(Panjimas.com) – Ketidakmampuan ekonomi orang tua bukanlah dinding penghalang anak menjadi ulama. Andai pun dinding, ia dinding yang bisa dikikis hingga berlubang tembus, atau didaki-lompati. Seorang imam besar kaum Muslim sudah menunjukkan buktinya, ialah al-Imam al-Ghazali rahimahullah.

al-Imam al-Ghazali rahimahullah dilahir-besarkan di tengah keluarga tak berada soal harta. Ayahnya pemintal benang berpenghasilan pas-pasan. Hanya satu harta miliknya yang bisa diharapkan untuk masa depan: cita-cita tinggi nan mulia, putranya jadi seorang ulama.

Cita-cita. Harta tak wujud benda itulah yang Abu al-Ghazali punya. Bak butir emas di dasar sungai, takkan berguna ia selama tak diambil dengan ayakan. Sinergi batin keluarga rapi terjalin. Ghazali kecil tak tertarik kembang gula dunia, ia sangat terpesona pada ilmu agama. Ibarat ayakan ia mengangkat-pindahkan butir emas ke telapak tangan, cita-cita Sang Ayah terluluskan. Ushuluddin, ilmu mantiq, ushul fiqih, filsafat, pendapat empat Imam Mazhab, semua dikuasai al-Ghazali di kemudian hari.

Tentu saja, hasil gemilang ini terwujud melalui proses panjang. Jalan terjal berliku menjadi keniscayaan, tak ada yang instan. Ulama bukanlah makhluk yang jatuh dari langit, ia keluar dari bumi setelah melewati tahap demi tahap pertumbuhan. Tumbuh dari benih menjadi pohon berbuah matang butuh waktu dan kesabaran. Tak ada yang instan, ulama mewujud berkat perjuangan.

Ulama adalah pencerna ilmu yang Allah ta’ala wahyukan kepada RasulNya dan hamparkan di alam raya. Ilmu yang mahaluas itu akan mangkat pulang ke langit kala ajal Sang Pencerna tiba. Tapi Allah ta’ala telah menganugerahkan cara kepada mereka bagaimana agar ilmu tetap tinggal di alam fana dalam masa sangat lama usai si ulama meninggal dunia.

Mengikatnya, itulah cara agar ilmu tak pergi ke mana. al-Imam al-Ghazali rahimahullah telah mengikat ilmunya sebelum wafat. Mengikat ilmu adalah mencatat. Banyak karya literasi al-Ghazali yang masih terus dibaca, dipelajari, digali kedalamannya, dari masa ke masa, hingga kini. Mungkin hingga jelang kiamat nanti. Karya besarnya antara lain Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu Agama). Kitab yang ditulisnya dalam pengembaraan, berisi hikmah nan luas mendalam. Kitab yang hebat, tak saja menginspirasi bangsa Timur, tetapi juga Barat.

Siapkah kita mewujudkan al-Ghazali al-Ghazali baru? Ingat, keterbatasan finansial bukan penghalang yang tak bisa dilawan.

Wallahu a’lam. [IB]