(Panjimas.com) – Setap manusia punya masalah. Nggak cuman yang miskin dan sakit. Orang kaya raya dan sehat jasmaninya pun sangat mungkin didera kesedihan. So, setiap kita butuh canda.

Canda tawa bakal mengubur ketegangan dan kesedihan, membalut hati yang luka. So, banyak orang suka bercanda. Akhirnya, canda tawa suka dimanfaatkan para da’i buat memasukkan nutrisi iman ke dalam hati jama’ah pengajian. Itulah canda, ia bikin manusia lupa dan tanpa sadar menerima sesuatu yang baru yang dimasukkan ke dalam akal budinya.

Tentu jadi karunia yang berharga saat canda tawa dipakai sama para da’i sebagai bumbu penyedap dalam bertausiyah. Tapi sebaliknya, canda tawa bakalan jadi bencana manakala diumbar bebas tanpa batas sampe bikin orang nggak hanya lupa, tapi juga hilang kepekaan hatinya, hilang kepekaan sosialnya. Nauzubillah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, hamba pilihan Allah ta’ala yang setiap bicara pasti berdasarkan petunjukNya, pernah mengingatkan,

“Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tawa akan mematikan hati.” (Hr. Tirmizi).

Remaja adalah “penganut” dominan “mazhab” canda tawa. Di mana aja dan kapan aja mereka selalu nyari-nyari kesempatan buat melakukannya. Bahkan saat shalat berjama’ah sekalipun. Astaghfirullah…

Saat canda nggak terkendali, tawa pun “nggak punya hati”. Walau sebenernya tau, tapi hati kayak dibius, mati rasa yang terjadi. Di Rakhine, negara bagian di pantai barat Myanmar, sekelompok etnis Indo-Arya bernama Rohingya yang beragama Islam, lagi jadi sasaran genosida (pembersihan etnis). Mereka dibunuh secara massal sama sekelompok ekstrimis kafir yang kejam. Nggak cuman baru kali ini aja, sejak 1942 udah berkali-kali saudara kita itu jadi sasaran pembantaian. Media internasional udah nyebut mereka sebagai salah satu etnis minoritas paling tertindas di dunia. Ya Allah…

Tapi karna ada canda yang nggak terkendali, tawa pun bisa lepas bebas sesuka hati di saat mereka dibantai, di saat mereka melarikan diri nyari tempat berteduh yang aman walau nggak nyaman. Walau soal masa depan generasi mudanya kurang terpikirkan karna yang ada di benak cuman: yang penting bisa hidup dulu, lain-lain ntar dulu! Memrihatinkan banget, bukan?

Muslim Rohongya di kamp-kamp pengungsian yang kumuh berfikir, “Yang penting bisa aman dulu saat ini.” Tapi kayaknya di saat yang sama remaja Muslim di negeri ini masih ada yang berfikir, “Yang penting gue happy hari ini.” Astaghfirullah…

Apa kamu juga gitu? Yuk berzikir, yuk berfikir, yuk sejenak hentikan tawa lalu berdoa buat keselamatan dan keistiqamahan sodara-sodara kita Muslim Rohingya. Syukur bisa galang dana buat mereka. Dan… ketahuilah bahwa canda tawa kita di sini saat ini adalah pisau tajam yang merobek hati mereka! Wallahu a’lam. [IB]