(Panjimas.com) – Tempo hari penulis berkunjung ke rumah seorang pegiat LSM yang sudah sangat tua. Orang itu masuk ke dunia kerelawanan di bidang sosial, ekonomi, dan pendidikan, sejak masih muda. Dan sampai kini, walau tak lagi bisa turun tangan sendiri, pensiunan dosen itu masih terus berjuang mewujudkan mimpi-mimpi yang belum tercapai. Mimpi yang semuanya untuk umat, bukan demi kepentingan pribadi.

Satu dekade lalu penulis menjadi binaan mantan pengusaha kayu itu. Di sana belajar menjadi relawan, mendampingi anak jalanan. Setelah program itu berhenti dan beralih fokus ke pemberdayaan masyarakat pedesaan, penulis tak lagi membersamai. Sejak itu hingga kini jumpa kami jarang sekali.

Perjumpaan terbaru berlangsung tempo hari itu. Bapak yang suka menulis puisi telah bertambah renta. Berjalannya tertatih-tatih, bila jauh harus dengan tongkat rotan. Tapi satu hal yang harus diperhatikan saksama, semangatnya tak pernah redup, masih sama seperti dulu. Waktu penulis masih tinggal di rumahnya, lelaki yang telah mendirikan sekolah menengah ini biasa tidur larut malam. Entah apa pun, selalu ada yang ia kerjakan. Di meja kerjanya, dengan buku-buku dan kertas serta bolpennya, ia begadang sampai sekitar jam sebelas malam.

Pada jam itu biasanya ia baru tidur. Tapi, saat jarum jam menunjuk angka tiga, terdengarlah gemericik air keran, lalu tampak dari pintu berpapan kaca ia menghampar sajadah di lantai berubin kayu jati. Terkadang, paginya ia lanjutkan dengan mengakrabi tanaman hias di halaman dan ruangan. Halaman sempitnya penuh tanaman.

Tempo hari itu, pria berumur kepala tujuh bercerita tentang penyakit yang ia derita. Pegal-pegal di pinggang, berpindah kiri kanan, dan sebagainya. “Mungkin ini karena kebanyakan kerja,” ujarnya. Tapi ia tak mengeluh, bahkan bahagia telah menemukan pesan-pesan spiritual dari pengalaman hidupnya, dari sakit yang dirasa.

“Saya merasa, mungkin ini cara Allah mendidik saya,” ucapnya dengan ekspresi ceria. Mungkin benar juga, dulu fisiknya terlalu terforsir, kurang diperhatikan perawatannya. Ia juga menyadari telah menemukan titik-titik kekeliruan masa silam. Semua diambilnya sebagai pelajaran. Ia merefleksi diri, dan itu membuatnya tetap punya semangat juang tinggi.

Dari perbincangan dengan lelaki renta yang masih bermimpi ingin mendirikan pesantren tahfiz ini, penulis dapati bahwa sakit fisik tak boleh menghentikan kontribusi. Orang yang fisiknya lemah dan sakit-sakitan, masih sangat mungkin punya andil dalam mebangun peradaban yang hebat. Asal jiwanya sehat wal afiat, kuat, penuh semangat. Seperti si bapak.

Islam memandang kesehatan mencakup raga dan jiwa. Bagus bila keduanya dalam kondisi prima. Maka itu, selagi masih muda, masih sehat dan kuat fisiknya, kita harus menjaga dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Proporsoinal, jangan diforsir, dijaga dengan gaya hidup sehat, agar tak jadi masalah di hari tua. Tapi bagi Bapak dan Ibu yang sudah terlanjur tua, yang fisiknya sudah tak lagi prima; tenang saja, asal jiwa masih prima, masih ada yang bisa disumbangkan. Pemikiran, nasihat, pengalaman untuk refleksi kaum muda, dan pastinya doa. Semua itu akan sangat bermanfaat bila dikerahkan dengan penuh keikhlasan demi memeroleh ridhaNya.

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rezekinya cukup, dan merasa cukup dengan apa yang Allah beri.” (Hr. Muslim).

Wallahu a’lam. [IB]