BEKASI, (Panjimas.com) – Sudah lima tahun berlalu, Aslan Pasaribu harus menapaki kehidupannya dengan satu kaki. Kaki kanan pria Batak asal Sorkam Tapanuli Tengah, Sumatera Utara itu diamputasi akibat kecelakaan tertabrak truk pada tahun 2014.

Naasnya, Pasaribu menjadi korban tabrak lari truk ugal-ugalan, sehingga semua biaya pengobatan harus ditanggung sendiri. Akibatnya, untuk biaya pengobatan rawat inap selama enam bulan di RSUD Pandan Sibolga, rumah orang tua Pasaribu pun terjual.

Alhamdulillah, meskipun sempat koma dan dirawat secara intensif selama enam bulan, Allah Ta’ala masih memberinya “kehidupan kedua.” Pasaribu kembali sehat, meski sepotong kaki kanannya telah mendahului dikubur.

Dalam kondisi cacat (disabilitas) kaki, Pasaribu bertekad untuk menjalani sisa hidupnya dengan berusaha menjadi insan yang taat beribadah dan hidup mandiri. Pasca kesehatannya pulih, ia berangkat merantau ke pulau seberang pada tahun 2016.

Perjalanan jauh rela ditempuh Pasaribu untuk mengadu nasib, dari Tapanuli tanah kelahirannya ke berbagai daerah, hingga terdampar di Pekanbaru, Lampung, Jakarta, Bandung dan berbagai daerah lainnya.

Hampir Murtad Karena Iming-Iming Misionaris

Di tengah pengembaraannya, Pasaribu sempat mendapatkan godaan iman. Ketika terdampar di Riau, Pasaribu sempat mendapat iming-iming harta dari seorang misionaris. Ia dijanjikan uang dan berbagai fasilitas menggiurkan, dengan satu syarat harus berpindah iman menjadi penganut Kristen.

“Saya sempat berhenti di Riau dan bertemu dengan bapak pendeta. Dia menawarkan segala hal, harta, rumah dan usaha. Saya sempat tertarik dengan tawaran itu. Tapi alhamdulillah akhirnya masih bisa saya tolak dengan kekuatan Allah, dengan istigfar dan doa,” ujarnya kepada Relawan IDC, Selasa (29/1/2019).

Pasaribu menambahkan, kaum lemah dan disabilitas seperti dirinya memang kerap menjadi target aksi-aksi pemurtadan. Karenanya, ia mengimbau kepada saudara-saudara sesama penyandang disabilitas agar waspada. Jangan sampai menggadaikan iman demi harta, supaya tidak menjadi orang cacat di dunia dan akhirat.

“Janganlah menggadaikan Iman. Orang-orang yang cacat dan senasib seperti saya ini jangan sampai menjual iman, aqidah dan akhlak. Jangan sampai kita ini sudah cacat di dunia, nanti cacat pula di akhirat. Celaka kalau cacat selama-lamanya,” tegasnya.

Pasaribu selalu terngiang pesan khutbah yang ia dengar setiap Jum’at: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim,” (Qs Ali Imran 102).

Dalam pengembaraannya, Pasaribu selalu merenungi apa hikmah di balik musibah yang dialaminya? Dulu fisiknya normal dan gagah, tetapi kini kakinya cacat, ekonomi sulit, bahkan kerap dipandang sebelah mata oleh masyarakat.

Seiring berjalannya waktu, ternyata, Pasaribu mulai memetik hikmah kesabaran dan peningkatan iman di balik ujian hidupnya. Baginya, apapun musibah yang menimpa dirinya adalah takdir dan kasih sayang Allah yang harus ia terima dengan ikhlas.

Pasaribu pun terus berbenah, mendekatkan diri kepada Allah dan memperbanyak ibadah sebagai ungkapan keridhaan atas ujian yang dihadapinya.

“Sewaktu saya sehat masih jauh dengan Allah. Tapi semenjak kaki saya diambil Allah, saya jadi mengenal Allah. Jadi saya sangat senang biar pun tidak punya kaki. Sangat bersyukur alhamdulillah, biar pun tidak punya kaki. Saya tidak putus asa. Biarpun mau mati, saya tidak menyesal lagi, karena sudah bisa mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.

Metamorfosa Menjadi Sosok Mandiri dan Rajin Ibadah

Setelah berkelana ke berbagai daerah, kini Pasaribu terdampar di kawasan Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Di tempat ini Pasaribu memulai hidup baru dalam komunitas orang-orang shalih di lingkungan Masjid Al-Hikmah Tambun.

Aktif shalat berjamaah dan taklim di masjid membuat hidupnya tenang seolah terlahir dengan spirit dan harapan baru.

Pak Suripto, Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Hikmah Tambun, sangat terkesan dengan kesungguhan Pasaribu dalam beribadah di masjid.

“Kami kenal beliau kurang lebih dua tahun yang lalu. Kami bangga dengan beliau. Alhamdulillah untuk shalat lima waktu cukup rajin. Kalau ada di rumah insya Allah beliau selalu istiqamah untuk shalat subuh sampai isya berjamaah di masjid,” ujarnya.

Saat pertama kali datang ke Tambun, Pasaribu menumpang tidur di masjid karena ia tak memiliki sanak saudara untuk menumpang tinggal. Melihat kondisi Pasaribu yang tak memiliki tempat tinggal, DKM Al-Hikmah berinisiatif menolongnya dengan membangun sepetak rumah non permanen.

“Alhamdulillah ada jamaah masjid yang menolong dengan membangun rumah sederhana di belakang masjid dan sampai saat ini Bang Pasaribu tinggal di situ,” terangnya.

Meski demikian, kondisi Pasaribu masih memprihatinkan karena belum memiliki pekerjaan. Karena tak memiliki penghasilan, Pasaribu pun sering tak makan.

“Kalau aktivitas sehari-hari tidak ada, paling saya shalat ke masjid. Untuk makan kadang dikasih sama jamaah masjid. Kalau nggak ada yang ngasih, saya nggak makan karena saya nggak mau minta-minta, saya nggak mau mengemis. Kalau lapar ya saya tahan sendiri, saya puasa,” ujar Pasaribu.

Butuh Modal Usaha dan Kendaraan Ramah Disabilitas

Walaupun hidup sulit, tak bisa mencari nafkah seperti orang lain yang fisiknya normal, Pasaribu pantang menyerah. Ia tak mau terpuruk oleh keadaan apalagi mengemis. Tekad itu ia pegang kuat-kuat. Bahkan, ia berpesan kepada sesama penyandang disabilitas untuk tidak putus asa.

Impiannya saat ini tak muluk-muluk. Jika memiliki modal, ia hanya ingin hidup mandiri dengan berdagang bensin eceran dan memiliki bengkel tambal ban.

“Ya kalau ada modal saya bisa buka bengkel tambal ban dan menjual bensin eceran. Itu saja sudah alhamdulillah,” ungkapnya.

Selain itu, untuk memulai usaha Pasaribu juga terkendala transportasi. Sepeda motor modifikasi roda tiga kesayangannya sudah mulai uzur dan sering masuk bengkel. Maklum motor butut itu sudah bertahun-tahun membawanya berkelana ke berbagai pulau.

Kini motor butut itu, sudah mulai rusak, berkarat dan sakit-sakitan. Starter elektriknya mati, starter manual soak, rem juga kurang berfungsi, sehingga berbahaya saat dikendarai, roda mulai botak, kerangka besi mulai keropos dan berkarat.

Para pengurus Masjid Al-Hikmah sangat mendukung program produktif IDC untuk membantu permodalan Pasaribu. DKM  mengimbau agar kaum Muslimin membantu modal usaha dan fasilitas sepeda motor ramah disabilitas bagi Pasaribu.

“Kami mengharapkan kepada seluruh pemirsa, barangkali ada yang terketuk hatinya untuk membantu Pasaribu. Beliau kakinya teramputasi satu. Beliau sebenarnya ingin hidup mandiri seperti yang lain. Beliau tidak ingin tergantung kepada orang lain, jadi beliau ingin mandiri. Untuk itu apabila ada pemirsa yang ingin membantu beliau, kami sangat berharap sekali itu bisa terwujud,” ungkap Suripto, pengurus Masjid Al-Hikmah.

Infaq Produktif untuk Ahli Ibadah Penyandang Disabilitas

Infaq Produktif adalah program pemberdayaan umat yang bertujuan untuk “merubah mustahiq menjadi munfiq,” yaitu maksimalisasi infaq untuk meningkatkan kesejahteraan umat Islam dalam bentuk dana bergulir untuk permodalan usaha bagi kalangan dhuafa yang belum memiliki pekerjaan, atau pengembangan usaha bagi kalangan yang usahanya minim.

Melalui program ini, infaq para donatur akan sangat produktif dan multiguna untuk memberdayakan umat agar berkemandirian dalam bidang ekonomi, pendidikan, sosial dan dakwah.

Dengan membantu meringankan kesulitan saudara sesama mukmin, insya Allah akan mendatangkan keberkahan, pertolongan dan kemudahan di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُنْيَا نَفَّسَ الله عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَومَ القِيَامَةِ و مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ و مَن سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ الله في الدُنيَا و الأَخِرَةٍ و الله في عَونِ العَبْدِ ما كان العَبْدُ في عَونِ أَخِيهِ

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut senantiasa membantu saudaranya…” (HR Muslim).

Bunga-bunga kasih kepedulian kaum Muslimin sangat dibutuhkan untuk membantu penyandang disabilitas Pasaribu menjadi Muslim kaffah yang mandiri. Donasi bisa disampaikan melalui program INFAQ PRODUKTIF IDC ke nomor rekening:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syari’ah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Bukopin Syariah, No.Rek: 880.218.4108 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BTN Syariah, No.Rek: 712.307.1539 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank Mega Syariah, No.Rek: 1000.154.176 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  7. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  8. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  9. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 80011.6699.300 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  10. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 5.000 (lima ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.005.000,- Rp 505.000,- Rp 205.000,- Rp 105.000,- 55.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: www.infaqDakwahCenter.com.
  • Bila biaya sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.