(Panjimas.com) – Kita diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai manusia. Ditempatkan di bumi dengan naungan langit dan di sana telah terhampar apa saja yang kita butuhkan. Semuanya Dia juga yang menciptakan.

Kita diberi umur oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Ruang dan waktu untuk mengukir diri menjadi makhluq mulia. Umur yang berisi iman dan amal shalih membuat si pemakainya jadi makhluk mulia.

Memang, di alam dunia itu hak kita hanya sementara, sebentar saja. Tapi bukan artinya Allah subhanahu wa ta’ala kikir pada kita. Bukan. Alam dunia ini penuh keterbatasan, tiada kesempurnaan, semua berpasangan: ada senangnya ada sedihnya. Dia tak mau kita selamanya di sana. Dia punya tempat hidup yang sempurna untuk kita. Di sana tak ada kekurangan, tak ada kecacatan, tak ada kesedihan. Semua istimewa, semua warga merasa puas di sana. Itulah jannah yang telah disiapkanNya. Hanya saja, untuk bisa masuk sana, ada syarat dan ketentuannya. Wajar, namanya tempat istimewa memang hanya diberikan untuk hamba-hamba terbaikNya: hamba-hamba yang beriman saja.

Enak sekali sebenarnya kita. Diberi karunia elok tiada tara. Ahli matematika terhebat sedunia saja tak mungkin mampu mengalkulasi nikmatNya.

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (an-Nahl: 18).

Tapi apakah kita pernah mengucap terima kasih kepada Allah ta’ala? Apakah kita sudah mensyukuri segala pemberianNya? Bolehlah kita menjawab sudah. Saban hari kita tak melupakannya. Lafaz hamdallah kita lisankan berulang kali, tak kurang dari seratus ucap per hari. Tapi yang perlu kita fahami, apakah ucapan itu sudah benar-benar bersumber dari hati? Apakah saat melisankan, hati kita merasakan sepenuh pengakuan dan ketundukan?

Padahal syukur itu bukti seorang hamba punya hati, punya perasaan, tahu diri. Ucapan saja tidaklah cukup. Perlu pembuktian dalam tindakan. Dan hanya ucapan yang jujur dari hati terdalam yang akan membuahkan aksi nyata di lapangan. Itulah syukur sejati.

Imam as-Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa ekspresi syukur mencakup tiga hal: lisan, hati, dan tindakan. Ketiganya harus seiring sejalan baru Allah ta’ala menunaikan janjiNya untuk menambah nikmat bagi si hamba.

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka pasti azabKu sangat berat.'” (Ibrahim: 7). Wallahu a’lam. [IB]