(Panjimas.com) – Hal-hal sederhana dalam aktivitas sehari-hari sering kali kita cuekin. Di rumah, kampus, sekolah, pasar, bahkan masjid; sering banget kita lupa bersopan santun.

Apalagi kalangan remaja, kalau lagi asyik-asyiknya bercanda bareng teman-teman, lupalah kalau sopan santun mesti dijaga. Sopan santun nggak cuma ada dalam interaksi antar sesama manusia, lho. Dengan Allah ta’ala kita juga mesti jaga sopan santun. Juga dengan sesama ciptaanNya yang selain manusia. Nah, yang satu ini, nih, yang sering banget dicuekin banyak orang. Dan emang banyak orang belum faham kalo bentuk interaksi yang itu pun mesti pakai sopan santun. Termasuk dalam ranah ini adalah pemakaian energi dan sumber daya alam.

Energi dan sumber daya alam adalah nikmat Allah ta’ala buat memenuhi kebutuhan makhlukNya. Air, bahan bakar minyak, dan listrik, adalah sebagian contohnya. Banyak banget orang di masyarakat kita yang nggak bersopan santun dalam memakainya.

Misalnya, nih, di tempat wudhu masjid sering kita jumpai saudara-saudara kita –atau malah kita sendiri– menghamburkan air sepuas-puasnya. Keran yang sebenernya udah bisa mengalirkan cukup air tanpa mesti dibuka penuh, tetap aja dibuka sampe penuh. Hadeeh… Akhirnya air mengucur deras banget dan lebih banyak yang terbuang sia-sia ketimbang yang terpakai untuk membasuh kulit kita. Dan parahnya lagi, orang di sebelah mesti ikut berbasah-basah kena percikannya. Ini namanya nggak sopan sama alam dan nggak sopan sama orang. Parah!

Di dalam ruangan di tempat umum, contohnya kamar kecil, sering kali kita jumpai lampu nyala padahal cahaya matahari yang menembus ventilasi udah cukup bikin ruangan itu terang. Bahkan di sekolah-sekolah yang adalah tempat mendidik generasi muda, di siang bolong banyak lampu nyala tanpa ada yang peduli dan merasa berdosa.

Gimana cara Antum pergi ke sekolah, kuliah, atau kerja? Juga gimana Antum pergi ke masjid buat shalat berjama’ah saban harinya? Kalo pakai kendaraan bermotor, cobalah diitung-itung yang jujur, berlebihan apa enggak kita nyumbang polusi udara? Apakah pantas disebut bijaksana kalo jarak cuman 50 meter aja kita tempuh dengan naik motor, padahal kondisi fisik sehat wal afiat? Kalo suatu jarak udah cukup ditempuh pakai jalan kaki atau sepeda, apakah terpuji kalo kita pilih naik kendaraan bermotor?

Naifnya kita, yang diitung-itung dalam pemakaian energi dan sumber daya alam tuh cuma melulu soal ekonomi. Kalo merasa masih sanggup beli bensin, beli pulsa listrik; udah merasa nggak dosa kalo berlebihan makainya. Padahal ada soal lain yang nggak kalah penting, bahkan dalam jangka panjang lebih penting ketimbang soal duit. Adalah masalah lingkungan.

Kita manusia dicipta oleh Allah ta’ala dan ditempatkan di muka bumi adalah untuk jadi khalifah: pengelola interaksi antar makhlukNya demi terciptanya kehidupan yang harmonis, yang berkeseimbangan dan berkelanjutan (equilibrium and sustainable culture). Sungguh memrihatinkan banget kalo dalam pemakaian energi, kita nggak bijaksana sama sekali. Rasanya nggak perlu dalil banyak buat mengevaluasi persoalan ini, cukuplah ayat berikut buat direnungi.

“…. dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (al-Israa’: 26-27).

Wallahu a’lam. [IB]