(Panjimas.com) – Yerusalem adalah nama salah satu kota tertua di dunia. Letaknya di sebuah dataran tinggi di Pegunungan Yudea, di antara Laut Tengah dan Laut Mati. Kota ini dianggap suci oleh tiga agama: Islam, Kristen, dan Yahudi. Bangsa Arab menyebut kota penting ini al-Quds.

Arsitektur kota Yerusalem mengandung sejarah teologis, lho. Sejumlah situs sakral ada di sana. Kota ini dikapling jadi empat wilayah. Muslim, Yahudi, Kristen, dan Armenia. Karna bangsa Armenia mayoritas panganut Kristen, bisa deh disebut kalo kalangan Kristen punya dua wilayah di sana.

Wilayah yang terluas adalah Muslim punya. Di sana kita punya Masjid al-Aqsha, masjid paling afdhal ketiga di dunia setelah Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Udah masyhur banget kalo dari Masjid al-Aqsha-lah, dahulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di-mi’raj-kan ke langit ketujuh guna menerima syari’at shalat fardhu lima waktu.

Di wilayah Yahudi, pengikut yudaisme (agama Yahudi) punya situs sakral bernama Kotel atau Tembok Ratapan. Kaum Yahudi memercayai kalo lokasi itu dahulu adalah letak batu fondasi penciptaan bumi dan juga tempat Ibrahim bersiap mengorbankan Ismail. Saat ini, bagi kaum Yahudi, Tembok Ratapan dipercaya sebagai tempat paling tepat untuk mendekatkan diri kepada tuhannya.

Umat Kristen di Yerusalem punya situs sakral berupa gereja. Gereja yang dinamakan Gereja Makam Kudus itu dipercaya sebagai tempat di mana Yesus disalib, dimakamkan, dan dibangkitkan.

Gereja Makam Kudus dikelola bersama oleh sejumlah sekte Kristen di dunia. Ada Patriarkat Ortodok Yunani, Gereja Katolik Roma, Patriarkat Armenia, Ethiopia, Koptik, dan Gereja Ortodoks Suriah.

Keyakinan teologis manusia di dunia ini emang beraneka macam. Yang pasti, kita adalah Muslim. Kita yakin seratus persen kalo aqidah Islam-lah yang benar dan keyakinan yang berbeda adalah salah. So, sebagai penapak jalan yang benar, tentunya kita harus jadi yang terdepan dalam gerak langkah perbaikan dan pemajuan peradaban dunia. Bukan malah ikut-ikutan dan hanyut oleh polah tingkah penganut agama lainnya.

Wallahu a’lam. [IB]