PANDEGLANG, (Panjimas.com) – Lembaga Amil, Zakat, Infaq, dan Shadaqah Nasional Dewan Da’wah (Laznas Dewan Da’wah) dan Baitul Mal Elkisi (BME) Mojokerto, memberikan penyuluhan tanggap bencana kepada warga Kecamatan Cigeulis, Pandeglang, Banten.

Penyuluhan disampaikan berbarengan dengan pemberian bantuan sarana ibadah dan paket sembako kepada seratusan warga terdampak bencana tsunami Banten Desember 2018.

Sosialisasi tanggap bencana disampaikan di Mushola Imam Bin Hasan Desa Cigeulis, Kec Cigeulis, Pandeglang. Mushola ini dikelola Ustadz Bey Hanafi, da’i Dewan Da’wah yang pernah bertugas di pedalaman Nusa Tenggara Timur.

Acara serupa dilangsungkan Majlis Taklim Kampung Bambu Koneng, Desa Banyuasih, Cigeulis, yang diasuh Ustadz Solihin. Dusun ini berada tak jauh dari bibir pantai Tanjung Lesung, Pandeglang, yang tempo hari dihajar tsunami.

Di hadapan Ketua RT, tokoh masyarakat, dan ibu-ibu majlis taklim Cigeulis, Deputy Direktur LAZNAS Dewan Da’wah Nurbowo mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negeri yang sangat berpotensi bencana alam. Mulai dari tsunami, erupsi gunung api, longsor, banjir, kebakaran hutan, dan lain-lain.

“Takdirnya, kita hidup di Indonesia yang berpotensi banyak terjadi bencana alam. Tanah yang kita injak ini misalnya, adalah sambungan dari lempengan-lempengan bumi yang tiap saat bergerak dan mengalami gesekan, sehingga setiap saat negeri kita terjadi gempa walaupun kecil. Tapi kalau sudah di atas 2 skala Ritcher mulai terasa. Kemudian kita punya 129 gunung api yang suatu saat bisa erupsi,” paparnya.

Diantaranya Nurbowo menyebutkan gunung api Merapi, gunung Kelud, Merbabu, Krakatau, Bromo, Tambora, dan gunung Sinabung. “Hampir semua tempat di Indonesia ini tidak aman. Kalau kita ke bulan juga repot juga, tidak ada kipas angin, hehehe,” katanya berseloroh.

Nurbowo mengatakan, jika ada musibah, kita harus bersangka baik karena pasti ada hikmahnya. Sebab, di balik setiap bencana alam ada beberapa pelajaran yang dapat dipetik.

Pertama, untuk terus meningkatkan kualitas iman dan amal. Katanya, ‘’Dengan bencana alam kita jadi lebih dekat kepada Allah dan bersemangat untuk beribadah.’’

Hikmah lainnya, bencana mengundang donatur dan simpatisan datang ke lokasi dan berjumpa dengan bapak-bapak dan ibu-ibu.

‘’Kita lebih dekat menjalin silaturahim dan bertukar ilmu serta pengalaman,’’ ucap Nurbowo.

“Selain itu, seperti erupsi Gunung Merapi yang menyemburkan awan panas ‘wedus gembel’ dan menewaskan banyak orang, namun setelah itu berton-ton pasir dengan kualitas terbaik dikeluarkan oleh gunung Merapi. Nah, itu satu truknya cuma Rp 70.000. Silakan diambil sendiri. Cuma  kalau diambil sama tauke sudah lain lagi harganya,” imbuhnya disambut riuh para masyarakat yang hadir.

Oleh karena itu, kata Nurbowo, pada setiap musibah yang terjadi, umat Islam harus ridha atas segala ketetapan yang Allah gariskan. Menyitir Surat Al-Baqarah ayat 212 tentang jihad qital, ia menjelaskan bahwa kita harus bersangka baik pada apapun takdir Ilahi.

“Boleh jadi kamu tidak suka atau membenci sesuatu, tetapi itu baik bagimu. Boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah yang tahu. Kita tidak tahu apa-apa. Karena itu, apapun takdir yang menimpa kita harus diterima dengan berprasangka baik atau husnudzan,” ujarnya.

Namun, kita tetap wajib berikhtiarmencegah dan menghindari bencana alam. Diantaranya dengan tidak melanggar perintah Allah serta tidak melanggar sunatullah seperti merusak lingkungan alam sekitarnya.

Nurbowo mengungkapkan, Laznas Dewan Da’wah segera menerbitkan Buku Panduan Syari’ah Tanggap Bencana untuk bahan penyuluhan masyarakat. [ES]