Oleh: Suhari Rofaul Haq*

(Panjimas.com) – Aceh adalah serambi Makkah. Sedang serambi Madinahnya adalah Madura. Julukan tersebut nampaknya tidak berlebihan, sebab mayoritas penduduk Aceh maupun Madura adalah muslim dengan ciri khasnya.

Masyarakat Madura sangat religius dan tergolong pemeluk Islam yang taat. Islam tak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari harinya. Aneh jika ada orang Madura yang tidak beragama Islam. “Mateh odik paggun Islam!” (hidup mati tetap Islam), semboyan ini sudah mendarah daging bagi masyarakat Madura.

Suasana keagamaan yang demikian kental tersebut kini terusik. Wawasan Kebangsaan yang dibalut sosialisasi kepada pelajar, ditengarai berkedok kristenisasi.

“Ini sudah fatal. Kepala Dinas Pendidikan Sumenep harus dicopot, karena sudah mengeluarkan izin untuk melakukan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan. Namun dalam perjalanannya tidak ada pengawasan dari Dinas Pendidikan, sehingga para siswa SD di Sumenep menjadi korban Kristenisasi,” demikian dikatakan Ketua Gaki Sumenep, Farid Azziyadi (http//mediamadura.com, 22/2/2017).

Kristenisasi adalah sebuah gerakan keagamaan yang dibawa penjajah barat. Gerakan ini bersifat politis kolonialis untuk menguasai dan merubah keyakinan agama masyarakat setempat.

Usaha krestenisasi di Madura dimulai jauh hari sejak zaman Belanda, namun selalu gagal. Kegagalan demi kegagalan mereka jadikan pelajaran penting untuk mengatur strategi berikutnya dalam menaklukan penduduk Madura.

Misi mereka jelas, sampai kapanpun dan seberat apapun Kristen harus bisa merambah tanah Madura. Yang beraksi bukan pemain lokal saja, tapi digerakkan dari dunia internasional. Buktinya adalah setelah Gerakan Umat Islam Sumenep (GIUS) melakukan sweeping ke tempat penginapan penyebar bingkisan kontroversial yang berisi atribut kristen, banyak hal yang terungkap. Mulai banyaknya bingkisan yang mau diberikan hingga 2.000 paket lebih. Kegiatan sejenis sudah lama berjalan sejak tahun 2015, hingga pemasok bantuan datangnya dari Amerika.

Mereka jeli dalam menentukan sasaran. Setelah dirasa kurang maksimal dalam merubah keyakinan orang dewasa, maka peserta didik yang masih belum kuat pondasi agamanya menjadi sasaran utama. Salah satu modus kristenisasi adalah melalui pendidikan.

Upaya ini dilakukan dengan berbagai cara, semisal memberi bantuan biaya sekolah-beasiswa, berkedok kampanye anti narkoba terhadap peserta didik, bakti sosial atau seperti yang sedang terjadi di sekolah-sekolah Sumenep dengan kemasan Sosialisasi Wawasan Kebangsaan. Yang jelas cara apa saja mereka pakai untuk mensukseskan misinya meski kasar dan kotor sekalipun. Sungguh naif.
Ulama dan Umat Bersatulah

Al Qur’an telah mengabarkan bahwa kristenisasi dan pemurtadan akan tetap ada dan terus berlangsung sampai kiamat. Upaya mereka dewasa ini sudah semakin membahayakan. Misionaris dalam melakukan misinya sudah masuk dalam segala sendi kehidupan masyarakat. Mereka sudah tak segan-segan lagi menggunakan dan menghalalkan segala cara agar misinya berhasil. Usaha mereka sangat rapi, terstruktur dan terukur.

Danapun tak terukur dan tak terbatas. Mereka dikordinasikan dan dikendalikan kekuatan dunia internasional. Sementara peserta didik kita belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mereka rentan terpengaruh keyakinan yang ditawarkan misionaris. Sehingga peran orang tua, guru, masyarakat dan negara harus maksimal.

Kristenisasi termasuk senjata penjajah yang dilaksanakan negara. Seharusnya negara pula yang harus menghadapinya. Mengharapkan negara sekuler seperti ini untuk menjaga dan melindungi aqidah sangat tidak mungkin. Jangankan melindungi, justeru kristenisasi sering menggunakan perangkat negara untuk memuluskan rencananya. Ini terjadi karena lemahnya negara jika harus berhadapan dengan kekuatan asing, juga lemahnya kesadaran politik aparat dalam membaca situasi yang ada.

Maka benteng terakhir untuk melindungi aqidah rakyat terutama peserta didik adalah ulama bersama ummat. Ulama harus faham upaya apa saja yang sedang dijalankan misionaris. Ulama harus membimbing, membina dan memelihara ummat serta mengontrol penguasa.

Bimbingan dan pembinaan ulama pada ummat dengan cara menuntun mereka pada jalan yang benar. Menguatkan aqidah dan ibadahnya serta peka terhadap kebutuhan rohaninya. Sedang cara ulama memelihara ummat adalah dengan menjaga dari kejahatan, pembodohan, adu domba dan dari ajaran sesat semisal kristenisasi atau semisalnya.

Ulama pun juga harus berani mengontrol penguasa dengan menasehatinya, bahkan bila perlu memimpin ummat bersuara lantang memaksa dan menekan penguasa untuk menghentikan upaya kristenisasi tersebut. Agar ulama bisa menjalankan fungsi tersebut harus mempunyai kesadaran idiologis.

Berperan aktif dalam urusan kemasyarakatan dan kenegaraan, serta menpunyai visi dan misi yang jelas dalam penerapan
hukum. Jika ulama dan ummat bersatu padu dalam menjaga aqidah masyarakat, maka upaya misionaris mudah digagalkan.
Tugas berat ulama dan ummat menjadi ringan bahkan bisa diambil alih semua sama negara. Jika sistem yang dipakai adalah islam dalam bingkai Khilafah ar Rosyidah. Itu semua adalah demi kelangsungan aqidah anak turun yang akan datang.

Relakah jika anak turun kita berganti keyakinan? Jika tidak, saatnya berjuang bersama demi tegaknya khilafah ar rosyidah agar kristenisasi segera tertumpas seakar-akarnya. Kejadian di atas jangan sampai terulang kembali, di manapun dan kapan pun. Awas dan waspadalah.
Wallahu a’lam bish showab.

*Praktisi Pendidikan dan Politik