Kisah Miqdad bin Amr: Prajurit Berkuda Pertama dalam Islam (1)

(Panjimas.com) – Ketika membicarakan Miqdad bin Amr, para sahabat dan teman dekatnya berkata, ”Orang yang pertama memacu kudanya dalam perang di jalan Alah ialah Miqdad bin Al-Aswad”. Miqdad bin Al-Aswad yang mereka maksudkan itu ialah tokoh kita Miqdad bin Amr.

Miqdad termasuk dalam rombongan orang-orang yang masuk Islam lebih awal, dan orang ketujuh yang menyatakan keislamannya secara terus terang, sehingga harus menanggung penderitaan oleh kemurkaan dan kekejaman orang-orang Quraisy.

Miqdad hidup dengan keberanian para ksatria dan keberuntungan para pengikut setia. Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat Rasulullah lainnya, mengatakan, ”Aku telah menyaksikan perjuangan Miqdad, sehingga aku lebih suka menjadi sahabatnya daripada segala isi bumi ini.”

Pada hari yang diawali dengan ketegangan itu, yakni ketika Quraisy datang dengan kekuatannya yang dahsyat, dengan semangat dan tekad yang bergelora, dengan kesombongan dan keangkuhan mereka. Pada hari itu, jumlah kaum muslimin masih sedikit dan sebelumnya tidak pernah mengalami peperangan untuk mempertahankan Islam, dan inilah peperangan pertama yang mereka hadapi. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam menguji keimanan para pengikutnya dan meneliti persiapan mereka untuk menghadapi tentara musuh yang datang menyerang, baik pasukan pejalan kaki maupun angkatan berkuda.

Para sahabat diajak bermusyawarah. Mereka mengetahui bahwa jika beliau meminta buah pikiran dan pendapat mereka, itu berarti beliau sedang menghadapi suasana kritis.

Miqdad khawatir kalau di antara kaum muslimin ada yang merasa berat untuk bertempur. Karena itu, sebelum ada yang angkat bicara, Miqdad ingin mendahului mereka untuk mengungkapkan kalimat-kalimat tegas dan dapat menyalakan semangat juang dan turut mengambil bagian dalam membentuk pendapat umum. Tetapi, sebelum ia menggerakkan kedua bibirnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq telah mendahuluinya dengan kata-kata yang sangat berkesan, hingga hati Miqdad menjadi tenteram karenanya. Setelah itu Umar bin Al-Khatthab menyusul bicara, dengan ungkapan yang menakjubkan pula.

Kini giliran Miqdad bicara, “Wahai Rasulullah, laksanakanlah apa yang ditititahkan Allah, dan kami akan bersamamu. Demi Allah kami tidak akan berkata seperti yang dikatakan Bani Israil kepada Musa, ‘Pergi dan berperanglah kamu bersama Tuhanmu, sedangkan kami akan duduk dan menunggu di sini.’ Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, ‘Pergi dan berperanglah engkau bersama Tuhanmu, dan kami ikut berjuang bersamamu.’ Demi Dzat yang telah mengutusmu membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami ke dalam lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kirimu, di bagian depan dan di bagian belakangmu, hingga Allah memberikan kemenangan kepadamu.”

Ungkapan tersebut lepas bagai peluru yang diluncurkan. Dan wajah Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam pun berseri-seri karenanya, sementara mulut beliau komat-kamit mengucapkan doa yang baik untuk Miqdad. Kata-kata tegas yang diungkapkannya itu membangkitkan semangat kepahlawanan dalam kumpulan yang baik dari orang-orang beriman, bahkan dengan kekuatan dan ketegasannya, kata-kata itu pun menjadi contoh teladan bagi siapa yang ingin berbicara, serta menjadi semboyan dalam perjuangan.

Sungguh, kalimat-kalimat yang diucapkan Miqdad bin Amr itu mencapai sasarannya di hati orang-orang beriman, hingga Sa’ad dan Mu’adz pemimpin kaum Anshar bangkit berdiri, dan berkata, “Wahai Rasulullah, kami telah beriman dan membenarkanmu. Kami telah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa itu adalah benar dan untuk itu kami telah mengikat janji dan kesetiaan kami. Karena itu, majulah, wahai Rasulullah, laksanakanlah apa yang engkau kehendaki, dan kami akan selalu bersamamu.

Demi Dzat yang telah mengutusmu membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami masuk ke dalam lautan ini, kami akan memasukinya. Tidak akan ada seorang pun di antara kami yang akan berpaling dan tidak seorang pun yang akan mundur untuk menghadapi musuh. Sungguh, kami akan tabah dalam peperangan, teguh dalam menghadapi musuh dan semoga Allah memperlihatkan kepadamu perbuatan kami yang berkenan di harimu. Kerahkanlah kami dengan berkat dari Allah!” Hati Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassalam pun penuh dengan kegembiraan, lalu bersabda kepada sahabat-sahabatnya, “Berangkatlah dan besarkanlah hati kalian.”

Dan kedua pasukan pun berhadapanlah. Anggota pasukan Islam yang berkuda ketika itu jumlahnya tidak lebih dari tiga orang, yaitu Miqdad bin Amr, Martsad bin Abu Martsad dan Az-Zubair bin Al-Awwam, sedangkan pejuang-pejuang lainnya terdiri atas pasukan pejalan kaku atau pengendara unta.

Ucapan Miqdad yang kita kemukakan tadi, tidak saja menggambarkan keperwiraannya semata, tetapi juga melukiskan logikanya yang tepat dan pemikirannya yang dalam. Demikianlah sifat Miqdad. Ia adalah seorang filosof dan ahli pikir. Ia adalah seorang yang arif dan pandai mengolah kata. Kebijaksanaannya itu tidak saja terlihat dalam kata-katanya saja, tetapi juga tampak pada prinsip-prinsip hidup yang kukuh, serta perilaku yang lurus dan konsisten. Pengalamannya menjadi sumber bagi kearifan dan penunjang kecerdasannya.

Bersambung…