PANJIMAS.COM – Sakit merupakan hal yang wajar dialami manusia. Namun wajar pula jika orang tak ingin merasakannya. Berbagai kiat agar kesehatan selalu terjaga ditempuh demi terhindar darinya. Namun begitu, kadang kala penyakit tetap saja hinggap menimpa. Bagaimana jika sudah begini?

Tenang, sebaiknya kita menasihati diri sendiri untuk tetap bisa tersenyum. Ya, di sela rintih menahan pedih, tersenyumlah. Mengapa? Karena kita Mukmin! Sangat wajar orang beriman tersenyum di kala sakit.

Benar, karena orang beriman yakin bahwa di balik apa yang dideritanya, ada sesuatu yang baik untuknya. Namun hal ini hanya dapat dimengerti kala si bersangkutan sudah menimba ilmu tentangnya, sudah memelajarinya. Bagi Anda yang belum faham alasan logis Mukmin tersenyum di kala sakit, marilah baca tulisan ini hingga tuntas.

“…. Barang siapa mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu. Dan ia tak mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (Nn-Nisa’: 123).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika ayat di atas turun, kaum Muslim sangat terkesan dan memikirkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun lantas bersabda, “Bersusun bahulah kalian dan upayakan mencari kebenaran. Karena apa pun yang menimpa seorang Muslim akan menghapus kesalahannya, bahkan pun hanya duri yang menusuk tubuhnya.” (HR. Bukhari).

Hadits serupa juga diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha. Bahwa seorang lelaki membaca ayat di atas lalu berkomentar, “Apakah kita akan menerima balasan dari apa yang kita kerjakan? Kalau begitu celakalah kita!” Mendengarnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Memang, ia menerima balasan di dunia berupa musibah yang menimpanya dan menyakitinya.”

Juga dari Aisyah, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Tak satu pun musibah menimpa seorang Muslim, kecuali dengan itu Allah menghapus dosanya, bahkan pun hanya duri yang menusuknya.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Mayoritas mufasir menafsirkan ayat di atas dengan, seorang Muslim akan mendapat balasan atas kessalahan-kesalahannya berupa musibah-musibah yang menimpa. Hal itu menjadi penghapus dosa-dosanya. Pendapat yang masyhur juga mengatakan bahwa musibah-musibah yang menimpa Mukmin akan meninggikan derajat dan menghapus dosa. Kesabaran dalam menghadapi musibah itulah yang mendatangkan pahala, di samping dosa-dosanya terhapus.

Nah, itulah alasan logis mengapa orang beriman tetap mampu bersungging senyum walau sedang menahan sakit sekalipun. Karena ia tahu, di balik rasa sakit yang mendera, (insya Allah) dosa-dosanya dihapus/diampuni, dan kesabaran dalam menghadapinya (dengan berusaha meraih kesembuhan dengan cara-cara yang baik) akan mendatangkan pahala.

Keyakinan yang indah itu tak mungkin tumbuh kecuali didasarkan pada keimanan. Dan ternyata, hal itu pun memuat faedah tersendiri bagi kesehatan dan menjadi pendukung tercapainya kesembuhan. Apa saja faedah senyum untuk kesehatan? Mari kita simak…

  1. Senyum Menurunkan (Menormalkan) Tekanan Darah

Saat orang marah, tekanan darah naik. Dan senyum yang tulus dan jujur membuatnya turun (menuju normal).

  1. Senyum Dapat Mengurangi Stres

Stres dapat menghambat kesembuhan orang yang sakit. Senyum yang tenang yang terdorong oleh pikiran positif akan meredakannya.

  1. Senyum Dapat Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Saat tersenyum, sistem imun (kekebalan) di dalam tubuh akan bekerja dengan lebih baik.

  1. Senyum Melepaskan (menghasilkan) Endorfin (Penghilang Rasa Sakit)

Sebuah studi menyatakan, senyum dapat melepaskan endorfin, senyawa yang bisa mengurangi rasa sakit secara alami.

  1. Senyum Dapat Membuat Pikiran Tetap Positif

Senyum dapat mengondisikan orang berpikir positif dan mengurangi pikiran negatif. Dengan itu, kesehatan lebih mudah diraih.

  1. Senyum Membantu Kesembuhan Penyakit

Senyum dapat menstimulasi otak dan hormon yang menumbuhkan berbagai dampak positif. Penelitian membuktikan bahwa senyum yang tulus dapat menumbuhkan efek stimulasi yang dihasilkan otak setara dengan mengonsumsi 2000 batang cokelat. Sementara, sembuhnya suatu penyakit sangat dipengaruhi oleh sugesti positif. Dan senyum menjadi cara yang dapat diandalkan dalam hal ini.

Itulah indahnya hidup orang beriman. Sakit, di balik rasanya yang menyiksa, terdapat bukti kasih sayang Allah swt yang tiada tara. Maka mari melatih diri untuk bersabar dalam menghadapi musibah sakit. Kita upayakan kesembuhannya dengan terapi dan pengobatan yang halal dan tayib seperti yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ajarkan, sembari menata hati agar lebih memahami hakikat kehidupan. Semoga kualitas hidup yang lebih prima akan kita dapatkan. Wallahu a’lam. [IB]