JAKARTA (Panjimas.com) – Ketua Tanfidzi Front Pembela Islam (FPI), Buya Abdul Majid, menjelaskan dengan detil, kronologis penyerangan yang diduga dilakukan oknum Banser dan preman Ambon, di kediamannya, Jalan Kramat Lontar, Senen, Jakarta Pusat, pada hari Selasa (18/4/2017) dini hari.

Buya Majid menyebut, kasus penyerangan tersebut diduga berawal dari masalah soal dukungan salah satu Paslon dalam Pilkada DKI Jakarta, yang ditolak warga. Apalagi hal itu terjadi di masa tenang.

Kemudian, dalam insiden penyerangan tersebut, para pelaku diduga membawa senjata tajam. Tak hanya itu, ada beberapa orang yang menjadi korban penganiayaan pelaku penyerangan.

Di akhir keterangannya, Buya Abdul Majid menyampaikan pernyataan sikap, berikut ini lima poin pernyataan sikap tersebut, selengkapnya:

  1. Mengutuk gerombolan preman yang mengatasnamakan Ansor dan Banser NU yang telah menyerang dengan brutal warga muslim Kramat Lontar yang menolak pembagian sembako dari paslon nomor 2 di hari tenang ini.
  2. Mendesak kepolisian untuk menangkap para penyerang berikut para pimpinannnya serta mengusut dugaan keterlibatan dalam menggerakkan massa tersebut.
  3. Menuntut KPUD untuk mendiskualifikasi pasangan Ahok-Djarot karena melakukan pelanggaran berat di hari tenang, yakni dengan pembagian sembako dan pengerahan preman dengan seragam Ansor dan Banser untuk adu domba umat Islam.
  4. Menyerukan kepada segenap masyarakat Jakarta untuk menjaga keamanan Ibu Kota serta ikut berjuang menjaga Pilkada yang jujur, aman, dan damai.
  5. Menyerukan kepada laskar FPI dan jawara Betawi untuk meningkatkan pengamanan ulama dan umaro di Jakarta, hingga suasana Pilkada benar-benar kondusif.

Setelah insiden penyerangan ini, pihak Banser dikabarkan telah menemui Ketua Tanfidzi FPI DKI Jakarta, sehingga terjadi perdamaian. [AW]