(Panjimas.com) – Bangsa Indonesia sudah lama dikenalkan dengan istilah korupsi dan koruptor. Korupsi adalah tindakan menyalahgunakan kepercayaan publik yang sudah diamanahkan untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Sedangkan koruptor adalah sebutan bagi pelaku korupsi. Bila disebut kata korupsi dan koruptor, yang terbersit di benak bangsa Indonesia adalah wajah-wajah para pejabat dan wakil rakyat. Wajar, karena setiap hari berbagai media massa menyuguhkan berita kasus korupsi yang melibatkan orang-orang ini.

Menjamurnya koruptor merebaknya kasus korupsi di Indonesia secara otomatis mencipta krisis kepercayaan. Bila ada pejabat bertutur gurih, terbersitlah prasangka buruk terhadapnya. Karena rakyat sudah terlanjur keseringan mendengar janji palsu para pejabat, apalagi calon wakil rakyat. Mereka yang tulus pun akan direspon waspada dan curiga.

Beberapa pekan lalu penulis bertemu seorang pemuda yang mengaku asal Tasikmalaya. Ia ke Semarang mencari pekerjaan namun hasilnya tak seperti harapan. Berniat pulang, dompetnya hilang. Sebuah hand phone satu-satunya barang yang kiranya bisa diuangkan untuk ongkos pulang. Tapi, seorang yang baru dikenalnya dan bilang akan menjualkannya menghilang. Sebelumnya orang itu mengajaknya ke Solo dan bilang akan menjualkan hand phone itu di sana. Sesampai di tujuan, si pemuda diminta menunggu di luar sementara ia masuk pasar. Tapi, berjam-jam ditunggu ia tak kembali datang.

Di sebuah masjid di Solo yang sedang sepi, usai shalat, pemuda itu mendekati penulis yang sedang membuat tulisan. Ia bilang terus terang minta uang untuk makan. Kebetulan di tas ada air putih dan sedikit makanan. Dinikmatilah itu dengan lahapnya sambil bercerita. Jujur, penulis tak seratus persen percaya omongannya, hanya lima puluh persen saja. Pengalaman bertemu orang yang mengaku musafir kehilangan atau kehabisan uang sudah penulis alami berkali-kali. Sebagian kelihatan sekali membualnya. Tapi, apakah semua mereka pendusta?

Tidak! Tak semua orang yang mengaku musafir kehabisan bekal adalah penipu. Sembilan tahun lalu penulis pernah mengalaminya sendiri di sebuah kota di Jawa Barat. Penulis benar-benar kehabisan uang untuk ongkos pulang. Waktu itu penulis datang ke sebuah kantor kelurahan untuk minta bantuan, tapi tak diberi. Ekspresi orang yang menemui menunjukkan rasa ketidakpercayaan. Padahal, penulis berkata apa adanya.

Pengalaman-pengalaman itu menunjukkan bahwa krisis kepercayaan nyata-nyata sedang melanda bangsa kita. Tak hanya tertuju ke orang-orang di atas sana, krisis ini sudah menyebar luas menembus batas strata sosial. Berawal dari kebobrokan moral para pejabat dan wakil rakyat yang melahirkan “tradisi” korupsi, kaum melarat pun “ikut menanggung dosa”nya. Musafir kehabisan bekal yang datang minta bantuan atau sekadar bercurah hati saja sudah tak mendapat kepercayaan: disangka pendusta. Sungguh kasihan.

Krisis kepercayaan mencemari keharmonisan hidup bermasyarakat. “Noda” itu harus dibasuh dengan siraman rohani para da’i. Kaum Muslim Indonesia harus menjadi da’i bagi diri sendiri dan saling mengingatkan sesama untuk menjunjung tinggi kejujuran. Kejujuran adalah kekayaan yang sangat besar. Ia akan membawa pemiliknya menuju tempat mulia. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam adalah bukti nyata, beliau yang sangat terkenal kejujurannya berhasil menjadi pemimpin dunia terbaik sepanjang masa. Kita adalah pengikutnya, kita harus meneladaninya.

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat, dan yang banyak mengingat Allah.” (al-Ahzab: 21).

Di momen Maulid Nabi ini mari kita mawas diri. Mari bergotong royong membasuh noda bangsa bernama krisis kepercayaan. Mari satukan langkah jadikan Indonesia negeri pengikut Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam!

Wallahu a’lam. [IB]