Oleh: Abu Shofiyyah

(Panjimas.com) – Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama itu nasihat”. Kami pun bertanya, “Nasihat kepada siapa?”. Beliau menjawab, “Nasihat untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)”. (HR. Muslim)

Wajib bagi seorang Muslim untuk tunduk dan patuh kepada-Nya. Ketika Allah Azza wa Jalla mencintai suatu perbuatan, maka wajib bagi hamba-Nya untuk mencintai hal tersebut. Namun, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak meridhoi atau membenci suatu hal, maka wajib bagi seorang Muslim untuk membenci dan tidak meridhoinya juga. Karena, kecintaan dan kemurkaan seorang Muslim mengikuti cinta dan murkanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sepak bola adalah salah satu olahraga yang banyak digemari kaum Muslimin. Hukum asal bermain atau menonton sepak bola adalah mubah, namun bisa berubah menjadi haram ketika di dalamnya terdapat aurat yang terbuka, ditinggalkannya kewajiban sholat, terdengarnya suara musik, dan lain sebagainya.

Sudah menjadi hal biasa ketika seseorang yang menonton pertandingan sepak bola rela mengorbankan waktu tidurnya hanya untuk melihat tim kebanggaannya bertanding. Akibatnya, sholat malam diabaikan dan sholat Shubuh kesiangan.

Hal ini memprihatinkan, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيهِ

“Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi no. 2318, shahih lighoirihi)

Ketika kita membahas permasalahan begadang (tidur larut malam), Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang umatnya begadang, kecuali untuk keperluan agama seperti mencari ilmu atau mengajarkan agama Islam.

Dari Abu Barzah radhiallahu ‘anhu:

أنَّ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – كان يكرهُ النَّومَ قَبْلَ العِشَاءِ والحَديثَ بَعْدَهَا. متفقٌ عليه

“Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai tidur sebelum shalat ‘Isya dan berbincang-bincang setelahnya.”

Bagaimana dengan begadangnya seorang Muslim yang tidak ada keperluan untuk menuntut ilmu ataupun mengajarkan agama Islam? Sungguh hal itu adalah perbuatan yang dimakruhkan. Dan, bahkan bisa terjatuh ke dalam perbuatan yang dilarang oleh Allah Azza wa Jalla ketika ia meninggalkan kewajiban sholat, seperti sholat Subuh.

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu berkata, “Sesungguhnya begadang malam didimakruhkan.”

Bagaimana dengan begadangnya seorang Muslim untuk menonton pertandingan sepak bola yang di dalamnya terdapat aurat yang terbuka, terdengarnya suara musik, dan lain-lain? Jelas hal ini tidak ada perbedaan pendapat bahwasannya perbuatan tersebut dilarang oleh Allah dan rasul-Nya.

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“..Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” [Al-Hasyr: 7]

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Seorang laki-laki janganlah melihat aurat laki-laki lainnya. Begitu pula seorang wanita janganlah melihat aurat wanita lainnya.” (HR. Muslim no. 338)

Salah seorang ulama kontemporer, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin pernah ditanya mengenai hukum pertandingan sepakbola dengan menggunakan celana pendek dan bagaimana hukum menontonnya.

Syaikh ‘Utsaimin rahimahullah menjawab, “Pertandingan sepak bola itu boleh selama tidak melalaikan dari yang wajib. Jika pertandingan semacam itu sampai melalaikan dari yang wajib, dihukumi haram. Jika sampai menyia-nyiakan mayoritas waktu dan aktivitasnya hanya sibuk dengan sepakbola, maka itu dibenci (makruh).

Adapun bila pertandingan sepakbola tersebut dengan celana pendek sehingga menampakkan paha, seperti itu tidak boleh. Yang tepat, setiap pemuda wajib menutup paha. Tidak boleh menonton sepakbola dalam keadaan pemainnya membuka pahanya.” (Fatawa Islamiyyah, 4: 431). Dua fatwa di atas dinukil dari Fatwa Al Islam Sual wal Jawab no. 95280

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya kepada kita.