(Panjimas.com) – Belakangan ini media ramai dengan masalah plagiarisme. Apa, sih, plagiarisme? Plagiarisme, atau juga biasa dibilang plagiat, adalah tindak penjiplakan atau pengambilan karya, pendapat, temuan, atau ide orang lain, dan membikinnya seolah hasil kreativitasnya sendiri. Di Indonesia, perbuatan ini bisa dianggap tindak pidana karena termasuk mencuri. Di dunia pendidikan, hukuman buat pelaku plagiat cukup berat, yaitu dikeluarkan dari sekolah dan universitas.

Menurut Felicia Utorodewo dkk. (2007), bentuk plagiarisme di antaranya: mengklaim karangan orang lain sebagai karangannya sendiri, mengklaim ide orang lain sebagai buah pikirannya sendiri, dan mengklaim temuan orang lain sebagai miliknya. Hmm…  kurang ajar banget, bukan?

Lalu gimana pandangan Islam terhadap plagiarisme? Islam sebagai agama pemberadab, tentu memandang tercela tindakan plagiat. Syaikh Albani rahimahullah berargumen tentang perbuatan tak beradab ini dengan menukil sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam,

“Orang yang (berpura-pura) berpenampilan dengan sesuatu yang tidak diberikan kepadanya, bagaikan orang yang memakai dua pakaian palsu (kedustaan).”  (Hr. Bukhari dan Muslim).

Ulama hadist yang satu ini ngasih peringatan keras terhadap tindak plagiarisme di dunia Islam. Menukil perkataan para ulama tanpa menisbatkannya kepada yang bersangkutan merupakan perbuatan yang dilarang oleh syariat, karena kayak gitu itu termasuk pencurian ilmu.

Dalam ilmu hadits, orang yang biasa melakukan pencurian ilmu, penipuan, dan semisalnya, nggak layak diambil haditsnya. Hadits dari orang kayak gitu dianggap dha’if (lemah) dan ditinggalkan.

Di samping sangat membenci plagiarisme, sebagai Din yang bersifat universal, mewadahi seluruh aspek kehidupan, Islam sangat menghargai dan mendorong kreativitas. Kreativitas atau daya cipta adalah proses mental yang melibatkan pemunculan ide atau konsep baru, atau hubungan baru antara ide dan konsep yang sudah ada. Sedangkan ide atau gagasan sendiri adalah rancangan yang tersusun sedemikian rupa dalam pikiran.

Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan setiap individu manusia dengan dibekali potensi diri yang bersifat unik alias khas.

“…. Kemudian Kami jadikan dia (manusia) makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (al-Mu’minun: 14).

Potensi yang melekat pada masing-masing individu tersebut dapat diaktualisasikan kalo diolah dengan akal pikiran oleh yang bersangkutan, berdasarkan ilmu yang telah Allah subhanahu wa ta’ala firmankan dalam al-Qur’an maupun yang dihamparkan di alam semesta.

“…. Demikianlah Alah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu supaya kamu berfikir.” (al-Baqarah: 219).

Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniai setiap hambaNya potensi diri yang unik itu untuk bekal berjuang dalam meningkatkan kualitas peradaban. Dia sudah menetapkan sunatullah dalam kehidupan ini. Setiap tindakan hambaNya akan menghadirkan konsekuensi logis buat pelakunya.

“…. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11).

Potensi khas yang dibekalkan kepada setiap diri itu sejatinya adalah amanah untuk dijaga dan dipergunakan seoptimal mungkin. Beginilah cara Allah subhanahu wa ta’ala menguji hamba-hambaNya.

“Yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2).

Masing-masing kita, generasi muda Muslim, sudah dibekali oleh Allah ta’ala potensi diri yang siap diolah, dikembangkan, dan diaktualisasikan dalam bentuk berbagai kreativitas dalam kehidupan. Nah, kalo sudah diberi bekal, kenapa nggak digunakan dan malah main klaim hasil kreativitas orang lain? Bukankah itu memalukan banget? Plagiarisme adalah kelakuan yang nggak keren dan sangat memalukan! Plagiarisme adalah penghinaan diri sendiri sekaligus bukti nggak bersyukurnya seorang hamba atas karunia yang Allah ta’ala berikan. Padahal Dia sudah berjanji bakal menumbuhkembangkan nikmatNya buat hambaNya yang bersyukur dan mengancam dengan azab yang pedih buat siapa yang nggak bersyukur alias kufur.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabku sangat pedih.'” (Ibrahim: 7).

So, yuk kita kenali dan gali potensi diri, lalu kembangkan dan aktualisasikan dengan kreativitas yang positif, agar potensi diri yang Allah ta’ala berikan bakal bermanfaat bagi kehidupan, agar umur kita beroleh keberkahan! Bitulah cara Muslim mensyukuri nikmatNya. Plagiarisme no, kreativitas yes!!! Wallahu a’lam. [IB]