(Panjimas.com) – Tiap April kita disuguhi barisan cewek dandan. Dari anak TK sampai nenek-nenek dandan menor pakai kebaya tampil di muka umum. Tiap April selalu hangat diobrolin sosok R.A. Kartini. Makin ke sini kayaknya makin besar kritisisme masyarakat. Apa Kartini emang sosok yang paling tepat sebagai ikon wanita Indonesia, atau sebenarnya ada yang lebih layak darinya?

Pengungkapan sosok Kartini selalu dikaitkan dengan opini kalo perempuan Indonesia zaman dulu diposisikan rendah. Bukti sejarah yang ditampilkan adalah surat-surat Kartini kepada dua perempuan Belanda yang jadi teman curhatnya. Surat-surat itu dikumpulkan dan dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, dan jadi terkenal banget.

Remaja Muslim nggak selayaknya menelan mentah-mentah opini itu. Di sini kita bakal mencoba menguak sejarah Muslimah Indonesia zaman dulu.

Kebudayaan adalah hasil kreasi manusia yang dipengaruhi oleh ideologi dan agama. Hasil penelusuran sejarah menunjukkan kalo kebudayaan di Indonesia sejak masuknya Islam sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Islam jelas banget nggak menganggap wanita sebagai makhluk yang hina. Menurut Islam, laki-laki dan perempuan itu setara. Yang membedakan kemuliaan manusia bukanlah jenis kelamin, melainkan ketaqwaannya.

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antaramu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (al-Hujuraat: 13).

Terhadap laki-laki dan perempuan, Islam cuma membedakan secara proporsional sesuai fitrahnya. Ngasih hak dan kewajiban  seadil-adilnya.

So, kalo Islam mengajarkan demikian, budaya bangsa Indonesia tentu juga sejalan. Keliru kalo ada anggapan, pada zaman dulu wanita Indonesia direndahkan.

Sejarah membuktikan, di zaman Kartini hidup, di Sumatra ada sosok wanita pejuang pendidikan bernama Rohana Kudus. Muslimah ini mulanya gencar melawan penjajahan lewat surat kabar yang dipimpinnya. Karena perlawanan itu, surat kabarnya dibreidel sama Belanda. Tapi ia nggak menyerah, ia melanjutkan perjuangan dengan mendirikan sekolah. Sekolahnya lebih besar daripada milik Kartini yang didengung-dengungkan.

Jauh sebelum itu, pada abad ke-16, istri Sultan Iskandar Muda II diangkat jadi ratu. Kisahnya, waktu itu Sultan wafat, sementara ia nggak punya anak. Musyawarah menyimpulkan kalo nggak ada sosok lain yang lebih mumpuni untuk menggantikan Sultan selain sang istri. So, diangkatlah Shafiyatuddin, istrinya. Pengangkatan wanita jadi kepala pemerintahan saat itu udah melalui ijtihad ulama. Ulama besar waktu itu adalah ar-Raniri.

Saat memerintah, Shafiyatuddin punya angkatan bersenjata wanita yang beranggotakan para janda. Panglima besarnya juga wanita, Panglima Malahayati.

Sementara, pada abad yang sama, perempuan Eropa berada dalam posisi terhina. Gaji jauh lebih rendah daripada laki-laki, dan mereka nggak boleh pegang jabatan publik. Kenapa begitu? Sekali lagi, kebudayaan suatu bangsa dipengaruhi ideologi dan agama. Masyarakat Kristen Eropa percaya kalo Adam berbuat dosa karena ulah Hawa. So, mereka menganggap perempuan sebagai makhluk yang merugikan. Bahkan sekte yang ekstrim berpendapat kalo perempuan adalah makhluk setengah setan, dan akan jadi setan seutuhnya waktu datang bulan.

Di Eropa, pendidikan buat kaum perempuan baru dimulai pada abad ke-20. Sebelum itu, perempuan Eropa dipaksakan jadi orang bodoh. Padahal, pada abad ke-7, di dunia Islam udah lahir sosok-sosok wanita cendikia. Ada Khadijah radhiyallahu ‘anha yang jadi saudagar besar, ada Aisyah radhiyallahu ‘anha yang banyak meriwayatkan hadits dalam usianya yang belia.

Jelaslah, penokohan Kartini dengan emansipasinya sarat kepantingan politik. Ini dijadikan pintu masuk gerakan feminisme di Indonesia. Gerakan yang mengada-ada. Kalo feminisme di Eropa itu wajar, tapi kalo di Indonesia ya salah tempat.

So, udah, deh, nggak usah ikut Kartinian lagi!

Wallahu a’lam. [IB]