SRAGEN, (Panjimas.com) – Sungguh berat ujian hidup yang dijalani Ustadz Ahmad Darmanto (47). Juru dakwah yang juga berprofesi pengusaha konveksi itu tiba-tiba menjadi insan yang lemah di pembaringan, akibat gagal ginjal yang dideritanya.

Ia tak bisa lagi menjadi macan mimbar berkhotbah dan mengajarkan dinul Islam keliling dari kampung ke kampung. Ia juga tak bisa lagi berinfaq mendukung dakwah karena usaha konveksinya ludes dijual untuk biaya berobat dan membiayai sekolah dan pesantren anak-anaknya.

Pengurus dan jamaah Masjid At-Taqwa Talun sangat kehilangan dengan uzurnya Ustadz Darman dari dunia dakwah. Posisinya sebagai Takmir Masjid sangat vital dan selama ini mampu menggerakkan roda dakwah, khususnya di kawasan Desa Sidokerto Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen Jawa Tengah.

Usai divonis gagal ginjal oleh dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sragen, ustadz Darman lebih banyak menghabiskan waktunya dengan istirahat di rumah. Aktivitas ibadah, tilawah Al-Qur’an juga dilakukan di pembaringan.

Sebagai ikhtiar pengobatan, sudah 3 bulan ustadz veteran Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) ini harus bolak-balik pergi dari Sragen ke Solo untuk menjalani cuci darah. Dua kali sepekan ia harus cuci darah ke RS Hermina Solo, dengan biaya perjalanan sekitar 300 ribu rupiah sekali berobat. Dalam sebulan, minimal harus ada dana sebesar 2,5 juta rupiah untuk transportasi cuci darah ke Solo. Sementara biaya Hemodialisa Rp 1.300.00 sekali cuci darah sudah ditanggung BPJS.

Saat di besuk Relawan IDC di RS Hermina Solo, Ustadz Darman nampak lemah di ruang hemodialisa (HD). Dua selang menancap di dada sebelah kanan menuju mesin pencuci darah. “Satu jam tadi saya ngerasa menggigil saat cuci darah. Kata dokter, orang yang sakit ginjal itu kalau sekarang bisa tertawa, besok belum tentu bisa tertawa. Naik turunnya HB itu yang berbahaya,” ujarnya dengan suara berat kepada Relawan IDC, Senin lalu.

Awalnya, menjelang Idul Fitri bulan Juni lalu Ustadz Darman merasa sakit di sekujur tubuhnya. Padatnya jadwal taklim Ramadhan, ia abaikan rasa sakitnya. Pikirnya cuma asam urat biasa. Tapi badannya makin lemah lunglai hingga sulit untuk melangkahkan kaki. Dalam kondisi darurat, para jamaah dan tetangga melarikannya ke RSUD Solo.

Dokter yang telah melakukan serangkaian tes laboratorium, mendiagnosa Ustadz Darman menderita gagal ginjal dan harus segera menjalani cuci darah. Bila terlambat, maka racun tubuh menyebar ke seluruh organ dalam dan bisa mengancam nyawanya.

Mengandalkan Gaji Istri Guru TK Rp 250 Ribu Perbulan

Kejayaan usaha konveksi Ustadz Darman tinggal kenangan saat semua dijual untuk keperluan berobat, biaya sekolah dan pesantren anak-anaknya. Di saat ekonomi terpuruk, kebutuhan keluarga justru meningkat tajam.

Saat ini, selain kebutuhan hidup sehari-hari, kebutuhan urgen yang dipikulnya adalah biaya pengobatan 2.400.000 perbulan, serta biaya pendidikan anak-anaknya di sekolah dan pesantren sekitar Rp 1.000.000 perbulan.

Sementara Ustadz Darman uzur mencari nafkah karena sakit, tulang punggung ekonomi keluarga saat ini hanyalah sang istri, Ismi Hidayati. Dari profesi mengajar Taman Kanak-kanak dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), Ummi Ismi mendapat honor sebesar Rp 250.000 perbulan.

Penghasilan sebesar itu, jangankan untuk menutupi kebutuhan berobat dan biaya sekolah sebesar 3.500.000, sekedar untuk menutupi biaya hidup sehari-hari saja belum cukup. Benar-benar Memprihatinkan Kondisi Keluarga Pejuang Dakwah Ini.

Semua Anaknya Berprestasi

Beratnya beban hidup yang dipikulnya, pejuang dakwah ini mendapat penghiburan yang membanggakan. Hasil didikan dakwah keluarga, semua anaknya rajin ibadah, akhlaknya terpuji, otaknya sangat cerdas dan berprestasi di sekolah.

Saat berkunjung ke rumahnya, di dinding kasar yang belum difinishing itu, terpajang bermacam-macam piala dan penghargaan.

Anak sulungnya, Ummu Ubaidah selalu meraih peringkat pertama selama belajar di SMPIT An-Nur Gemolong. Ia pernah menyabet gelar Juara 1 lomba Khotbah 3 bahasa tingkat SMA di Surakarta. Ia juga pernah menjadi juara Dai Cilik berkali-kali.

Sedangkan Atikah Imtiyaz, putri kedua juga tak kalah hebat. Semua nilai mata pelajaran jauh di atas rata-rata kelas. Ia pun menjadi juara di sekolah. Sementara anak ketiga Wulan At-Taqiyah (9) masih duduk di bangku SD dan Bahrul Ulum (2) masih balita.

Dalam kondisi sulit, Ustadz Darman dan Ummi Ismi berharap agar pendidikan anak-anaknya terjamin, karena mereka adalah investasi masa depan Islam dan keluarga. Meski ekonomi serba sulit dan sang suami uzur sakit gagal ginjal, urusan biaya sekolah anak-anak tidak boleh terbengkalai. Pasangan keluarga pejuang dakwah ini memiliki obsesi agar semua anaknya sukses menjadi dai penghafal Al-Quran.

Selama hidupnya sehat dan jaya, Ustadz Ahmad Darmanto mendedikasikan waktu, harta, energi dan pikirannya untuk dakwah islamiyah. Saat dirundung uzur sakit gagal ginjal, menjadi kewajiban kaum Muslimin untuk mengulurkan bunga-bunga sosial kepeduliannya. Untuk membantu biaya pengobatan dan pendidikan anak-anaknya menjadi generasi robbani pejuang Islam.

Solidaritas Mujahid Dakwah

Ujian yang menimpa Ustadz Ahmad Darmanto adalah beban kita juga, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).

Infaq untuk membantu meringankan musibah sesama muslim adalah cara mengundang berbagai kemudahan dan pertolongan Allah Ta’ala.

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومَ القِيَامَةِ, و مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ, و مَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ الله في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ, و الله في عَونِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَونِ أَخِيهِ

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut senantiasa membantu saudaranya…” (HR Muslim).

Donasi untuk membantu pengobatan Ustadz Darmanto, bisa disalurkan melalui program Solidaritas Mujahid Dakwah:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  7. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  8. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  9. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 6.000 (enam ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.006.000,- Rp 506.000,- Rp 206.000,- Rp 106.000,- 56.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: infaqDakwahCenter.com.
  • Bila biaya program ini sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Info & Konfirmasi: 08122.700020.