(Panjimas.com) – Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu mengayun langkah menuju rumah. Hatinya berkecamuk perasaan bersalah. Rakyat yang harus diayominya, dijamin kesejahteraannya, ternyata masih ada yang kekurangan dan terdorong melakukan kecurangan. Demi ingin memerbaiki ekonomi keluarga, wanita pedagang susu bermaksud menambah keuntungan dengan cara yang merugikan.

Pemimpin yang sadar akan tugas dan tanggung jawab akan teriris hatinya mendapati kenyataan seperti ini. Umar Sang Amirul Mukminin Sejati bergundah hati. “Aku harus mampu memberi solusi,” ucapnya di hati.

Di samping sedih mendengar fragmen non fiksi di rumah pedagang susu, sebenarnya membuncah pula perasaan bahagia di dadanya. Sang Khalifah sangat terharu dengan ucapan lugu anak gadis pedagang susu. “Sungguh, ia gadis shalihah,” ucapnya lagi dalam hati.

Sampai sudah Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu di rumahnya yang sederhana. Di sana ada Asim, putranya yang beranjak dewasa. Ia membayangkan keindahan dengan penuh harapan kepada Allah ta’ala: gadis penjual susu yang miskin harta tapi kaya hati tadi menjadi menantunya.

“Asim anakku,” panggilnya. Asim mendekati Sang Ayah. Umar lantas berkisah tentang peristiwa di rumah wanita pedagang susu. Ia lalu pengatakan keinginannya untuk mengambil si gadis sebagai menantu. Asim anak yang shalih. Tanpa banyak basa-basi ia setuju dengan maksud baik ayahnya. Ia yang putra pemimpin negara bersedia menikahi gadis dari keluarga miskin-jelata. Ekspresi keshalihahan yang muncul secara jujur seperti diceritakan ayahnya sudah cukup menjadi alasan Asim untuk memeristrinya.

Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu merasa lega dan bahagia. Ia merasa usahanya memberi solusi persoalan hidup rakyatnya diberi kemudahan oleh Allah ta’ala. Ia berharap Dia memberkahi langkah ini. Ucapnya, “Semoga Allah mengaruniai pasangan ini keturunan yang akan menjadi pemimpin kaum Muslim yang andal, yang akan memimpin bangsa Arab dan Ajam (non Arab).”

Singkat kisah, pernikahan Asim dengan putri pedagang susu dilangsungkan. Sekian waktu kemudian Allah ta’ala mengaruniai mereka putri yang diberi nama Laila. Putri cantik itu tumbuh dewasa dan dinikahi seorang lelaki shalih bernama Abdul Aziz bin Marwan dan dikaruniai putra yang diberi nama Umar. Umar bin Abdul Azis rahimahullah.

Siapa orang belum pernah mendengar nama Umar bin Abdul Aziz? Dunia Timur dan Barat mengenal dan mengakuinya sebagai pemimpin yang sangat adil dan bijaksana. Hingga kini sosoknya sering dibicarakan dan dijadikan model kepemimpinan. Karena kualitas kepemimpinannya, Khalifah Bani Umayyah yang berkuasa pada 717-720 Masehi ini digelari sebagai Umar ke-2. Ia pemimpin hebat seperti kakek buyutnya.

Benarlah Allah ta’ala telah mengijabahi doa Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Dan kita mafhum bahwa ternyata kegiatan ronda malam Sang Khalifah waktu itu tidak saja berguna di masanya, tetapi berkahnya terasa nyata sampai masa-masa setelahnya. Sungguh, ini hikmah besar bagi kita. Wallahu a’lam. [IB]