(Panjimas.com) – Sebanyak 31 pekerja infrastruktur jalan Trans-Papua dari PT Istaka Karya dilaporkan tewas dibantai oleh di dua lokasi di wilayah Kabupaten Nduga, Papua, Ahad, (2/12/2018).  Padahal sebelumnya, pada hari Sabtu Cahyo, pemimpin proyek jembatan Wamena-Habema-Mugi dihubungi pemimpin Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM), Egianus Kogoya, dengan menggunakan nomor salah satu pekerja Istaka.

Awalnya kelompok kriminal bersenjata menembak 24 pekerja yang sedang membangun jembatan, mereka ditembak di Kali Yigi dan Kali Yaurak. Kedua lokasi ini ada di Distrik Yigi. Sementara itu, delapan pekerja lain berhasil kabur menuju ke rumah anggota DPRD Nduga di Distrik Yigi. Namun, puluhan anggota kelompok kriminal bersenjata terus mengejar mereka. Tujuh orang ditembak di rumah anggota DPRD dan salah satu pekerja dapat melarikan diri. Motif penembakan itu diduga terkait aksi 1 Desember 2018. Tanggal itu diperingati sebagai hari ulang tahun kemerdekaan Papua oleh sejumlah pihak.

Kelompok ini pada bulan Juni 2018, juga masuk ke Kampung Koteka, Buah Tengah, Distrik Kenyam, 16 orang bersenjata laras panjang jenis AK-47 enam pucuk, Fabrique National Carabine (FNC) dua pucuk, dan pistol dua pucuk, sedangkan yang lainnya bersenjata panah, tombak. dan golok, mereka melakukan intimidasi dan membunuh pendatang. Kelompok Egunius Kogoya juga yang pernah melakukan perampasan senjata SS1 milik anggota Zipur 10.

Kemana 3.500 Satgasus Polri?

Papua menjadi salah satu provinsi paling rawan dari sisi keamanan. Oleh karena itu, Kepolisian Negara RI membentuk Satuan Tugas Khusus atau Satgassus Polri menjelang Pemilu 2019. Selain mencegah aksi teror kelompok kriminal bersenjata, Satgassus juga bertugas menyukseskan pembangunan dan membantu kehidupan sosial di sejumlah wilayah Papua. Sejak dibentuk enam bulan lalu, operasional Satgassus Papua diperpanjang kembali hingga tiga bulan ke depan. Sekitar 3.500 anggota Satgassus merupakan pasukan gabungan dari Polda Papua, Markas Besar Polri, dan Tentara Nasional Indonesia.

Pembentukan Satgassus Papua diinisiasi Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Kamavian seiring ancaman kelompok kriminal bersenjata (KKB) yang berpotensi mengganggu Pilkada 2018, di antaranya di Kabupaten Puncak Jaya dan Nduga. Satgassus bekerja sama dengan TNI mengejar KKB yang mengganggu keamanan di sejumlah wilayah.

Selain meningkatkan keamanan di daerah rawan KKB, Satgassus Papua memastikan program pemerintah di Papua berjalan baik, terutama pembangunan infrastruktur. Satgassus sepatutnya diberlakukan di daerah yang tingkat kerawanannya tinggi, seperti Papua Gangguan keamanan yang menghambat Pilkada 2018 di Papua menunjukkan potensi ancaman KKB masih besar. Namun, anggota Satgassus Papua juga harus menjamin netralitas di Pemilu 2019.

Biasanya kelompok penyerang ini kerap dimanfaatkan atau memanfaatkan dalam situasi pilkada. Ada kecenderungan kelompok tertentu memanfaatkan kelompok ini supaya mereka melakukan intimidasi kepada masyarakat untuk memilih pasangan tertentu di Pilkada. Kita dukung penegakan hukum dan berharap kasus ini segera diselesaikan agar tidak terjadi eskalasi ancaman yang lebih besar menjelang pemilu 2019. [RN]

 

Penulis, Jaka Setiawan

Pengamat Intelijen Independen