(Panjimas.com) – Sampai sekarang masih menjadi tradisi bagi anak negeri untuk latah ikutan merayakan Valentine’s Day setiap tanggal 14 Februari yang mereka sendiri belum tentu tahu atau tidak mau tahu apa yang melatarbelakangi lahirnya hari itu. Era digital saat ini menjadikan kid jaman now semakin liar. Mereka teramat sangat disibukkan dengan berbagai aktifitas duniawi yang tanpa mereka sadari telah meracuni diri.

Jikalau kalian tahu sebenarnya hajatan Valentine’s Day ini sama sekali kagak nyambung dengan latar belakang sejarahnya. Nah,biar kalian agak sedikit tercerahkan akan saya tarik kembali ke masa lalu dimana St. Valentine dipancung oleh penguasa Roma. Konon kabarnya gegara dia memasukkan sebuah keluarga Romawi ke dalam agama Kristen. Peristiwa itu terjadi di kisaran tahun 273 Masehi. Berawal dari sinilah Valentine’s Day dirayakan untuk menghormati pengorbanan St. Valentine itu. Bahkan dalam versi yang lain, diceritakan bahwa orang-orang Romawi pada awalnya merayakan hari besar mereka yang jatuh pada tanggal 15 Februari yang diberi nama Lupercalia. Perayaan ini dilakukan sebagai wujud penghormatan kepada Juno (Tuhan  wanita dan perkawinan) serta  Pan (Tuhan dari alam ini) seperti apa yang mereka percayai. Tahu nggak apa yang mereka lakukan? Pria dan wanita berkumpul, kemudian saling memilih pasangannya lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi tanda sebelumnya (tukar kado). Selanjutnya? Hura-hura sampai pagi. Astaghfirullah.

Seiring waktu berlalu, upacara penghormatan terhadap berhala ini kemudian dipindahkan oleh pihak gereja (yang waktu itu dikuasai agama Kristen yang mulai menyebar di Romawi) menjadi tanggal 14 Februari. Bahkan tujuannya pun dibelokkan bukan lagi menghormati berhala akan tetapi untuk menghormati seorang pendeta Kristen yang tewas dihukum mati. Acaranya pun bukan disebut Lupercalia, tapi Valentine’s Day. Lebih parahnya lagi perayaan itu kemudian disebut hari kasih sayang sedunia. Duuuhhh,,,tambah runyam, kagak jelas dan semakin kagak nyambung juga kan?

Melihat fakta sejarahnya yang nyata-nyata bukan dari ajaran Islam, karena Valentine’s Day adalah produk peradaban Barat dengan paham sekulernya, yaitu memisahkan agama dari  kehidupan. Masihkah kalian ingin ikutan gabung untuk merayakannya?

Ingatlah akan firman Allah SWT dalam QS. Al Isra’ ayat 36 yang artinya :

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggung jawabannya.”

Begitu juga dengan firman Allah SWT dalam QS. Al Kahfi ayat 49 yang artinya :

“Dan diletakkanlah kitab (catatan amal), lalu engkau akan melihat orang yang berdosa merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ” Betapa celakanya kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak mendholimi seorang jua pun.”

Sudah nampak sangat mengerikan aktifitas Valentine’s Day yang dibalut dengan sebutan hari kasih sayang ternyata adalah perzinaan. Perayaan  ini biasa dilakukan oleh paramuda yang  tidak diikat tali pernikahan. Pastinya akan menghancurkan hidupmu wahai paramuda generasi bangsa. Na’udzubillah min dzalik.

Allah SWT telah memperingatkan dalam QS. Al Isra’ ayat 32 yang artinya :

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan yang keji, dan suatu perbuatan yang buruk.”

Dalam sebuah kaidah syara’ disebutkan bahwa, “Hukum asal dari perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syara’. ”

Jika kalian ingin melakukan suatu amal perbuatan maka ketahuilah hukumnya dulu bukan main samber aja. Banyaknya orang sedunia yang ikut merayakan Valentine’s Day bukan berarti bahwa kita sebagai seorang muslim legal juga untuk ikut merayakannya. Hal ini dikarenakan tolok ukur (standart perbuatan) seorang muslim bukan pada banyaknya orang yang melakukannya, akan tetapi harus dikembalikan lagi kepada syari’at Allah SWT.

Jangan jadi generasi baper (bawa perasaan) yang mudah goyah oleh godaan dunia yang akhirnya jatuh pada aktifitas kemaksiatan. Jadilah generasi baper (bawa perubahan), agent of change yang mampu mendobrak dunia dengan semangat perubahan agar syari’atNya terterapkan.[RN]

 

Penulis, Rindoe Arrayah

 

Pelajar Kehidupan