(Panjimas.com) – Belum lama ini penulis masuk ke sebuah komunitas pelaku usaha. Anggota komunitas itu punya berbagai macam jenis usaha, mulai kuliner, bahan pangan, herbal, kerajinan, percetakan, fesyen, dan masih ada lagi yang lainnya.

Komunitas ini selain aktif berbagi ilmu, pengalaman, informasi, maupun sumbang saran lewat media sosial, juga ada agenda diskusi dan pelatihan rutinnya. Nah, salah satu ilmu yang penulis dapat dari sana, yang sifatnya moral-spiritual adalah: menjadi pengusaha itu melatih jiwa tawakkal dan yakin kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Yakin bahwa Dia Maha Pemberi rezeki untuk setiap hambaNya. Itu terjadi karena  pengusaha tak punya penghasilan pasti. Berbeda dengan pegawai yang punya gaji tetap setiap bulannya.

Soal rezeki, bila menengok hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam berikut ini, akan kita jumpai wejangan menenteramkan: ikrar jaminan yang bila kita mau meresapi dan menanamkan ke lubuk hati sanubari, pergilah rasa takut kalau-kalau segala kebutuhan tak akan tercukupi.

“Andai anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah), ia seperti lari dari kematian; rezekinya akan mengejarnya seperti halnya kematian mengejarnya.” (HR. Ibnu Hibban).

Bila demikian sunatullah yang berlaku di kehidupan ini, tentu tak pantas bila sebagai hamba yang beriman akan janji Allah subhanahu wa ta’ala, kita isi sisa usia hanya untuk bersibuk ria mencari harta lalu menikmati hasilnya dalam kesenangan profan yang semu. Tak pantas bila sebagai hamba yang beriman akan janji Allah subhanahu wa ta’ala, kita lupa menafkahkan rezeki yang telah tergenggam, ke jalan ridhaNya. Dan tentu saja lebih tak pantas lagi bila dalam mencarinya, kita tak mengindahkan amar dan petunjukNya. Barangsiapa melakukan gerak langkah yang demikian, hancurlah kehidupannya.

“Barangsiapa tujuan hidupnya dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang tujuan hidupnya akhirat, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina.” (Hr. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Baihaqi).

Maka itu, siapa pun kita, pegawai ataupun pengusaha, mari yakini dua hadits itu dan terus latih diri bertawakkal dan yakin bahwa Allah ta’ala tak akan menelantarkan hambaNya!

Wallahu a’lam. [IB]