JAKARTA (Panjimas.com) – Muhammad Natsir, adalah seorang ulama, politisi dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi, dan tokoh Islam terkemuka Indonesia.

Di dalam negeri, ia pernah menjabat menteri dan perdana menteri Indonesia, sedangkan di kancah internasional, ia pernah menjabat sebagai presiden Liga Muslim se-Dunia (World Muslim Congress) dan ketua Dewan Masjid se-Dunia.

Sudah menjadi sunatullah, para ulama yang lurus dan berbicara tegas kepada penguasa, akan mendapatkan ujian. Begitulah Natsir, ia sempat mencicipi dinginnya terali besi oleh rezim Nasakom, Soekarno pada tahun 1962.

Saat dirinya mendapat ujian tersebut, terjadilah peristiwa pengkhianatan G 30S/PKI. Aksi pemberontakan biadab itu pada akhirnya gagal, hingga para tokoh PKI pun dijebloskan ke dalam penjara.

Tak disangka, Natsir serta tokoh Masyumi lainnya, yang merupakan musuh bebuyutan pendukung PKI hingga menyebabkan dirinya dipenjara itu, dipertemukan Allah di balik terali besi.

Artawijaya, penulis buku dan mantan wartawan Sabili, mengungkapkan pengalamannya mewawancara Ahmad Syata, supir sekaligus orang dekat Pak Natsir dalam bedah buku “Dari Kata Menjadi Senjata” di Masjid di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq, Jl Otista Raya, Jakarta Timur, pada Ahad (01/10/2017).

Saat para tokoh Masyumi berada dalam satu penjara bersama dengan orang-orang PKI, mereka tak lantas melampiaskan dendam untuk saling berseteru di dalam bui. Padahal, orang-orang komunis pada waktu itu dalam keadaan tak berdaya. Jika mereka mau, sangat mudah untuk menghabisi eks PKI itu yang memang dalam keadaan depresi, lemah dan tak berdaya.

Namun, apa yang dilakukan Natsir terhadap orang-orang PKI itu? Natsir justru mengajak mereka untuk bertaubat dan mempelajari Islam. “Izinkan saya mengajak anda kembali kepada Islam…” demikian kata Natsir dengan penuh ketulusan. Orang-orang kiri lantas terharu. Mereka saling berangkulan. Di antara mereka adalah Pramoedya Anta Toer, sosok seniman Lekra/PKI yang menjadi seteru para aktivis partai Masyumi.

Kisah selanjutnya, silahkan simak penuturan Artawijaya dalam video berikut ini.