Ayat-ayat Birrul Walidain Ini Mesti Engkau Tau

(Panjimas.com) – Orang tua, sosok agung nan mulia bagi anak manusia. So, Islam ngewajibin umatnya berbakti kepada keduanya. al-Qur’an ngemuat perintah-perintah berbakti ke ortu kita. Nggak cuma satu tempat, nggak cuma satu ayat. Berikut inilah. Yuk, simak aja…

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia; dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.’ Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kamu, dan kamu selalu berpaling.” (QS. al-Baqarah: 83)

Ibnu Katsir ngejelasin tafsir ayat ini, “Allah SWT mengingatkan Bani Israil akan sesuatu yang telah Dia perintahkan ke mereka, serta janji mereka buat melaksanakan semua perintah tersebut. Tapi, alih-alih melaksanakan perintah dan janji, mereka justru berpaling, ingkar. Padahal mereka tau dan inget (sadar) akan semua perintah itu.

“Allah SWT perintahkan mereka beribadah kepadaNya dan nggak mensekutukan sesuatu denganNya. Perintah itu ditujuin ke semua makhlukNya. Itulah hak Allah swt. Nah, abis hak Dia, barulah hak makhlukNya. Dan, hak makhluk Allah yang paling utama adalah hak kedua orang tua. So, Allah SWT mengingatkan antara hakNya dan hak kedua orang tua (dalam surat ini).” (Tafsir Ibnu Katsir, juz 1, hlm. 316)

Mufasir lain, al-Baghawi, bilang dalam tafsirnya tentang ‘wa bil waalidaini ihsaanan’ (dan berbuat baiklah kepada ibu bapak), “Maksudnya, Kami perintahin mereka agar berbuat baik, berbakti, bersikap lembut, dan turut perintah kedua orang tua dalam hal yang nggak nentang Allah SWT.” (Tafsir al-Baghawi, juz 1, hlm. 117)

Ayat lain yang berisi perintah serupa adalah:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. an-Nisa’: 36)

Ath-Thabari nafsirin ayat di atas dengan, “Allah swt perintahin kalian agar berbuat baik kepada kedua ortu, berbakti kepada mereka. So, kata ‘ihsaan’ dinasbahkan. Sebab, ihsaan adalah perintah dari Allah swt, yaitu perintah agar berbuat baik kepada kedua orang tua.

“Namun sebagian mufasir bilang kalo makna ayat itu adalah: ‘Aku mewasiatkan agar berbuat baik kepada kedua orang tua.’ Pendapat ini hampir sama dengan pendapat yang kami kemukakan.” (Tafsir ath-Thabari, juz 8, hlm. 334)

Ayat berikutnya: “Katakanlah, ‘Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan; Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah(membunuhnya) kecuali dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahami(nya).” (QS. al-An’am: 151)

Ayat ini ditafsirin ama al-Qurthubi, “Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah berbakti kepada mereka, pelihara mereka, ngejagain mereka, laksanain perintah mereka, ngilangin perbudakan dari mereka, dan nggak nguasain mereka.” (Tafsir al-Qurthubi, juz 7, hlm. 132)

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. al-Israa’: 23-24)

Dalam Tafsir al-Muyasar dijelasin, “Tuhanmu perintahin, ngeharusin, ngewajibin -manusia- agar beribadah hanya kepada-Nya. Dia pun perintahin agar engkau berbuat baik kepada ayah dan ibu, terlebih di masa mereka udah tua. Janganlah engkau ngerasa bosan dan berat dengan sesuatu yang muncul dari salah seorang atau keduanya. Janganlah engkau lontarin mereka dengan kata-kata buruk, walau perkataan buruk yang paling ringan.

“Janganlah engkau ngelakuin perbuatan jelek ke mereka. Bersikap lembutlah ke mereka dengan kata-kata lembut nan santun. Tunduk dan tawadhu’lah ke ayah ibumu dengan penuh sayang. Mintalah kepada Tuhanmu agar Dia merahmati mereka dengan rahmatNya yang luas, baik semasa mereka hidup maupun setelah wafat. Sayanglah seperti mereka telah bersabar dalam mendidikmu sewaktu kecilmu dulu, saat engkau masih dalam keadaan lemah dan tidak berdaya.” (Tafsir Al-Muyassar, juz 5. Hlm. 17-19)

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepadaKu kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”(QS. Al-Ankabuut : 8)

Ibnu Katsir nafsirin, “Allah berfirman seraya perintahin hamba-hambaNya agar berbuat baik ke kedua ortuanya, setelah Dia menganjurkan agar manusia konsisten dalam mengesakanNya. Karna, ortu adalah sebab bagi keberadaan manusia, serta mereka telah berbuat sangat baik kepada anak. Ayah sangat baik dengan nafkah yang diberi; ibu sangat baik dengan curahan kasih sayang.

“Di samping perintahin agar manusia bersikap lembut, sayang, dan baik kepada kedua ortu, Allah swt berfirman: “wa’in jaahadaaka litusyrika bii maa laisa laka bihii ilmun falaa tuhthi’humaa” (dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya). Kalo aja ortu berambisi ingin engkau ikut agama mereka, kalo mereka musyrik, maka jangan ditaati. KepadaKu kalian semua kelak kembali di hari kiamat. Dan Aku bakal  ngebalasmu atas kebaikan dan kesabaranmu ke kedua ortu dan agamamu. Lalu, Aku kumpulin engkau bersama orang-orang shalih, bukan kelompok kedua ortumu, walau dirimu orang yang paling dekat dengan mereka di dunia. Seseorang bakal dikumpulkan di hari kiamat bersama orang yang dicintai karna agama. Allah swt berfirman:

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Ankabuut : 9) (Tafsir Ibnu Katsir, juz 6, hlm. 264-265)

Demikian beberapa ayat al-Qur’an yang ngemuat perintah bakti ke ortu. Tampaklah di sini bahwa Islam bener-bener perhatian banget terhadap sikap anak kepada ortunya. Sikap manis tetap jadi keharusan, tanpa pandang si ortu Mukmin atau kafir. Hanya, jika seseorang punya ortu yang masih kafir dan ngajakin kafir, maka wajiblah seorang anak untuk menolak. Juga, ortu Mukmin pun, kalo mereka perintahin anak ngelakuin perbuatan dosa, wajiblah si anak menolaknya. Dua penolakan, satu cara yang sama: bijaksana penuh hikmah. Karna Islam itu indah, Islam itu rahmah. Moga aja Allah swt senantiasa hidayahi kita dan ortu tercinta agar tetap istiqamah di dalam kebenaran, di dalam Islam, aamiin. [IB]