(Panjimas.com) – Taukah kamu kalo tradisi gotong royong di Indonesia baru ada setelah masuknya Islam? Sebelum Islam datang, leluhur kita hidup dalam selimut budaya feodal, yang jelata tunduk melayani penguasa. Dalam tradisi Hindu dikenal sistem kasta. Terjadi sekat-sekat sosial, nggak setiap orang boleh berbaur gitu aja.

Kebudayaan adalah hasil kreasi manusia yang dipengaruhi ideologi dan agama. Dan taukah  kamu, siapa yang mempengaruhi banget kebudayaan Indonesia? Jawabannya adalah Islam. Tentunya sejak masuknya Islam di Nusantara.

Salah satu kekayaan budaya Indonesia yang dipengaruhi banget oleh Islam adalah bahasa. Bahasa Melayu merupakan bahasa yang dapat banyak banget asupan dari bahasa Arab. Selanjutnya, dalam Sumpah Pemuda 1928, para pemuda Indonesia bersepakat menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Dan taukah kamu yang dimaksud bahasa Indonesia waktu itu? Ya bahasa Melayu itu.

Salah satu kata dalam bahasa Indonesia yang bersumber dari bahasa Arab adalah “musyawarah”. Dan sejarah mencatat kalo nenek moyang kita baru punya budaya musyawarah setelah Islam datang. Budaya musyawarah selanjutnya melahirkan budaya gotong royong. Dulu, pengantin baru nggak perlu pusing mikirin tempat tunggal. Masyarakat bakal ngasih sumbangan kayu, bambu, genteng, dan bahan bangunan lainnya, lalu bergotong royong membuatkan rumah buat tuh pasangan muda. Masya Allah …. Begitu juga menggarap sawah, masyarakat saling bantu bergiliran dari sawah satu ke sawah lainnya. Kebersamaan mereka melahirkan ketenteraman hidup yang nyata.

Tapi kemudian datanglah fitnah besar, penjajah dari Eropa. Kaum imperialis kafir itu merusak budaya gotong royong dan menggantinya dengan individualisme. Sampai saat ini, pergeseran dari budaya gotong royong ke budaya individualis terus terjadi. Paling kentara bisa kita saksikan di kota-kota. Di antara yang mempengaruhi berkembangnya individualisme adalah kelahiran budaya instan.

Contoh budaya instan atau budaya sekali pakai adalah penggunaan air minum dalam kemasan dalam acara-acara kemasyarakatan. Langsung diminum dan gelasnya dibuang. Padahal sebelumnya yang dipakai adalah budaya gotong royong. Warga kampung bahu-membahu memasak air dan mencuci gelas usai dipakai.

Di perdesaan, budaya instan yang melahirkan individualisme terjadi di kalangan petani. Gotong royong petani tergeser oleh mesin-mesin pertanian, para buruh tani kehilangan mata pencaharian.

Budaya instan bikin orang jadi kayak robot, nggak peduli kepentingan orang lain. Orang jadi kayak binatang, yang dicari cuma perut kenyang. Udah capek ngejar uang, mereka pergi nyari hiburan. Ramailah kafe dan karaoke, miras dan artis laris manis. Sebaliknya, ruang-ruang spiritual ditinggalkan. Hedonisme melalaikan tujuan kehidupan.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka, dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberiKu makan. Sesungguhnya Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan, lagi sangat kokoh.” (adz-Dzaariyaat: 56–58).

Umat Islam yang lama meninggalkan ruang spiritual jadi kebingungan. Mereka terjerumus dalam kemaksiatan. Masuk kafe menenggak miras. Lalu datanglah sekelompok Muslim lain, saudaranya sendiri, di kafe tempat bersenang-senang. Mereka berteriak ini haram itu haram. Para Muslim kebingungan marah karena waktu rehatnya diusik. Lalu, berantemlah kedua kubu Muslim itu dan beritanya beredar ke mana-mana. Anak cucu penjajah bergelak tawa melihat tayangannya.

Mari merenung bersama wahai kaum muda Muslim Indonesia! Mari belajar mengurai persoalan dari pangkalnya dan mencari solusi terbaiknya!

Wallahu a’lam. [IB]