PANJIMAS.COM – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj meyebut bahwa penulisan kalimat tauhid pada bendera hukumnya makruh, bahkan haram.

“Tidak ada ulama yang menganggap baik menulis kalimat tauhid, Alquran di bendera. Siapapun. Bukan hanya HTI. Semuanya. tidak ada ulama yang anggap baik menulis kalimat tauhid di bendera karena takut kita tidak mampu menghormatinya,” kata Said Aqil saat konferensi pers yang diadakan di Gedung PB NU, Kramat Jakarta pada hari Rabu (24/10). (Baca: KH Said Aqil: Ulama Jelaskan Menulis Kalimat Tauhid di Bendera Itu Makruh)

Berbeda dengan Said Aqil, Pengurus MWC NU, Singosari, Malang, KH Luthfi Bashori Alwi mengungkapkan bahwa bendera Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu bertuliskan kalimat tauhid.

“Dalam bendera yang dikibarkan oleh Nabi Muhammad SAW itu bertuliskan Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasuulullaah,” kata KH Lutfhi Bashori dalam akun media sosial Facebook miliknya.

Pernyataan KH Luthfi Bashori sejalan dengan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بن رِشْدِين قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْغَفَّارِ بْنُ دَاوُدَ أَبُوْ صَالِحٍ الْحَرَّانِي قَالَ حَدَّثَنَا حَيَّانٌ بن عُبَيْدُ اللهِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُوْ مَجَازٍ بن حُمَيْدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : كَانَتْ رَايَةُ رَسُوْلِ اللهِ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

“Dari Ibnu Abbas mengatakan: “Bendera (pasukan) Rasulullah itu hitam dan panjinya itu putih yang bertuliskan di atasnya La Ilaha illa Allah Muhammadu Rasulullah” (HR. Thabrani).

Pengurus Komisi Fatwa MUI Malang itu juga mengemukakan dalil-dalil, bahwa  kalimat tauhid itu merupakan kalimat mulia.

Kalimat Laa ilaaha illallaah merupakan kunci Sorga sebagaimana sabda Rasulullah SAW

إذا سألك أهل اليمن عن مفتاح الجنة فقال لا إله إلا الله

“Apabila golongan yang menang bertanya kepadamu tentang kunci Sorga maka katakanlah “Laa ilaaha illallaah”

Termasuk harta dan darahnya telah diharamkan oleh Allah, serta hisabnya di akhirat kelak hanya terserah Allah bagi para pemuja Laa ilaaha illallaah, sebagimana sabda Rasulullah SAW

من قال لااله الاالله وكفر ما يعبد من دون الله حرم ماله ودمه وحسابه على الله

“Barang siapa yang berkata: Laa ilaaha illallaah (tidak ada Tuhan selain Allah) dan mengkufuri sesuatu yang dijadikan sesembahan, maka hartanya, darahnya dan hisabnya diharamkan oleh Allah.”  (HR. Bukhari).

Tubuhnya tidak akan disentuh oleh api Neraka

من شهد أن لا إله إلا الله مخلصا من قلبه لم تمسه النار

“Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah selain Allah, dengan tulus ikhlas dari hatinya, maka ia tidak akan disentuh oleh api Neraka.” (HR. Ahmad, Ibn Hibban, Abu Nu’aim).

Orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah akan dikeluarkan oleh Allah dari Neraka dan dimasukkan kedalam Sorga, sebagaimana dalam hadits Qudsi Allah berfirman :

وعزتي وجلالي لاخرجن من النار من قال لاإله إلا الله

“Dan kemuliaan dan keagungan-KU sungguh Aku akan keluarkan dari api Neraka orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah.” (Muttafqun Alih).

HANYA AHLI NERAKA DARI KALANGAN ORANG-ORANG KAFIR & KAUM MUNAFIQ SAJA YANG MEMBENCI KALIMAT TAUHID:

* لا اله الا الله ، محمد رسول الله *

LAA ILAAHA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH (SAW).

Terkait hal tersebut, KH Luthfi Bashor menegaskan bahwa wajib hukumnya mengagungkan syiar kalimat tauhid yang mulia itu.

“Menghormati syiar agama Allah hukumnya wajib. Salah satu syiar agama Allah adalah kalimat laa ilaaha illallaah Muhammad Rasuulullaah. Baik itu diucapkan dengan lisan maupun tertera dalam tulisan, baik itu di kertas atau di dinding atau di bendera dan lain sebagainya,” kata KH Luthfi Bashori kepada Panjimas.com, Sabtu (27/10/2018).

Hal itu sebagaimana firAman Allah Ta’ala dalam surat Al-Hajj ayat 32.

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. (QS. Al-Hajj: 32)

Sebaliknya, menghina, melecehkan, menistakan syiar dienul Islam, semisal kalimat thayyibah misalnya, adalah haram hukumnya. Bahkan pelakunya bisa jatuh dalam kemurtadan.

Ia mencontohkany, andai kata, ada orang yang dalam keadaan mabuk atau berzina, lantas dia mengucapkan bismillah dengan tujuan merendahkan kalimat basmallah, maka hukumnya adalah kafir. Dan basmallah itu termasuk dari syiar agama Allah.

Bahkan pembahasan tersebut bisa merujuk dalam kitab Raudhatuth Thalibin (10/67) yang ditulis oleh Imam Nawawi.

Maka sangat disayangkan bila syiar berupa bendera bertuliskan kalimat tauhid itu diperlakukan tak layak, dengan dibakar.

Apalagi, bila bendera, ikat kepala dan aksesoris sejenisnya yang bertulis kalimat tauhid itu bukan dalam kondisi tercecer atau jatuh di tanah, melainkan diambil dari seseorang yang tengah membawanya. [AW]