(Panjimas.com) – Suatu siang penulis makan di warung tenda deket pasar. Karna sendirian, pemilik warunglah yang jadi temen ngobrol. Ibu berkudung merah itu cerita kalo suaminya tukang becak. Mereka harus nyekolahin anak.

Sekarang putrinya kelas satu SMK jurusan Farmasi. Biayanya banyak banget. Masuknya aja dua belas juta. Per bulan enam ratus ribu ditambah biaya praktikum jadi satu setengah juta. Ia bilang jalani aja, karna kalo nggak di sana, putrinya nggak mau sekolah.

Tadinya pengin kayak tetangganya, sekolah di SMA lalu kuliah di keguruan. Tapi dipikir-pikir kok prosesnya panjang banget. Musti kuliah dulu, terus masih wiyata bakti dan nunggu bertahun-tahun baru diangkat jadi PNS. Akhirnya, pilihannya jatuh di farmasi aja. Biar pun biayanya mahal, tapi setelah lulus udah dijamin dapet kerjaan. Bisa disalurkan ke perusahaan dalam maupun luar negeri.

Putri ibu itu waktu di SMP langganan juara satu. Tandanya secara intelektual ia pinter. Pantes aja bisa keterima di Farmasi. Tuh sekolah emang mensyaratkan nilai ujian tinggi.

Satu wawasan kebangsaan penulis terima dari obrolan tadi. Mungkin banyak dari kita bakalan ngerasa salut dan bahkan takjub sama keluarga itu. Hidup di sektor non formal dengan jalani profesi kaum pinggiran tapi anaknya berprestasi. Bukan itu yang penulis garis bawahi. Ada keprihatinan yang amat sangat terhadap bangsa ini, terhadap cara pandang umat Islam negeri ini dalam memahami tujuan pendidikan.

Putri si ibu tadi emang pinter dalam menjawab soal. Tapi ia punya cacat fatal yang mesti segera diobati. Dari cerita tadi, kita menangkap maksud bahwa ujung dari pendidikan, dari aktivitas giat belajarnya selama ini, adalah kesejahteraan materi. Menempuh pendidikan di sekolah demi dapet kerjaan dengan gaji memuaskan. Dan rupanya hampir seluruh bangsa Indonesia punya jalan pikiran serupa. Orang tua penulis pun dulu juga sama. Penulis sendiri dulu gitu juga.

Sebenarnya apa sih tujuan pendidikan itu? Di Indonesia, tujuan pendidikan udah dijelasin dalam undang-undang. UU No. 20 tahun 2003 menyatakan Tujuan Pendidikan Nasional sebagai berikut:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Lantas dalam UU No. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dikatakan bahwa Tujuan Pendidikan Tinggi adalah:

(a). berkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa;

(b). dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi untuk memenuhi kepentingan nasional dan peningkatan daya saing bangsa;

(c). dihasilkannya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi melalui Penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai Humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa, serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia;

(d). terwujudnya Pengabdian kepada Masyarakat berbasis penalaran dan karya Penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Yuk, kita syukuri, tujuan pendidikan menurut undang-undang yang berlaku di negeri udah bisa dibilang selaras dengan nilai-nilai Islam. Ia nggak bertentangan bahkan malah jadi implementasi ajaran Islam. Secara prinsip, nggak dikatakan di sana kalo pendidikan bertujuan untuk mendapatkan kesejahteraan materi yang bersifat pragmatis kayak yang diyakini kebanyakan orang di negeri ini, kayak yang diyakini mayoritas Muslim di negeri kayaraya ini.

Sungguh rendah, dangkal, sepele, bangsa kita memahami pendidikan. Menjadikan uang sebagai tujuan pendidikan adalah penghinaan terhadap pendidikan. Itu paham materialisme yang jelas bertentangan banget dengan Islam karna bersifat atheistik!

Kita kawula muda Muslim indonesia musti buruan tobat dan berhijrah dari pola pikir kerdil ini. Tujuan pendidikan bukanlah uang melainkan iman dan ketaqwaan. Dengan taqwa kita bisa membangun peradaban gemilang. Dengan taqwa kita nggak terancam kelaparan.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi ….” (al-A’raf: 96).

Tapi dengan menggenggam uang, kita cuma bakal jadi budak keserakahan kaum industrialis yang kapitalistik. Kekayaan alam dan budaya kita bakal terus dijarah sampe kita jadi budak di negeri sendiri, kayak saat ini. Punya segalanya tapi apa-apa musti beli dan utang ke luar negeri. Naudzubillahi mindzalika. Musti kita indahkan wanti-wanti Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam yang udah sering banget diceramahkan para da’i di mimbar.

Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, “Hampir saja bangsa-bangsa berkumpul menyerang kalian sebagaimana mereka berkumpul untuk menyantap makanan dalam nampan. Seorang shahabat bertanya, “Apakah karena sedikitnya jumlah kami saat itu?” Jawab Rasul, “Bahkan saat itu jumlah kalian banyak, tapi kalian seperti buih di lautan. Sungguh, Allah benar-benar akan mencabut rasa takut di hati musuh kalian, dan sungguh, Allah benar-benar akan menghunjamkan pada hati kalian al-wahn.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah wahn itu?” Jawab beliau, “Cinta dunia dan takut mati.” (Hr. Abu Dawud dan Ahmad).

Jangan cuma didengerin, jadikan itu cermin kehidupan! Hadits itu bukan dongeng pengantar tidur. Ia peringatan biar kita selalu ingat dan waspada, biar nggak mudah ditipu setan, nggak lupa arah tujuan. Kita juga perlu baca kelanjutan ayat di atas. Yuk, perhatikan!

“…. Tetapi ternyata mereka medustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan.” (al-A’raf: 96).

Menjadikan materi sebagai tujuan aktivitas hidup termasuk bersekolah adalah bentuk nyata pengingkaran ayat-ayatNya. Wallahu a’lam. [IB]