PANJIMAS.COM – Abu Dzar Al-Ghifari Radhiyallahu ‘anhu ialah nama kunyah dari Jundab Bin Junadah bin Sakan Al-Ghifari, salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Hari lahir shahabat yang satu ini tak diketahui secara pasti. Sejarah hanya mencatat bahwa ia lahir dan tumbuh di lingkungan Bani Ghifar, kabilah Arab Badui yang jauh dari peradaban kota.

Komunitas Bani Ghifar hidup di daerah pegunungan dekat jalur kafilah dagang Makkah-Suria. Kondisi sosial suku ini memprihatinkan, lekat dengan kekurangan, kelaparan dan keterbelakangan. Lebih memrihatinkannya lagi, kondisi tersebut mendorong penduduknya mengambil jalan pintas dalam mencari penghidupan, menjadi perampok. Di dunia luar, suku ini terkenal dengan kawanan-kawanan perampoknya yang nekat.

Dalam lingkungan kelam seperti itulah Jundab tumbuh. Setelah besar, ia pun lebur dengan lingkunganya, menjadi seorang perampok yang kejam. Namun, masa depan itu rahasia Allah Ta’ala. Tiada yang tahu pasti akan menjadi apa seseorang yang saat itu menjadi perampok yang kejam. Allah Ta’ala kuasa menurunkan hidayah kepada siapa saja yang dikehendakiNya.

Suatu ketika, Jundab tersadar bahwa selama ini ia telah menapaki jalan setan. Ia bertaubat dan mengajak kawan-kawannya mengikuti jejaknya. Namun ternyata langkah yang ia tempuh menyebabkan dirinya terusir dari kampung halamannya.

Bersama ibu dan adiknya yang seorang penyair, Unais Al-Ghifari, Jundab hijrah ke Najed Atas. Namun tidak lama mereka menetap di sana. Pemikirannya yang tak sesuai dengan mindset masyarakat setempat, menimbulkan terjadinya gesekan sosial. Hal itulah yang membuat mereka bertiga harus pergi.

Suatu hari terdengar oleh Jundab bahwa di Makkah ada seorang yang mengaku telah menerima wahyu Tuhan. Dalam suasana hati yang sedang mencari kebenaran, ia merasa penasaran. Diutuslah Unais untuk menelusuri berita tersebut.

Unais pun pergi ke Makkah guna mencari tahu tentang Sang Utusan. Setelah sekian waktu, ia kembali dan melaporkan hasil penyelidikannya kepada Jundab.

Sang kakak bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan?”

Jawab Unais, “Sungguh aku telah menemui seorang pria yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kejahatan.”

“Apa yang dikatakan orang-orang tentangnya?”

“Orang-orang bilang bahwa pria itu penyair, tukang tenung, dan tukang sihir. Tapi sungguh aku telah terbiasa mendengar perkataan tukang tenung, dan perkataan pria itu tidaklah serupa dengan mereka. Dan aku pun telah membandingkan omongannya dengan omongan para penyair. Ternyata ucapannya berbeda dengan bait-bait syair. Demi Allah, sesungguhnya dia adalah orang yang benar ucapannya, dan mereka yang mencercanya adalah dusta!”

Mendengar keterangan adiknya, rasa penasaran Jundab bertambah pekat. Ia ingin bertemu langsung dengan Sang Nabi. Segeralah dia berkemas dan berangkat ke Makkah. Sesampai di Makkah, ia singgah di Ka’bah hingga bekalnya habis.

Jundab sadar bahwa dirinya pendatang dan tidak punya kabilah pelindung di Makkah. Dia hanya diam menanti di Ka’bah. Karena bekalnya telah habis, dia hanya mengisi perut dengan air zam-zam. Ia memilih bersikap pasif karena tahu bahwa hampir seluruh penduduk Makkah memusuhi orang yang sedang dicarinya. Ia berlaku sangat hati-hati dalam menggali informasi, dan sungguh, ini merupakan pekerjaan yang rumit. Kondisi demikian berlangsung hingga satu bulan. Namun ajaibnya, walau tanpa asupan makanan sedikit pun, badan jundab menjadi lebih berisi dan tidak lunglai sama sekali. Inilah bukti keberkahan air zamzam.

Suatu hari saat Jundab berdiri di dekat Ka’bah, Ali bin Abi Thalib lewat dan menyapa, “Apa engkau pendatang?”

“Ya,” jawab Jundab.

“Mari ikut ke rumahku,” ajak Ali.

Mereka lalu melangkah menuju rumah Ali. Di sana Jundab mendapatkan jamuan, namun keduanya tak membicarakan perihal maksud lelaki Ghifar itu berada di Makkah. Ia pun langsung kembali ke Ka’bah setelah menikmati jamuan Ali.

Namun begitu, dari raut wajah tamunya tadi, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu melihat sebuah kepentingan yang sangat penting dan rahasia. Maka pada esok harinya, ia pergi ke Ka’bah dan menemui Jundab.

“Apakah hari ini anda akan kembali ke kampung?” tanya Ali.

“Belum,” jawab Jundab.

“Sebenarnya apa keperluanmu datang kemari?”

“Bila engkau berjanji akan merahasiakannya, aku akan menjawab pertanyaanmu.”

“Aku berjanji untuk menjaga rahasiamu.”

Dari raut wajah dan sikapnya, Jundab percaya bahwa lelaki di depannya mampu memegang janji. Dengan setengah berbisik ia mengatakan, “Telah sampai kepada kami berita tentang seorang Nabi.”

“Engkau serius?! Ikutilah ke mana aku berjalan dan masuklah ke rumah yang aku masuki. Dan bila aku melihat ada bahaya mengancammu, aku akan memberi syarat dengan berdiri mendekat ke tembok dan seolah-olah sedang membenahi alas kaki. Kalau hal itu kulakukan, segeralah pergi.”

Akhirnya Jundab mengikuti langkah Ali dengan jarak tertentu. Halangan yang dimungkinkan akan ada, ternyata tidak terjadi. Mereka berdua bisa sampai ke rumah di mana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan lancar.

Inilah saat yang lama dinantikan oleh Jundab. Ia berbicara secara berhadap-hadapan dengan Sang Nabi. Tanpa menunggu esok hari, pada saat itu juga ia menyatakan diri masuk Islam.

Setelah Nabi menuntun Jundab membaca syahadat, beliau berpesan, “Wahai Aba Dzar, sembunyikanlah keislamanmu dan pulanglah ke kampungmu. Lalu bila engkau mendengar kabar bahwa kami telah menang, datanglah kemari untuk bergabung dengan kami.”

Mendapat pesan demikian, Jundab si mantan perampok yang kemudian mendapat panggilan Abu Dzar ini berkata lantang di depan Rasulullah SAW, “Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh, aku akan berteriak di hadapan mereka bahwa diriku telah masuk Islam!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hanya diam.

Abu Dzar al-Ghifari, si mantan perampok yang baru saja masuk Islam segera melangkah menuju Ka’bah. Di tempat sakral itu tokoh-tokoh Quraisy sedang berkumpul. Tanpa segan dan sungkan, Abu Dzar berteriak dengan sekeras-kerasnya.

“Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya aku telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya!”

Menyaksikan aksi nekad lelaki Ghifar itu, pembesar Quraisy marah sejadi-jadinya. Ia menyeru, “Tangkap orang itu!”

Orang-orang pun sontak bangkit dan memukuli Abu Dzar sampai terkapar. Dalam situasi begini, tampillah seorang bernama Abbas datang melerai dan berkata, “Bagaimana kalian ini, apakah kalian akan membunuh seorang Bani Ghifar, padahal selama ini dalam berdagang dan berinteraksi dengan dunia luar, kalian melewati daerah kekuasaan mereka?!”

Orang-orang pun bubar meninggalkan Abu Dzar yang sedang tak berdaya. Tapi tanpa rasa sesal, ia mengulang kembali aksinya pada esok harinya. Dan ia pun kembali dikeroyok massa. Namun ajal memang belum saatnya menemuinya. Ia selamat, dan kembali ke kampung halamannya seperti dinasihatkan Rasulullah tempo hari.

Setibanya di kampung Bani Ghifar, ia rajin berdakwah. Mulanya kepada keluarganya. Unais dan ibunya, Ramlah bintu Al-Waqi’ah Al-Ghifariyah masuk Islam. Seiring berjalannya waktu, separuh Bani Ghifar menyatakan diri masuk Islam. Adapun separuhnya masuk Islam setelah terdengar kabar di kampung mereka bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah berhijrah ke Yatsrib meninggalkan Kota Makkah. Wallahu A’lam. [IB]