(Panjimas.com) – Setiap tahun, setiap kali perayaan tahu baru Imlek Cap Go Meh, umat Islam, sebagian besar dari kalangan dhuafa, terlihat berbaris di depan kelenteng untuk mengharapkan pemberian angpao dari pemuja berhala dari kalangan keturunan Tionghoa. Sungguh memprihatinkan.

Untuk menjaga ketauhidan dan terhindar dari kemusyrikan, umat Islam dari kalangan awam perlu tahu, apa itu Cap Go Meh? Apa aktivitasnya?

Ditinjau dari aspek aqidah Islam, perayaan tersebut apabila “diikuti oleh umat Islam sangat membahayakan aqidah umat Islam” mengingat aqidah  agama Islam  itu.

Mengapa membahayakan aqidah umat Islam yang mengikutinya? Karena, rangkaian acara Cap Go Meh tersebut tarhadap aqidah Islam banyak mengandung kesyirikan atau mempersekutukan Allah, yaitu “Tuhan Yang Maha Esa”.

Oleh karena itu, jika ada para pemuda Islam atau umat Islam yang ikut-ikutan merayakannya, berarti secara tidak mereka sadari akan terjerumus dalam perilaku kemusyrikan dan terjebak dalam kemurtadan dari Islam tanpa disadarinya. Oleh sebab itulah para ulama mengingatkannya.  Hal ini dinyatakan oleh Allah berikut ini;

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati (mengikuti) orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang kepada kekafiran, lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. (Ali Imran (3):149)

Ritual Penyembah Berhala

Perayaan “Cap Go Meh” adalah perayaan tahun baru Imlek bagi etnis China atau Tiong Hoa. Sistem penanggalan China atau tahun Baru Imlek ini menggunakan berbagai elemen yang dipadukan secara komprehensip seperti Matahari, Bulan, Rasi Bintang/Shio, Musim, 5 unsur alam dan energy.

Berdasarkan cerita legenda kuno, tahun baru china dirayakan awal mulanya ketika orang China berhasil mengalahkan Dewa Mitos yang disebut Nian yang berarti Tuhan dalam bahasa China. Makhluk Nian ini selalu muncul pada hari pertama tahun baru dan kedatangan Nian ini untuk memangsa korban berupa hewan ternak, merusak hasil pertanian, dan bahkan memangsa penduduk, terutama anak-anak.

Untuk bisa selamat dari petaka kemurkaan Nian, masyarakat China akan menaruh sesajen di depan pintu rumah-rumah mereka pada hari pertama tahun baru sampai hari ke lima belas, dengan keyakinan bahwa jika berbagai makanan ini dimakan oleh Nian, maka Nian tidak akan lagi menyerang dan memangsa warga.

Suatu ketika, ada seorang warga yang mengintip dan melihat dewa Nian ketakutan dan lari menghindar dari seorang anak yang memakai kostum serba merah.  Semenjak itu, setiap menjelang tahun baru Imlek penduduk selalu menggantungkan lentera berwarna merah, dan asesoris rumah-rumah mereka yang dominan berwarna serba merah. Selain itu masyarakat China kuno juga menyulut berbagai petasan untuk mengusir dan menakut-nakuti dewa Nian.

Terlepas dari mitos ini,  perayaan ini biasanya dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 menurut penanggalan Imlek dan berakhir pada hari ke-15 atau tanggal 15 (Cap Go Meh) bulan pertama tahun Imlek mereka.

Rangkaian acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada dewa Thian dan perayaan Cap Go Meh (tanggal 15).  Selain itu, ciri khas perayaan Imlek dan Cap go Meh ini adalah adanya ornament-ornamen rumah berwarna serba merah, persembahan kue keranjang, angpao, lentera, petasan/mercon dan parade/pawai barongsai. (disadur dari berbagai sumber oleh ech-wan 21 Jan 2009 dengan referensi Wikipedia: Chinese New Year.  Wikipedia: Chinese Zodiak, Wikipedia : Chinese Astrologi, Wikipedia: ImlekPicture Xinhua)

Dari sebagian penelusuran sejarah di atas ditemukan bahwa rangkain kegiatan Imlek dan Cap Go Meh tersebut merupakan adat istiadat dan akulturasi kebudayaan yang bersumber dari berbagai mitos keyakinan dan kepercayaan yang di anut oleh bangsa China kuno. (desastian)