Oleh: Taryono Asa, Wartawan Senior

(Panjimas.com) –Beberapa hari ini ada kata yang lagi hit. “kafir” dan “Non Muslim”. Lanjutan dari kata kata tersebut merembet ke sebuah Surah Al Kafirun dalam Al Qur’an, yang oleh orang yang khawatir terhadap larangan penggunaan kata ” kafir” diubah menjadi Surah Al Non Muslimun. Sebuah kekhawatiran yang kebablasan sebenarnya.
Ayo coba kita cari tahu, sebenarnya lebih bagus mana kata ” Kafir” dengan kata “Non Muslim”

Kata “Kafir” berasal dari kata Kafara” yang artinya tertutup,dan disebutkan dal Al Qur’an sebanyak 525 kali..Tertutup di sini maknanya sangat luas. Bisa tertutup kalbunya, tertutup pikirannya, tertutup untuk menerima nilai-nilai kebenaran yang berasal dari Allah Swt.

Sesuatu yang tertutup bisa dibuka. Di sinilah tugas orang-orang yang beriman untuk membuka hati dan pikiran orang-orang yang masih tertutup agar terbuka dan kembali ke jalan Allah. Caranya melalui dakwah. Dakwah yang mengajak bukan dakwah yang mengejek

Kata kafir ini sesungguhnya merupakan teguran bagi orang yang beriman agar tidak melihat rendah mereka yang belum seiman (sebab hanya Allah yang bisa membuka dan menutup hati) dan berjuang untuk membuka mata hati mereka.

Kalau sekarang ini ada seruan untuk melarang menyebut orang-orang yang belum beriman dengan sebutan kafir dan diganti dengan sebutan non muslim, ayo jernihkan dulu pikiran kita.

Denga kita merujuk arti kafir sebagaimana di atas yang artinya tertutup, maka kata itu jauh lebih baik, lebih sopa, lebih santun dan lebih elegan penyebutan kata kafir dibanding dengan sebutan non muslin atau non Islam.

Karena kata “Muslim” berasal dari kata “Islam” yang juga berasal dari kata “Salam”. “Salam” bisa diartikan “damai” atau “selamat”. Jadi, “non-Muslim” berarti “orang yang tidak damai” atau “tidak selamat,” yang bisa jadi berarti celaka..

Dr. Muhammad Zulfikar Rakhmat dalam tulisannya yang lagi viral di medsos secara tegas menyebutkan memanggil sekelompok orang sebagai mereka yang “tertutup” jauh lebih santun daripada mereka yang “tidak damai” atau “tidak selamat”.

Karena itu sebelum kita mengutak-atik bahasa yang sudah Allah pilihkan untuk kita, lebih baik kita sami’na waatho’na. Yakinlah semua yang Allah tentukan buat kita ummat manusia yang Ia tuangkan dalam.kitab suci Al Qur’an akan sangat baik buat kita.