(Panjimas.com) – Remaja Muslim harusnya sering membaca kalam Illahi. Generasi muda Muslim harusnya rajin ngaji. Apalagi yang jadi penghafal al-Qur’an, tentu hari-harinya merupakan ruang dan waktu menghafal, mura ja’ah, dan setor hafalan.

Baca buku seyogianya juga jadi agenda penting remaja Muslim. Banyak banget buku ditulis dan diedarkan, sayang kalo nggak dibuka. Penulis-penulis muda bermunculan kayak jamur di musim hujan. Gaya tulisan mereka sesuai selera remaja. Sungguh sayang kalo jadi Muslim muda tapi nggak punya kebiasaan membaca. Di samping baca al-Qur’an, baca buku pun mesti dibiasakan.

Penulis-penulis Muslim udah menghadirkan bermacam-macam jenis karya. Bacaan fiksi berupa novel dan cerpen islami, juga bacaan non fiksi populer, ilmiah, dan sastrawi. Salah satu bentuk karya yang sastrawi adalah puisi.

Karya sastra yang biasanya mengedepankan keindahan permainan kata ini, belakangan kayak baru keluar dari pertapaan. Yang semula cuma dilirik oleh kalangan tertentu aja, pascakasus puisi ‘Ibu Indonesia’, umat Islam yang nggak pernah peduli sama puisi, bahkan anti puisi, jadi mau mendengar dan membaca puisi.

Puisi ada banyak ragamnya. Dan yang dewasa ini banyak ditulis adalah jenis puisi kontemporer. Puisi jenis ini bercirikan kebebasan berkreasi seluas-luasnya, nggak terikat banyak pakem kayak puisi lama. Jenis puisi yang dimotori oleh –salah satunya– Sutardji Calsoum Bahcri ini biasanya dijadikan sarana buat mengungkapkan pemikiran, kritik, atau gagasan penulisnya.

Puisi tuh karya sastra yang unik. Apalagi kalo bahasanya sangat imajinatif. Biarpun panjangnya nggak seberapa, cuma beberapa baris aja, tapi bisa dijabarluaskan sampai berhalaman-halaman. Satu puisi bisa memunculkan puluhan tafsir yang berbeda.

Kadang kala, menulis puisi yang cuma terdiri dari beberapa puluh kata aja panjang banget prosesnya, bisa berhari-hari lamanya. Dan dari wujud kata-kata itu, bisa ditemukan banyak banget pesan moral. Sebuah puisi bisa ditafsirkan menurut sudut pandang yang sama sekali berbeda, sesuai bidang yang digeluti penafsirnya. Puisi ‘Ibu Indonesia’ yang sempat heboh itu misalnya, mungkin banget bisa ditafsirkan dengan sudut pandang kedokteran, pertanian, juga matematika. Dan dari luasnya penafsiran itulah bakal muncul banyak hikmah.

Puisi tuh karya yang menuntut pembacanya nggak sekadar memandang yang tersurat. Ia menuntut pembaca mengerahkan energinya untuk berfikir secara luas dan mendalam.

Begitulah puisi. Biar secara kasat mata sederhana, cuma berisi beberapa baris kata, tapi sejatinya mengandung kekayaan yang besar. So, kita mesti peduli, nggak apatis sama puisi. Kalo kita apatis, ya para penentang hukum Tuhan yang menggunakan.

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah, dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzalimi (karena menjawab puisi-puisi orang-orang kafir). Dan orang-orang yang zalim kelak akan tahu ke tempat mana mereka akan kembali.” (asy-Syu’araa’: 224-227).

Wallahu a’lam. [IB]