(Panjimas.com) – Kebohongan besar berawal dari kebohongan kecil. Kebohongan yang dilakukan terus menerus akan menjadi sebuah pembenaran dan kebiasaan. Maka cilakalah orang yang suka berbohong. Hingga ia tak menyadari kebohongan yang dilakukan sebagai sebuah dosa.

Jika kita baca sejarah pribadi besar Nabi Muhammad Saw, selama 40 tahun beliau menjadi pribadi yang jujur hingga digelari Al-Amin, baru kemudian diangkat menjadi utusan Allah untuk mengajarkan Islam kepada umat manusia.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ciri-ciri orang munafik ada tiga: Apabila berkata dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya berkhianat.

Semasa Rasulullah SAW masih hidup, seorang sahabat bertanya, ”Mungkinkah seorang Mukmin itu pengecut?”
”Mungkin,” jawab Rasulullah.
”Mungkinkah seorang Mukmin itu bakhil (kikir)?”
”Mungkin,” lanjut Rasulullah.
”Mungkinkah seorang Mukmin itu pembohong?”
Rasulullah SAW menjawab, ”Tidak!”

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (Q.S. 40 : 28).
Kemudian Nabi SAW berwasiat agar kaum muslimin berpegang teguh pada kejujuran dan membuang jauh-jauh sifat pembohong. Dalam hadits berikut beliau bersabda :

“Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menghantarkan kepada surga. Seseorang yang berbuat jujur oleh Allah akan dicatat sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya bohong itu akan menunjukkan kepada kelaliman, dan kelaliman itu akan menghantarkan ke neraka. Seseorang yang terus menerus berbuat bohong akan ditulis oleh Allah sebagai pembohong.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah pembohong/pendusta. (QS An Nahl 16:105)

Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amir ra, “Rasulullah Saw pernah datang ke rumah kami yang saat itu aku masih kecil. Lalu aku ingin keluar untuk bermain. Lalu ibuku memanggilku, “Hai kemarilah aku kasih kamu. Kemudian, Rasulullah bertanya, “Apakah sebenarnya kamu tidak ingin memberinya?”

Ibuku menjawab, “Aku akan kasih dia kurma.” Lalu Rasulullah bersabda, “Adapun jika kamu tidak memberinya apa-apa maka dicatat atasmu perbuatan dusta.” (HR. Abu Dawud).

Jika terhadap anak kecil saja, kebohongan tetap dinilai dusta, bagaimana jika janji itu kepada seluruh rakyat Indonesia?

“Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin. Dan tahukah engkau apakah Sijjin itu? (Yaitu) kitab yang berisi catatan (amal). Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan! (yaitu) orang-orang yang mendustakannya (hari pembalasan).” [Al-Muthaffifiin/83:7-11]

Itulah sebabnya, bohong merupakan salah satu tanda-tanda nifaq (kemunafikan). Islam memandang kebohongan adalah induk dari berbagai dosa dan kerusakan dalam masyarakat. Krisis multidimensi yang melanda negara kita bermuara dari ketidakjujuran. Pantas saja jika praktik korupsi bak gurita yang tumbuh subur, menggerogoti sendi-sendi kebangsaan. Entah itu pedagang, pemuka agama, tokoh masyarakat, pendidik, pejabat, hingga pemimpin negara.

Mari kita tegakkan kejujuran dan berhenti berbohong. Kejujuran tidak cukup sekadar slogan, tapi harus menjadi karakter dan kultur masyarakat. Sistem pemerintahan yang bersih dan transparan hanya dapat terwujud kalau para pemimpin dan segenap elemen bangsa konsisten dengan prinsip kejujuran.

Bahkan, kebohongan dengan maksud orang lain tertawa pun dilarang oleh Islam. Rasululllah Saw bersabda, ““Celakalah orang yang berbohong agar orang lain tertawa, celakalah dia, celakalah dia.” (HR. Abu Dawud no. 4990, Tirmidzi no. 2315, Darimi no. 2705, Ahmad 5/7).

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Bohong tidaklah dibenarkan, baik sungguh-sungguh maupun sekedar main-main.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/363).

Ulama besar dari Universitas Al-Azhar, Kairo, Sayid Sabiq (almarhum) ketika menukilkan hadis ini dalam bukunya Islamuna menjelaskan bahwa iman dan kebiasaan bohong tidak bisa berkumpul dalam hati seorang Mukmin. Rasulullah SAW berwasiat agar umat Islam memiliki sifat jujur dan menjauhi sifat pembohong. Sebab, Islam tidak akan tumbuh dan berdiri kokoh dalam pribadi yang tidak jujur. (des)