(Panjimas.com) – Ketika Ibrahim keluar dari kobaran api dengan selamat, ia sangat senang dan gembira atas pertolongan Allah, karena sedikitpun tubuhnya tidak terbakar kecuali tali pengikatnya. Mukjizat ini sebenarnya sudah cukup untuk menjadi bukti dan tanda kebenarannya sebagai seorang rasul, akan tetapi mereka tidak mengambil pelajaran dan tidak berpikir. Penduduk Babilonia tetap teguh dalam kekafiran mereka dan terus membangkang. Kemudian terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dengan raja pembangkang dan zhalim ini, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an. Berikut adalah petikan dialog yang terdapat dalam al-Quran antara Nabi Ibrahim dengan Raja Namrud.

Allah Ta’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِي حَاجَّ إِبْرَاهِيمَ فِي رَبِّهِ أَنْ ءَاتَاهُ اللهُ الْمُلْكَ إِذْقَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّيَ الَّذِي يُحْيِ وَيُمِيتُ قَالَ أَنَا أُحْيِ وَأُمِيتُ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Rabbnya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan. ‘Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 258)

Ayat ini mengisahkan tentang dialog antara Nabi Ibrahim alaihissalam dengan Raja Namrud.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah)?”

Raja yang mendebat Nabi Ibrahim tentang Tuhannya ini, pada dasarnya tidak mengingkari adanya Allah, akan tetapi ia mengingkari keesaan Allah dalam uluhiyah (sebagai Tuhan yang berhak disembah), dan rububiyah (sebagai Tuhan pencipta), dan sebagai satu-satunya pengatur alam ini. Sesungguhnya yang menjadikan dia sombong dan angkuh adalah, “Karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan).” Karena Allah telah memberinya kerajaan dan kekuasaan sehingga ia menjadi sombong.

“Ketika Ibrahim mengatakan, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan.’”

Kehidupan dan kematian adalah dua fenomena yang senantiasa terulang setiap saat. Keduanya dipaparkan (diungkapkan) untuk kebaikan manusia dan akalnya. Dan di waktu yang sama keduanya adalah rahasia yang menakjubkan dan hal aneh yang membingungkan akal dan pikiran. Lalu apa jawaban Raja yang keras kepala itu? Dia malah menjawab, “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ketika Namrud mengatakan demikian, Ibrahim ingin menantangnya dengan memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat.” Ini adalah fakta alam yang dapat dilihat langsung oleh mata, dan terjadi setiap hari. Raja Namrud tidak mampu menjawab tantangan ini, sehingga dia terdiam di hadapan kekuasaan Tuhan, “Lalu heran terdiamlah orang kafir itu.” Tidak ada celah baginya untuk mendebat, beradu argumen dan mengingkari, karena kenyataan ini sudah jelas sebagaimana jelasnya matahari di siang hari bagi semua orang yang memiliki mata yang bisa melihat.

“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” Artinya, Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang kafir untuk mendapatkan alasan atau argumen guna membantah argumen pihak yang benar ketika berdebat, karena argumen orang batil pasti lemah dan tidak berarti.[DP]

 

Buku: Mengenal Lebih Dekat Manusia Pilihan Neraka Kisah 40 Penghuni Neraka Dalam Al-Qur’an

Penulis: Syaikh Muhammad as-Shayim