dan pendidikan yang nggak punya ruh bakal memroduksi generasi mayat, generasi yang mati hatinya.

Lalu apa tuh yang dimaksud nyawa atau ruh pendidikan? Ruh pendidikan adalah keberadaan pancaran nilai Illahiyah (ketuhanan) dalam pendidikan. Sistem pendidikan yang punya ruh adalah sistem pendidikan yang dikaitkan dengan keberadaan Allah subhanahu wa ta’ala. Dan sistem pendidikan yang nggak punya ruh adalah sistem pendidikan yang nggak mengacuhkan keberadaanNya. Sifat sistem pendidikan yang punya ruh adalah mengintegrasikan seluruh bidang keilmuan denganNya, sedangkan sistem pendidikan yang nggak punya ruh, bersifat dikotomis: memisahkan hal yang bersifat materi dengan ketuhanan. Sistem pendidikan yang punya ruh meiliki visi, tujuan, kurikulum, guru, siswa, metodologi, pendanaan, dan fasilitas yang merujuk pada nilai-nilai Illahiyah, yang selaras dengan visi penciptaan manusia: beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala sebagai jalan memeroleh hak-haknya.

So, penyelenggaraan pendidikan yang punya ruh adalah sebentuk ibadah. Dan pendidikan tersebut bakal melahirkan generesi ulul albab.

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, terdapat (tanda-tanda kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'” (Ali Imran: 190-191).

So, yuk tinggalkan sistem pendidikan sekular dan kembali ke sistem pendidikan yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah!

Wallahu a’lam. [IB]