TANGERANG, Infaq Dakwah Center (IDC) – Relawan IDC, menunaikan amanah para muhsinin (donatur) menyerahkan bantuan untuk anak-anak yatim Abdullah Fitri Setiawan atau yang akrab disapa Dufi.

Saat bertakziyah ke rumah almarhum Dufi, di Cluster Catalina, Gading, Serpong, Tangerang, Banten, Relawan IDC menyampaikan bela sungkawa yang mendalam. Sejumlah karangan bunga tanda duka cita pun banyak terpampang di halaman.

Muhammad Ali Ramdhoni, adik kandung Dafi, saat ditemui Relawan IDC menyampaikan bahwa pihak keluarga mendapatkan kabar duka, awalnya dari pihak aparat kepolisian.

“Mas Dufi, sejak Sabtu sudah tidak pulang. Tapi ada polisi yang datang ke rumah,” kata pria yang akrab disapa Doni, kepada Relawan IDC, Selasa (20/11/2018).

Kapolsek Klapanunggal, AKP Bimantoro Kurniawan, yang menyampaikan langsung kepada pihak keluarga, bahwa aparat kepolisian mendapatkan temuan sesosok jenazah korban pembunuhan, di sebuah tong plastik berwarna biru, pada .

Aparat kepolisian kemudian meminta pihak keluarga memastikan, apakah benar, jenazah tersebut adalah Abdullah Fitri Setiawan atau Dufi, di Rumah Sakit Polri Kramat Jati.

“Ada luka di leher, luka di punggung, sama di belakang, lukanya luka tusuk. Kalau di depan itu luka menganga, maaf, luka seperti digorok,” ujar Doni.

Betapa sadisnya, Doni menyebut keterangan kepolisian, kondisi saat pertama ditemukan jasad Dufi telanjang tanpa pakaian, dalam posisi tangan dan kaki terikat di dalam drum plastik yang dilakban. Tidak ada kartu identitas, uang, smartphone, laptop, termasuk mobil pun raib.

Polisi menemukan jasad Dufi di Kampung Narogong, Desa Kembang Kuning, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada Ahad (18/11/2018). Setelah olah TKP, hanya dengan berbekal sidik jari, polisi melakukan identifikasi, hingga kemudian menghubungi keluarga korban.

Sosok Dufi di Mata Keluarga

Bayu Yuniarti Hendriani, istri dari almarhum Abdullah Fithri Setiawan alias Dufi masih terlihat bersedih, saat ditemui Relawan IDC.

Bagaimana tidak, sejak menerima kabar wafatnya sang suami, lantaran dibunuh secara sadis, ia begitu shock.

Selama ini, Dufi adalah sosok yang baik, bertanggung jawab dan merupakan tulang punggung keluarga. Tak disangka, kebersamaannya di dunia, berakhir begitu cepat.

“Almarhum, pak Dufi itu sangat bertanggungjawab, sama keluarga, sama anak-anak, sama keluarga besar saya, sama keluarga besar beliau, tidak membeda-bedakan, adil, ke anak-anak juga adil. Dan sayangnya umurnya hanya 43 tahun, bersama kami,” kata Bayu Yuniarti Hendriani kepada Relawan IDC, dengan suara sendu menahan tangis.

Demi menghidupi keluarga, Dufi rela banting tulang bekerja di dua instansi media, yakni di TV Muhammadiyah (TVMU) dan di TVRI.

“Bulan ini dia itu sangat capek, lelah, banyak pekerjaan yang harus dikerjakan karena dia kerja di dua tempat, di TV Muhammadiyah dan TVRI. Jadi orangnya total, mengerjakan sesuatu sampai selesai,” ujarnya.

Aktivitas terakhir Dufi yang diketahui sang istri adalah syuting TVMU untuk iklan sebuah perusahaan di daerah Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada hari Kamis (15/11/2018).

Usai syuting, Dufi pulang tengah malam. Yuniarti tak memiliki firasat apapun. Keesokan harinya, Jum’at (16/11/2018), Dufi hendak beraktivitas seperti biasa. Tak disangka, itulah pertemuan terakhir kali Yuniarti dengan sang suami.

“Hari Jum’at berangkat sekitar jam 07.30 WIB, masih kontak sama saya sampai jam 08.40 WIB. Jadi saya mengirimkan surat (via WA), karena anak saya yang ke lima, mendapatkan surat dari sekolah bahwa orang tua harus hadir pada hari Sabtu, dan dijawab ‘iya nanti kita hadir’,” ungkapnya.

Yuniarti pun heran, Dufi bisa segera menjawab percakapan via WhatsApp (WA), padahal ketika berangkat, sang suami mengendarai mobil.

“Saya tanya, ‘papah naik kereta atau naik mobil?’ terus jawaban dia, ‘parkir sta’ (parkir di stasiun). Dari situ saya pikir dia nggak naik mobil, dari situ saya tahu karena dari rumah fisiknya lain ya, capek badannya, matanya merah, capek banget,” ujarnya.

Kemudian, ketika Yuniarti berusaha menghubungi Dufi sekitar pukul 10.00 WIB melalui WA, tidak ada respon.

“Saya itu mau mengingatkan, takutnya dia ketiduran di TVMU kalau mau shalat Jum’at tapi tidak dibalas, tidak diread, cuma centang dua. Sampai besoknya saya telpon, saya WA, tidak dibalas. Akhirnya sampai hari Minggu itu baru ada polisi datang, menyampaikan berita duka,” tuturnya.

Dufi Dikenal Rajin Ibadah dan Mendidik Anaknya di Pesantren

Muhammad Ali Ramdhoni, adik kandung Dufi mengungkapkan, bahwa kakaknya yang ia kenal, adalah sosok yang rajin beribadah.

“Almarhum ini rajin melaksanakan ibadah. Terutama terhadap anak-anak, ia selalu mengingatkan anak-anaknya untuk shalat dan ngaji,” ujarnya.

Salah satu ibadah sunnah yang rajin dilaksanakan adalah shalat dhuha dan tahajjud. Menurut Doni, kakaknya semakin berusaha mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, ketika keluarga besar sering menggelar pengajian bersama.

“Dunianya dia bangun, akhiratnya juga dibangun. Semenjak itu beliau rajin untuk shalat dhuha, shalat tahajjud. Minimal dhuhanya tidak ketinggalan,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Dufi juga memberikan karya sekaligus amal shalihnya di TV Muhammadiyah. Di tempat itu, Dufi bekerja sebagai freelance sales marketing.

“Beliau sangat antusias saat Muhammadiyah membentu stasiun televisi. Beliau bilang sama istrinya, “mah, Muhammadiyah sekarang bikin televisi, aku mau bantu-bantu, karena aku kan dibesarkan juga di Muhammadiyah,’” kata Doni.

Dufi yang merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) tersebut, sebelumnya mengawali karir di Harian Rakyat Merdeka. Ia juga sempat bekerja di Indopos. Kemudian di staf marketing di Berita Satu dan staf marketing di iNews TV.

IDC Beri Santunan Anak Yatim Almarhum Abdullah Fitri Setiawan

Dufi berharap anak-anaknya kelak memiliki semangat keislaman yang tinggi. Untuk itu mengirimkan anak-anaknya untuk menimba ilmu ke pondok pesantren. Dufi ingin, mereka menjadi anak-anak shalih dan shalihah.

“Almarhum meninggalkan enam orang anak, tiga orang putri dan tiga orang putra,” ujar Doni.

Berikut ini anak-anak  Abdullah Fitri Setiawan:

  1. Nabila Rifdah Ramdaniyati (16), Kelas III SMA di Ponpes La Tansa
  2. Halwati Najwa (15), Kelas I SMA di Ponpes La Tansa
  3. Aisyah Fitria Nuzula (13), Kelas II MTS 1 Cikokol
  4. Fachri Syakur Al Fatih (10), Kelas V SD Mutiara Insani
  5. Ibrahim Jamal Al Masyuhri (8),  Kelas III SD Mutiara Insani
  6. Ismail Tamam Al Marzuq (6), belum bersekolah.

Terakhir, Relawan IDC menyerahkan bantuan tunai, santunan kepada anak-anak yatim Almarhum Abdullah Fitri Setiawan, sebesar Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah).

Pihak keluarga Almarhum Abdullah Fitri Setiawan menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan yang diberikan IDC.

“Saya ucapkan terima kasih kepada IDC yang telah membantu,” tutur Bayu Yuniarti Hendriani, istri Almarhum Abdullah Fitri Setiawan.

Relawan IDC pun berpamitan sembari mendoakan semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi ujian dan anak-anak yatim Almarhum Abdullah Fitri Setiawan menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah.