(PANJIMAS.COM) – Diakui atau enggak, jasa ortu nggak mungkin bisa terbalas oleh anak. Karenanya, bakti kepada mereka adalah wajib hukumnya. Dalam Islam, berbakti kepada kedua orang tua merupakan amal yang paling utama setelah iman.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, ‘Amal apa yang paling utama?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Iman kepada Allah dan rasulNya.’ Aku bertanya, ‘Lalu apa lagi?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Berbuat baik kepada orang tua.’ Aku bertanya lagi, ‘Lalu apa lagi?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Berjihad di jalan Allah.'” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Karena begitu tingginya kedudukan bakti ama ortu, Allah subhanahu wa ta’ala nyebut perintah itu setelah perintah untuk bertauhid. Itu tandanya, berbakti kepada kedua orang tua adalah sangat penting, mulia, n utama.

“Sembahlah Allah dan jangan kamu menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak…” (an-Nisa’: 36),

“Dan Tuhanmu telah memerintah agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (al-Isra’: 23).

Berperang di jalan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pembelaan n upaya penegakan Islam adalah amalan yang sangat tinggi derajadnya. Namun demikian, berbakti kepada orang tua tetap harus didahuluin.

Seorang pria menghampiri Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam guna meminta izin ikut berperang. Maka beliau bertanya kepaadanya, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berkata kepadanya, “Berjihadlah (dengan berbakti) kepada keduanya!” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Lalu siapakah dari kedua orang tua kita yang paling berhak dihormatin? Ayahkah? Biasanya kita lebih segan ama ayah ketimbang ama ibu. Ayah lebih kita takuti. Sementara ibu, sapaan yang nggak sopan acap kali kita ucapin padanya. Tepatkah yang demikian itu?

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Seorang pria mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dan bertanya, ‘Ya Rasulullah, siapa orang yang paling berhak aku pergauli dengan baik?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Ibumu.’ Ia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ‘Lalu siapa?’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, ‘Ayahmu.'” (Hr. Bukhari dan Muslim).

Ibulah sosok yang paling besar perjuangannya di masa awal kemunculan diri kita di dunia. Sembilan bulan sepuluh hari beliau mengandung dengan berbagai rasa nggak nyaman n nggak bebas beraktivitas. Bergerak pun nggak bisa leluasa. Lantas saat menjelang kelahiran bayinya, beliau harus nahan beban yang amat berat sekaligus rasa sakit yang nggak terbayang oleh kita. Lantas sejak itu, selama dua tahun beliau harus berbagi nutrisi ama bayinya, ngasih asi buat kita. Saban hari harus nyebokin kita, nyuciin pakaian yang belepotan kotoran. Tengah malam saat lelap harus bangun karna denger kita nangis, lalu ngerespon dengan pelukan, gendongan, gantiin pakaian yang basah oleh pipis n kotoran…

Tapi bukan berarti ayah nggak berperan. Beliau yang beranggungjawab atas semuanya. Beliau harus ngebanting tulang peras keringat demi istri dan anak-anak bisa makan, hidup sehat-aman-nyaman-bahagia, tercukupi sandang-papan-pendidikannya. Tanggung jawab yang amat sangat besar itu, nggak bisa diremehin!

Maka nggak berlebihan kalo berbakti ama keduanya adalah kewajiban.

Tapi, bakti ama ortu nggak berarti naatin dalam segala hal. Ortu kita hamba Allah juga. Bisa punya salah n lupa kayak kita. So, dalam ketaatan kepada Allah subahanahu wa ta’ala, nggak boleh kehalang siapa pun juga, nggak terkecuali ortu kita.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKu-lah kembalimu. Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 15).

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa Sa’ad bin Abi Waqqash berkisah, “Diturunkannya ayat ini berkaitan dengan masalahku. Aku adalah orang yang sangat berbakti kepada ibuku. Ketika aku masuk Islam, beliau berkata, ‘Wahai Sa’ad, apa yang kulihat dengan yang baru darimu? Tinggalkan agama barumu, atau kalau tidak, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati sehingga kamu dicela dengan sebab kematianku dan kamu akan dipanggil dengan si pembunuh ibunya!’ Lalu kukatakan kepada beliau, ‘Sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk siapa pun.’ Lalu beliau diam tidak makan sehari semalam sampai tampak sangat lemah. Lalu lanjut tidak makan sehari semalam lagi dan menjadi semakin tak berdaya. Melihatnya, aku berkata, ‘Hendaklah engkau tahu wahai Ibu, seumpama engkau punya seratus nyawa dan satu per satu melayang, tidak akan aku tinggalkan agama ini karena apa pun juga! Maka kalau engkau mau makan, makanlah, tapi kalau tidak, silakan.’ Lalu beliau mau makan.”

Lantas gimana sikap kita andai satu ketika ortu khilaf, nyuruh kita ngelakuin perbuatan yang nggak diridhain ama Allah subhanahu wa ta’ala? Dengan santun kita ingetin, kita ajak kembali kepada kebenaran.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl: 125).

Mungkin caranya nggak harus pake lisan yang lugas. Bisa dengan ngomongin lain soal, yang kita selipin di sana pesan penyadaran. Bahkan bisa aja cukup dengan sikap n perbuatan. Maka mari kita jaga tingkah laku kita yang indah, secara alami, bukan buatan. Biar mereka berdua bahagia ngeliat kita, n bila aja ngalamin kekeliruan arah, bisa teringat dengan segera karna liat kebaikan budi pekerti anaknya. Serta tentu aja yang nggak boleh dilupain adalah doa. Wallahu a’lam. []