TASIKMALAYA, (Panjimas.com) –  Sudah hampir tahun lamanya, Yoyo Sunaryo (53) bertarung melawan tumor ganas yang bersarang di lengan kanannya. Setiap saat Kang Yoyo, sapaan akrabnya, merintih menahan dahsyatnya rasa sakit, perih, ngilu, dan cekot-cekot. Jika kambuh, sakitnya makin menjadi karena diiringi sesak nafas.

Tumor ganas itu menyerang persendian lengan tangan kanan hingga ke bahu, yang terus membesar hingga seukuran bola futsal. Hanya istigfar dan tawakkal yang membuat pecinta masjid ini mampu bersabar menghadapi ujian hidup.

Sejak tumor ganas menyerang tangannya pada tahun 2015, Kang Yoyo hanya bisa beristirahat total di rumahnya. Didampingi Ibu Maryati, istri tercintanya, aktivitasnya yang paling berharga saat ini hanyalah ibadah dan zikir.

Kang Yoyo tak bisa lagi mencari nafkah dari profesinya sebagai satpam di sekolah SMK ternama Tasikmalaya. Padahal ia adalah tulang punggung keluarga yang harus memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.

Tumor ganas Kang Yoyo bermula tiga tahun yang lalu. Sekira pukul 03.00 dini hari ia bangun dari tidur saat terdengar azan pertama, untuk menunaikan shalat tahajjud. Tak seperti biasanya, saat itu lengan dan pundaknya terasa sakit, linu dan nyeri berat.

“Sekitar pukul 03.00 ngadangu azan awal. Pas bangun, tangan dekat bahu berasa ngajeletot arah urat dan sarap, langsung merasakan kesakitan”, paparnya.

Esoknya, Kang Yoyo diterapi pijat oleh ahli pijat di kampungnya. Namun terapi pijat berhari-hari itu tak membuahkan hasil kesembuhan, hingga sang ahli pijat menyatakan tidak sanggup, dan menyarankan agar berobat ke ortopedi atau medis saja.

“Awalnya saya sakit di bagian tangan, terus dipijit dan tiap-tiap malam hari suka terasa kram, kemudian diperiksa ke dokter, dokter memvonis katanya ada penyempitan urat sarap, kemudian ada muncul benjolan yang sekarang membesar kaya begini,” tambahnya.

Hari demi hari terus berlalu dengan rasa sakit yang tak ada habisnya, bahkan muncul benjolan yang terus membesar. Atas saran berbagai pihak, Kang Yoyo beralih ikhtiar ke terapi ruqyah syar’iyah, tapi tak kunjung berhasil juga.

Tak putus asa, ia pun menempuh berbagai pengobatan ke herbalis dan medis meski hasilnya nihil. Saat berobat ke Rumah Sakit Dr Sukardjo Tasikmalaya, dokter orthopedi angkat tangan dengan alasan tidak sanggup karena fasilitas dan sarana yang belum lengkap. Kang Yoyo pun dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Di rumah sakit ini baru diketahui bahwa ia menderita tumor ganas.

Sampai saat ini, Kang Yoyo sudah bolak-balik berobat ke RSHS hingga 10 kali. Meski biaya rumah sakit ditanggung BPJS, tapi untuk sekali berobat harus menyiapkan dana sekurang-kurangnya dua juta rupiah untuk sewa kendaraan pulang pergi, akomodasi, kebutuhan hidup selama di Bandung dan biaya pengobatan yang tidak ditanggung BPJS.

Qadarullah, Kang Yoyo tak bisa lagi melanjutkan pengobatan ke rumah sakit sejak enam bulan silam karena terkendala dana. Benjolan tumor di lengannya pun semakin membesar dan terlihat urat membiru seperti mau meletus.

Sedih Tak Bisa Lagi Berjamaah Dan Membiayai Pesantren Kedua Anaknya

Di mata keluarga, sanak saudara, jamaah masjid dan warga sekitar, Kang Yoyo dikenal sebagai pribadi yang baik, ramah, aktif shalat berjamaah dan. Di masjid dekat rumah, Kang Yoyo biasa menjadi imam tarawih, muadzin, amil zakat, panitia qurban dan berbagai aktivitas kemasjidan lainnya.

Namun sejak mendapat ujian sakit, tumor ganas memaksanya tidak bisa berjamaah dan beraktivitas lagi di masjid. Ia sangat sedih karena tak kuat lagi melangkah ke masjid. Bila dipaksa melangkah akan mengakibatkan sesak pernafasan.

Selain penyakit tumor ganas, beban hidup paling memilukan dalam benak Kang Yoyo adalah nasib pendidikan kedua buah hatinya, Fajar Nugraha (16) dan Muhammad Latif (14) di sekolah Islam tingkat Aliyah dan Tsanawiyah. Ia begitu sedih karena sama sekali tak bisa membiayai sekolah kedua anaknya untuk merajut masa depan yang berkemajuan dalam ilmu, iman dan Islam.

Fajar Nugraha yang sudah memiliki hafalan 3 Juz Al-Qur’an, saat ini duduk di bangku kelas 1 Aliyah Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) Al-Amin Cikoneng Ciamis. Setiap hari harus berangkat pulang pergi Tasik – Cikoneng demi mengejar ilmu dan cita-cita. Sedangkan Muhammad Latif saat ini duduk di bangku kelas 2 Tsanawiyah SMP Muhammadiyah Tasikmalaya.

“Putra bapak nu sakola kantun 2, murangkalih nu hiji namina Fajar (16) di Aliyah Persatuan Islam (Persis) Al Amin, Cikoneng, nu hiji deui di Tsanawiyah Muhammadiyah Kota Tasik,” ungkapnya pilu dalam bahasa Sunda.

(Anak bapak tinggal dua yang masih sekolah, satu namanya Fajar di Aliyah Persatuan Islam Al-Amin Cikoneng, satunya lagi Latif (14) di Tsanawiyah Muhammadiyah Kota Tasik),” ungkapnya kepada relawan IDC.

Infaq Darurat Peduli Kasih Sesama Muslim

Sejak tumornya makin ganas dan membesar, Kang Yoyo sudah tidak bisa lagi mencari nafkah. Ia berhenti bekerja karena uzur dan fokus pada pengobatan penyakitnya. Namun dengan terpaksa ia menghentikan ikhtiar pengobatannya karena kendala biaya yang cukup besar.

Kang Yoyo ingin melanjutkan pengobatan hingga sembuh total agar bisa berjamaah di masjid, bekerja, menafkahi keluarga dan membiayai sekolah anak-anaknya di pesantren.

Kini, bunga-bunga kasih kepedulian kaum Muslimin sangat dibutuhkan untuk membantu pengobatan tumor Kang Yoyo.

“Beginilah kondisinya, tangan kanan saya bengkak semakin membesar. Saya sudah ikhtiar berobat ke mana-mana dari medis, tradisional, herbal hingga ruqyah, tapi belum ada hasilnya. Saya memohon kepada yayasan yang saya ketahui agar membantu penyembuhan penyakit saya,” ujarnya dengan suara tersengal-sengal saat dibesuk Relawan IDC.

Ujian berat yang diderita saudara kita Kang Yoyo adalah beban kita juga, karena persaudaraan setiap Muslim ibarat satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh lainnya otomatis terganggu karena merasakan kesakitan juga.

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam” (Muttafaq ‘Alaih).

“Barangsiapa menghilangkan kesulitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan orang yang tengah dilanda kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa membantu seorang hamba selama hamba tersebut senantiasa membantu saudaranya…” (HR Muslim).

Donasi untuk membantu pengobatan tumor Kang Yoyo bisa disalurkan melalui program INFAQ DARURAT ke Rekening IDC:

  1. Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.3005 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  2. Bank BNI Syariah, No.Rek: 293.985.605 a.n: Infaq Dakwah Center.
  3. Bank Mandiri Syar’iah (BSM), No.Rek: 7050.888.422 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  4. Bank Mandiri, No.Rek: 156.000.728.7289 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  5. Bank BRI, No.Rek: 0139.0100.1736.302 a.n: Yayasan Infaq Dakwah Center.
  6. Bank CIMB Niaga, No.Rek: 675.0100.407.006 a.n Yayasan Infak Dakwah Center.
  7. Bank BCA, No.Rek: 631.0230.497 a.n Budi Haryanto (Bendahara IDC).

CATATAN:

  • Demi kedisiplinan amanah dan untuk memudahkan penyaluran agar tidak bercampur dengan program lainnya, tambahkan nominal Rp 3.000 (tiga ribu rupiah). Misalnya: Rp 1.003.000,- Rp 503.000,- Rp 203.000,- Rp 103.000,- 53.000,- dan seterusnya.
  • Laporan penyaluran dana akan disampaikan secara online di: www.infaqDakwahCenter.com.
  • Bila biaya pengobatan sudah tercukupi/selesai, maka donasi dialihkan untuk program IDC lainnya.
  • Info: 08122.700020.